Laporkan Masalah

PENGARUH FAKTOR INSTITUSIONALDAN SPASIAL PADA PEMBANGUNAN INDUSTRI MANUFAKTUR DI PROVINSI JAWA TENGAH

Abdul Aziz Ahmad, SE.,M.Si., Prof. Dr. Prasetyo Soepono, M.B.A., M.A; Prof. Dr. Wihana Kirana Jaya, M.Soc.Sc

2013 | Disertasi | S3 Ilmu Ekonomi dan Studi Pembangunan

Tujuan utama dari penelitian ini adalah untuk menganalisis faktor-faktor yang terdeteksi menyebabkan ketimpangan sektor manufaktur. Tujuan khususnya adalah untuk melakukan pengujian teoretis, teori New Institutional Economics dan New Economic Geography untuk diterapkan pada kasus empiris, menguji kebijakan ekonomi, memetakan potensi manufaktur, mendeteksi konvergensi manufaktur serta mendeteksi perubahan struktur di wilayah penelitian, Provinsi Jawa Tengah. Penelitian ini penting terkait dengan tiga hal, pertama adalah kesenjangan teoretis di mana arus utama ilmu ekonomi yang berlaku membatasi peran faktor institusional dalam perekonomian riil. Kedua terkait dengan kesenjangan kebijakan di mana realitasnya terdapat disparitas manufaktur yang disebabkan perbedaan kebijakan ekonomi. Ketiga adalah kesenjangan dalam metodologi di mana aspek perbedaan ruang dalam riset-riset mayoritas dianggap sebagai faktor implisit dalam analisis data lintas ruang. Hasil analisis empirik menunjukkan; pertama faktor institusional yang diukur memiliki pengaruh positif pada pembangunan manufaktur. Hal ini terdeteksi dari variabel kinerja birokrasi, kepastian hukum, etnolinguistik serta demokrasi berpengaruh positif dan signifikan terhadap pembangunan industri manufaktur di wilayah penelitian. Kedua, faktor geografi spasial yang terdiri dari variabel daya tarik kota, indeks lokasional, location quotient dan perbedaan lokasi berdasar administrasi kabupaten-kota terbukti memberikan dampak positif dan penting dalam pembangunan manufaktur. Ketiga, faktor kebijakan ekonomi untuk variabel finansial dan tenaga kerja berpengaruh positif dan signifikan, sementara variabel infrastruktur juga berdampak positif pada pembangunan manufaktur. Kajian empiris ini juga menemukan bahwa ketimpangan sektor manufaktur semakin menguat di wilayah penelitian. Sebaran basis manufaktur yang tidak berubah sepanjang periode waktu, adanya divergensi sektor manufaktur maupun deteksi adanya polarisasi wilayah dalam pembangunan manufaktur menjadi indikatornya. Di sisi lain, pembangunan sektor manufaktur juga terbukti memiliki pengaruh yang positif dan kuat pada pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat. Karena itu, berbagai kebijakan diperlukan untuk lebih mampu mendorong pembangunan sektor manufaktur, terutama bagi wilayah yang tertinggal sektor manufakturnya.

Main purpose of this research is to analyze several factors that are detected to bring on manufacturing disparities. Specific purposes of this research are to prove that theoretical framework, New Institutional Economics and New Economic Geography, can be applied to empirical case, to test effect of economic policy, to make manufacturing potency mapping, to detect the existence of manufacturing convergence, and also to detect structural change in Central Java Province. This research is important in three aspects, first is theoretical gap, where economics mainstream has been bounding the role of institution factors in economic performance. Second is related to policy gap that can be identified from manufacturing disparity in the real world. Third is methodological gap, where spatial heterogeneity was assumed implicit in majority of economic researches that apply cross-section data. Empirical results of this research show that first, institutional factors have positive effect on manufacturing development. It can be detected from bureaucracy financial performance, ethno linguistic, law and judiciary, and democracy that have positive and significant influence on manufacturing development in research location. Second, spatial geographic factor, including fascination of urban location, location index, location quotient, and difference type of administrative region (regency and city) variables are proven to effect manufacturing development changing positively and significant. Third, economic policy factors for financial and labor activity variables have positive and significant effect. Also, infrastructure has positive effect. This empirical research also finds out that disparities of manufacturing sector tends to increase in research location. Manufacturing base that is rigid for overall time of research, divergence of manufacturing sector and detection of regional polarization in manufacturing are the indicators. On the other side, manufacturing development is proven have strong effect on economic growth and welfare society. Thereby, appropriate policies should be implemented to push manufacturing development, particularly in assisted areas where manufacturing sectors are still lagging.

Kata Kunci : manufaktur, institusional, geografi, divergensi, polarisasi


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.