REPRESENTASI PERLAWANAN PRIBUMI MASA PERALIHAN ABAD KE-19 SAMPAI KE-20 DI HINDIA BELANDA DALAM NOVEL DE STILLE KRACHT (KARYA LOUIS COUPERUS) DAN BUMI MANUSIA (KARYA PRAMOEDYA ANANTA TOER)
Christina Dewi Tri Murwani, Prof. C. Soebakdi Soemanto, S.U.
2013 | Disertasi | S3 SastraPenelitian ini difokuskan pada karya sastra Indonesia (sastra pascakolonial) dan juga Hindia Belanda (sastra kolonial): Bumi Manusia (1980, Pramoedya Ananta Toer) dan De Stille Kracht (1900, Louis Couperus). Keduanya adalah karya pengarang besar pada masa hidup mereka; lewat kedua karya tersebut mereka telah merepresentasikan perlawanan pribumi masa peralihan abad ke-19 di Jawa terhadap penjajah. Penelitian ini bertujuan menemukan bentuk perlawanan tersebut dengan menggunakan teori pascakolonial, analisis struktural, dan perbandingan sastra. Terungkap dalam kedua novel bahwa perlawanan pribumi di Hindia Belanda ditunjukkan oleh manusia mimikri (bangsawan dan pejabat pribumi) yang memiliki akses memasuki ruang liminal, ruang “di antara†dua budaya. Mereka bermimikri hingga membentuk identitas yang berbeda dari aslinya, sama dengan yang ditirunya, tetapi tak sama persis. Manusia mimikri (Minke dan Nyai Ontosoroh, BM), melawan dan berkamuflase (keluarga Soenario, DSK). Manusia mimikri adalah manusia ‘berbahaya’ bagi otoritas kolonial secara mendalam karena kemiripan dan perlawanan yang dimilikinya. Dengan gaya tulisan berupa memoar, Minke (sebagai character-focalizer) melawan sistem kolonial dengan menolak kesempatan menjadi bupati, dan bersama Nyai Ontosoroh berjuang melawan ketidakadilan di pengadilan Putih. Dengan narasi oleh narator orang III, DSK mengungkapkan peringatan kepada pemerintah kolonial akan ancaman perlawanan Islam dan juga kisah perlawanan dengan menggunakan mistik/gunaguna. Dengan cara berbeda kedua karya sastra merepresentasikan bagaimana manusia mengalami kebenaran dan fakta tentang buruknya masa kolonial Hindia Belanda yang pernah menerapkan sistem apartheid, sebuah sistem yang tidak mengakui semua manusia memiliki harkat kemanusiaan yang sama sehingga mereka boleh diperlakukan berbeda.
This research is focused to an Indonesian literary work (postcolonial literature) and a Dutch Indies literary work (colonial literature): Bumi Manusia (1980, Pramoedya Ananta Toer) and De Stille Kracht (1900, Louis Couperus). Both are great authors in their countries, The Netherlands and Indonesia. They represented the native’s resistance in colonial life at the end of the 19 th century in Java. This research aims to find the form of the named resistance by using the postcolonial theory, structural analyse and comparing literature. I found out that the native’s resistance is showed by the mimic man (noble man and native civil servant), who entered the liminal space, ‘in-between’ space. They mimic the colonisator to create their new identity, which is different from their original one, just looks like the identity they imitate. The mimic people imitate and resist at the same time (Minke dan Nyai Ontosoroh, BM), they practice camouflage (Soenario family, DSK). The mimic people are ‘dangerous’ people manusia for the colonial authorities because of their resemblance and resistance. With the literary style of memoir, Minke as a character-focalizer resists toward colonial systeem : he rejects chance to be a regent and unjust law in the White-court. With the narration by narrator as a Third-person (narrator-focalizer), DSK reveals the narratee of warnings to the colonial government about threats of Islamic resistance and the story about native resistance by using mystic/magic. Both of these novels are using a different style, but they represent how mankind experiences the truth and facts about the cruelty of the colonial system in Dutch Indies; they applied ‘apartheid system’ and made a rasial settlement. This system didn’t recognize the equivalence of human dignity.
Kata Kunci : BM dan DSK, perlawanan pribumi, ruang liminal, pascakolonial, mimikri dan kamuflase.