PERTUMBUHAN DAN HASIL BENIH KEDELAI HITAM (Glycine max (L.) Merrill) ‘MALLIKA’ TUMPANGSARI DENGAN SORGUM MANIS (Sorghum bicolor (L.) Moench)
M ILHAM RA, Ir. Setyastuti Purwanti, M.P.
2013 | Skripsi | PEMULIAAN TANAMANTanaman kedelai hitam dan sorgum manis ditumpangsarikan dengan perbandingan baris yang berbeda untuk diamati pertumbuhan dan hasil benih kedelai hitam dari bulan Mei-September 2012 di Kebun Tridharma Banguntapan (KPB) Fakultas Pertanian UGM, Bantul, Yogyakarta, dengan ketinggian tempat ±100 meter di atas permukaan laut. Penelitian disusun dalam Rancangan Acak Kelompok Lengkap, dan untuk mengetahui perbedaan diantara perlakuan dilakukan dengan Uji Jarak Ganda Duncan (Duncan Multiple Range Test) pada tingkat kepercayaan 95%. Ukuran petak percobaan 4 x 7 m2, dengan 6 perlakuan dan 3 ulangan. Perlakuannya adalah: A (Tumpangsari dengan kombinasi baris 3 : 1), B (Tumpangsari dengan kombinasi baris 4 : 1), C (Tumpangsari dengan kombinasi baris 5 : 1), D (Tumpangsari dengan kombinasi 6 : 1), E (Monokultur kedelai hitam), dan F (Monokultur sorgum manis). Tujuan penelitian ini adalah mengetahui pertumbuhan, hasil, dan kualitas benih kedelai hitam yang ditanam secara tumpangsari dengan sorgum manis, dan menentukan jumlah baris tanaman kedelai hitam yang paling optimal pada pola tanam tumpangsari dengan sorgum manis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Penanaman kedelai hitam secara tumpangsari dengan sorgum manis (yaitu tumpangsari tipe A, B, C, dan D) menurunkan produksi biji kering per hektar jika dibandingkan dengan hasil biji kering kedelai hitam monokultur. Sorgum manis yang ditanam secara tumpangsari dengan kedelai hitam (yaitu tumpangsari tipe A, B, C, dan D) memberikan hasil biji kering per hektar yang sama besar dengan sorgum manis monokultur. Pola tanam tumpangsari kedelai hitamsorgum manis menentukan kualitas benih kedelai hitam yang dihasilkan dibandingkan dengan benih dari pola tanam monokultur, khususnya dari karakter vigor hipotetik benih. Pola tanam tumpangsari tipe A, B, C, dan D dapat direkomendasikan untuk diaplikasikan karena lebih menguntungkan dibandingkan dengan monokultur kedelai hitam maupun sorgum manis.
This research consisted of observing the growth and the seed yield in an intercropped field between black soybean and sweet sorghum in a different implantation lenght. The research conducted from May to September in year 2012, located in Kebun Tridharma Banguntapan (KPB) Faculty of Agriculture, Gadjah Mada University, Bantul, Yogyakarta, with an elevation ±100 meters above the sea current. The research conducted in Randomize Completely Block Design (RCBD) basis to learn a differentiated treatment on Duncan Multiple Range Test in 95 percent trust level. The size of the implantations slot was 4 x 7 m2, with six different treatment and replicated three times each. The treatment that were given was: A (intercropped with 3 : 1 row combination), B (intercropped with 4 : 1 row combination), C (intercropped with 5 : 1 row combination), D (intercropped with 6 : 1 row combination), E (monocultured black soybean), F (monocultured sweet sorghum). The purpose of this research was to learn the growth, the crops, and crops quality of black soybean intercropped with sweet sorghum, also to know optimum amount of row used in intercropping process. The outcome that resulted in this research proofed that intercropped black soybean fields (treatment A to D) produced lower dryseeds per acrerather than the monocultured one. Intercropped sweet sorghum field (treatment A, B, C, and D) produced the same result per acre as the monocultured one. Intercropping between black soybean and sweet sorghum determined the quality of black soybean compared to the quality of monocultured black soybean, especially the hypothetical vigor characteristic of the seed. The results of this research proposed to use treatment A, B, C, and D when using intercropping style.
Kata Kunci : tumpangsari, kedelai hitam, sorgum manis, jumlah baris tanaman