KAJIAN TEKNOLOGI PARIT BERBAHAN ORGANIK PADA PRODUKTIVITAS TUMPANGSARI JAGUNG (Zea mays L.) DENGAN KACANG HIJAU (Vigna radiata (L.) Wilczek) DI LAHAN KERING
JIAN MARDA PURNAMA, Prof. Dr. Ir. Tohari, M.Sc.
2013 | Skripsi | AGRONOMIPenelitian dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui kajian teknologi parit berbahan organik pada produktivitas tumpangsari jagung (Zea mays L.) dan kacang hijau (Vigna radiata (L.) Wilczek) di lahan kering. Penelitian ini merupakan penelitian lapangan yang dilaksanakan di lahan petani, Dusun Sidowayah, Kelurahan Wareng, Kecamatan Wonosari, Kabupaten Gunung Kidul, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta mulai bulan November 2010 sampai Februari 2011. Rancangan percobaan yang digunakan untuk tanaman jagung sebagai tanaman pokok adalah rancangan petak terbagi (split plot). Faktor pertama adalah sistem parit terdiri 3 taraf yaitu tanpa parit, parit + tanpa bahan organik, dan parit + bahan organik. Faktor kedua adalah sistem tanam yang terdiri 2 taraf yaitu monokultur dan tumpangsari dengan kacang hijau. Rancangan percobaan yang digunakan untuk tanaman kacang hijau sebagai tanaman pendukung adalah rancangan acak kelompok lengkap (RCBD) yang terdiri dari 3 perlakuan yaitu tanpa parit + tanpa bahan organik, parit + tanpa bahan organik, dan parit + bahan organik. Data yang diperoleh dianalisis dengan sidik ragam ï¡ = 5 %, apabila terdapat beda nyata antar perlakuan maka dilanjutkan dengan Duncan Multiple Range Test (DMRT) ï¡ = 5 %. Hasil penelitian menunjukkan pada tanaman pokok terjadi interaksi antar perlakuan parit dengan sistem tanam berpengaruh nyata terhadap luas daun dan indeks luas daun umur 4; 6; 8; 12 mst, bobot 100 biji, bobot biji per plot percobaan, dan bobot biji per hektar. Parit berbahan organik meningkatkan hasil biji per hektar sebesar 31,95 % dibandingkan perlakuan tanpa parit + tanpa bahan organik. Sistem tanam tumpangsari meningkatkan hasil sebesar 6,42 %. Pada tanaman pendukung perlakuan parit berbahan organik meningkatkan hasil sebesar 35,7 % perlakuan tanpa parit + tanpa bahan organik. Nisbah setaraan lahan (NSL) pada sistem tumpangsari dengan perlakuan parit tanpa bahan organik dan sistem tumpangsari dengan perlakuan parit berbahan organik menunjukkan nilai tertinggi yaitu 1,88 dan 1,90 dibandingkan perlakuan lain.
The research was conducted to reveal study of furrow with organic matter technology on the productivity of the intercropping of corn (Zea mays L.) with mungbean (Vigna radiata (L.) Wilczek) on dry land condition. This research was a field study that had been carried out at the farmers’ fields at Sidowayah, Wareng, Wonosari District, Gunung Kidul Regency, The Province of Yogyakarta Special Territory within November of 2010 to February of 2011. The experimental design applied of corn as main crop the split plot design. The first factor was the furrow system of treatment consisting of 3 levels i.e. without furrow + without organic matters, furrow + without organic matters, and furrow + organic matters. The second factors was the cropping system of treatment consisting of 3 levels, i.e. monoculture and cropping system with mungbean. The experimental design applied of mungbean as secondary crop the randomize completely block design. The collected data then were analyzed by means of analysis of variance (Anova) applying level of significance ï¡ = 5%. Whenever the significant differences among treatments were found, further analysis was carried out by applying a Duncan Multiple Range Test (DMRT) of ï¡ = 5%. The results showed on main crop that the interaction between the furrow system with cropping system significantly affected leaf area and leaf area index 4; 6; 8; 12 weeks after the planting (wap), 100 seed of weight, seed weight per plot experiment, the weight of seed per hectare. The furrow system with organic matters sinking increased grain yield for 31.95 % per hectare–it was compared to treatment without the furrow + without organic matters. Cropping system with mungbean increased grain yield for 6.42 % per hectare in comparison to treatment monoculture. The results showed on seconder crop the furrow system with organic matters sinking increased grain yield for 35.7 % per hectare. The LER of with as cropping sytem the furrow system without organic matters and as cropping sytem the furrow system with organic matters sinking the highest values showed i.e. 1,88 and 1,90 in comparison to other treatment.
Kata Kunci : Bahan organik, jagung, kacang hijau, lahan kering, parit, tumpangsari