ETNOBOTANI PUSPA, SALAM, DAN GAYAM DI LERENG SELATAN MERAPI (STUDI KASUS DUSUN PLOSOREJO DAN PLOSOKEREP CANGKRINGAN, SLEMAN)
HAPSARI SEKAR H, Ir. Dwi Tyaningsih Adriyanti, M.P.
2013 | Skripsi | BUDIDAYA HUTANEtnobotani merupakan cabang ilmu biologi yang mempelajari tentang hubungan manusia dengan tumbuhan yang dipengaruhi oleh perilaku sosial dan budaya. Taman Nasional Gunung Merapi memiliki fungsi salah satunya sebagai perlindungan ekosistem. Pasca erupsi Gunung Merapi tahun 2010 fungsi ekositem tersebut mengalami kemunduran. Dalam rangka mengembalikan fungsi tersebut, Kementrian Kehutanan dengan pihak TNGM membangun plot restorasi dengan menggunakan jenis yang diantaranya adalah Puspa, Salam, dan Gayam. Adanya rencana perluasan kawasan restorasi memunculkan ide untuk mengetahui seberapa besar pengetahuan serta pemanfaatan yang pernah dilakukan masyarakat terhadap Puspa, Salam, dan Gayam. Metode penelitian ini menggunakan metode etnografi untuk mengungkapkan pengetahuan masyarakat melalui penelitian di lapangan. Penelitian dilakukan secara observasi partisipatif dengan berinteraksi langsung dalam kegiatan sehari-hari masyarakat Dusun Plosorejo dan Plosokerep, Kabupaten Sleman. Masyarakat distratifikasi berdasarkan pekerjaannya dengan menggunakan IS sebesar 50%. Data didapatkan melalui wawancara dengan panduan kuesioner. Data hasil wawancara dianalisis secara deskriptif kuantitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebesar 9% masyarakat pernah memanfaatkan Puspa, 100% memanfaatkan Salam, dan 18 % pernah memanfaatkan Gayam. Berdasarkan stratifikasi pekerjaan, pekerjaan yang paling banyak pernah memanfaatkan Puspa, Salam, dan Gayam yakni dari golongan wirausaha, petani, dan buruh. Pemanfaatan Puspa yang paling banyak digunakan oleh masyarakat yaitu sebagai bahan bangunan dan arang. Sementara Salam digunakan daunnya sebagai bahan penyedap masakan dan obat-obatan. Biji Gayam dimanfaatkan sebagai bahan makanan.
Ethnobotany is a branch science of biology which studies about the correlation of humans and plants which influenced by social and culture behaviour. Merapi Mountain National Park has several purposes, one of them is as an ecosystem protection. Post eruption on 2010 has resulted on deterioriation of its function. In order to restore the purpose as the ecosystem protection, Forestry Ministry and national park officer has established restoration plot using several plant species such as Puspa, Salam, and Gayam. The expansion plan of the restoration area has created the idea to explore the society knowledge and utilization of Puspa, Salam, and Gayam. This research method was using the etnographic method to revealed the society knowledge through research on the field. The research was conducted with paticipatory observation method by direct interaction in society daily activity on Plosorejo and Plosokerep Orchard, Sleman District. The society was stratified based on their occupation using the Sampling Intensity by 50%. Data were obtained by interview using the questionnaire. The result data was analyzed with descriptive quantitative. The result of this research showed that 9% of society has utilized Puspa, 100% has utilized Salam, and 18% has utilized Gayam. Based on the occupation stratification, entrepreneur, peasant, and labor are the most percentage that has used Puspa, Salam, and Gayam. Puspa has been used by the society for building material and charcoal. Meanwhile, Salam has been used for cooking and medicines. The Gayam seed also has been utilized for food.
Kata Kunci : Pemanfaatan tumbuhan, persepsi, budaya, restorasi Gunung Merapi