KAJIAN PENGELOLAAN LAHAN SUBDAS SECANG, KULONPROGO, YOGYAKARTA
JONATHAN REZA P, Prof. Dr.Suratman Worosuprojo, M.Sc.
2013 | Skripsi | GEOGRAFI DAN ILMU LINGKUNGANPenelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi kemampuan lahan, menyusun arahan penggunaan lahan dan mengkaji pengelolaan lahan SubDAS Secang. Terpilihnya SubDAS Secang menjadi daerah penelitian karena kondisi topografi daerah yang tersusun dari konfigurasi bentuklahan asal proses struktural, denudasional dan fluvial serta memiliki pembagian zona DAS berupa hulu, tengah dan hilir. Metode yang digunakan dalam penelitian adalah sampel area terpilih pada 48 satuan lahan. Pengelolaan lahan SubDAS Secang menggunakan pendekatan evaluasi kemampuan lahan dan arahan penggunaan lahan. Analisis kemampuan lahan menggunakan metode pencocokan antara karakteristik satuan lahan dengan kriteria kelas kemampuan lahan. Satuan lahan yang terbentuk oleh tumpang susun bentuklahan, lereng, penggunaan lahan dan tanah yang ditentukan karakteristik satuan lahan dari survei lapangan dan analisis laboratorium. Analisis arahan penggunaan lahan ditentukan berdasarkan pembobotan kemiringan lereng, kepekaan tanah terhadap erosi dan curah hujan harian rata-rata. Penelitian menunjukkan bahwa kemampuan lahan SubDAS Secang terdiri atas kelas lahan I seluas 187 ha atau 5%, kelas lahan II seluas 147 ha atau 3,9%, kelas lahan III seluas 515,2 ha atau 13,7%, kelas lahan IV seluas 1522,7 ha atau 40,6%, kelas lahan V seluas 7,3 ha atau 0,2% dan kelas lahan VI seluas 1223,2 ha atau 32,6%. Arahan penggunaan lahan SubDAS Secang berupa pertanian lahan basah seluas 326,85 ha atau 8,71%, kawasan permukiman dan budidaya tanaman semusim seluas 200,55 ha atau 5,35%, kawasan budidaya tanaman lahan kering atau tegalan seluas 525,81 ha atau 14,02%, kawasan budidaya tanaman keras atau tahunan seluas 1981,31 ha atau 52,82%, kawasan penyangga seluas 716,54 ha atau 19,10%. Pengelolaan lahan di SubDAS Secang memberikan pedoman pemanfaatan lahan; daerah hilir sebagai daerah pemanfaatan berupa pertanian irigasi, permukiman, peternakan serta pembudidayaan tanaman semusim dan lahan kering atau tegalan; daerah tengah diperuntukan permukiman, pembudidayaan tanaman lahan kering atau tegalan, agroforestri dan hutan penyangga; serta daerah hulu sebagai daerah imbuhan diperuntukan hutan penyangga, waduk, agroforestri, suaka margasatwa, perlindungan mata air dan pembudidayaan tanaman lahan kering atau tegalan.
The aims of this research are to evaluate land capability, to arrange land use direction and to research land management in Secang Sub Watershed. The selection of Secang Sub Watershed as an object of the study is that the area topography landform composed of configuration process denudational, structural, fluvial origin landform and it has the zoning in the form of lower zone, middle zone and upper zone. The method used in this research is purposive area sampling at 48 land units. The land management of Secang Sub Watershed was used approach of land capability evaluation and land use direction. The analysis of land capability use macthing method between land unit characteristic and land capability class criteria. The land unit formed by the overlay from landform, slope, land use and soil which were determined by the land unit characteristics taken from field survey and laboratory analysis. The analyis of land use direction was determined by slope scoring, soil erodibility and avarage daily rainfall. This research has shown that the land capability of Secang Sub Watershed consisted of land class I at 187 ha or 5%, land class II at147 ha or 3,9%, land class III at 515,2 ha or 13,7%, land class IV at 1522,7 ha or 40,6%, land class V at 7,3 ha or 0,2% and land class VI at 1223,2 ha or 32,6%. The land use direction of Secang Sub Watershed was in the form of wetland agriculture at 326,85 ha or 8,71%, settlement and annual crop cultivation area at 200,55 ha or 5,35%, dry land crop cultivation area at 525,81 ha or 14,02%, perennial crop cultivation area at 1981,31 ha or 52,82% and buffer zone at 716,54 ha or 19,10%. The land management in Secang Sub Watershed gives land utilization orientation shows that: lower zone as discharge area in the form of irrigation agriculture, settlement area, livestock, annual crop cultivation and dry land crop cultivation. The middle zone was used for settlement, dry land crop cultivation, agroforestry and buffer forest. The upper zone as recharge area for buffer forest, reservoir, agroforestry, preserve, spring protection and dry land crop cultivation.
Kata Kunci : satuan lahan, kemampuan lahan, arahan penggunaan lahan, pengelolaan lahan