EVALUASI KETERSEDIAAN OBAT ESENSIAL UNTUK ANAK DI INSTALASI FARMASI DINAS KESEHATAN KABUPATEN/KOTA DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA
Eugenia Vivi Mayang Sari, Prof.Dr. Dra. Sri Suryawati, Apt
2013 | Tesis | S2 Ilmu Kesehatan MasyarakatLatar belakang. Salah satu upaya badan kesehatan dunia WHO untuk menekan kematian anak adalah dengan meluncurkan proyek global dengan tema Make Medicines Child Size. Proyek global ini bertujuan adalah agar anak-anak di seluruh dunia mendapatkan obat yang tepat, dan langkah terakhir proyek ini adalah agar obat tersebut tersedia dan bisa digunakan oleh anak-anak. Upaya pemerintah Indonesia untuk menekan kematian anak yaitu meningkatkan ketersediaan obat dan alat/sarana yang esensial. Pemerintah Indonesia telah memberikan perhatian khusus kepada anak-anak, ini dibuktikan dengan diterbitkannya Daftar Obat Esensial Nasional (DOEN) pada tahun 2011. Metode penelitian. Metode deskriptif analitik dengan metode pengumpulan data secara prospektif. Data diperoleh dari observasi dan wawancara mendalam di Instalasi Farmasi Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota Daerah Istimewa Yogyakarta. Hasil penelitian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ketersediaan obat dengan dengan formulasi anak di Instalasi Farmasi Kabupaten/Kota Daerah Istimewa Yogyakarta berada di antara 49%-56%, yaitu Bantul 54%, Gunungkidul 49%, Kulonprogo 56%, Sleman 51%, dan Yogyakarta 49%. Meskipun proses seleksi, pengadaan, dan pengelolaan stok telah mendukung ketersediaan obat dengan formulasi anak, namun kebijakan dan pembiayaan di instalasi farmasi kabupaten/kota belum memprioritaskan kepentingan penyediaan obat esensial dengan formulasi anak. Kesimpulan. Ketersediaan obat dengan formulasi anak di Instalasi Farmasi Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota masih rendah yaitu dibawah 56%. Faktor-faktor yang mempengaruhi penyediaan obat di masing-masing Instalasi Farmasi Kabupaten/Kota bervariasi, meliputi kebijakan, pembiayaan, seleksi obat, pengadaan obat, pengelolaan stok, penggunaan obat, pemastian mutu produk, pengelolaan administrasi, monitoring, dan sistem informasi manajemen yang belum memprioritaskan kepentingan penyediaan obat esensial dengan formulasi anak. Dari 10 faktor tersebut, kebijakan dan pembiayan merupakan dua faktor penting yang mempengaruhi tidak tersedianya obat esensial dengan formulasi anak di tiap instalasi farmasi kabupaten/kota.
Background. One of World Health Organization (WHO) programs in reducing child mortality is Make Medicines Child Size. The aim is to ensure children receive appropriate medicines and the ultimate goal is medicines are available for children in appropriate dosage forms. The Indonesian Government has conducted various effort to achieve the goals. One of them is enclosing pediatric formulas to the National Essential Medicine List 2011. Methods. This was a descriptive analytical study with prospective data collections. Information on availability and factors influencing the availability are collected by means of observation and in-depth interviews Results. The results show that the availability of essential medicines with pediatric formulas ranges between 49%-56%, i.e., Bantul 54%, Gunungkidul 49%, Kulonprogo 56%, Sleman 51%, and Yogyakarta 49%. Although there are selection process, procurement, and stock management which look into the availability of pediatric formulation, it is revealed that there is no regency /municipality policy and budget allocation to supporting such concern. Conclusion. The availability formulation of essential medicines for children is low, i.e.,56% at all Regency/Municipality. Factors influencing the availability vary among Regency/Municipality, including inadequate policy, financing, drug selection, drug procurement and stock management, drug usage, product quality, administration management, monitoring and management information system. The first two factors are the most prominent in all Regency/Municipality.
Kata Kunci : Formulasi anak, DOEN, Instalasi Farmasi Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota, Ketersediaan Obat, Obat esensial untuk anak.