REALISASI KELUHAN OLEH PEMBELAJAR ASING BAHASA INDONESIA: KAJIAN PRAGMATIK BAHASA ANTARA (INTERLANGUAGE PRAGMATICS)
NANANG ZUBAIDI, Dr. Franciscus Xaverius Nadar, M.A.,
2013 | Tesis | S2 LinguistikPragmatik bahasa antara (PBA) merupakan gabungan ilmu pragmatik dan pemerolehan bahasa kedua. PBA mengkaji penggunaan bahasa kedua atau bahasa asing dan hubungan antara bentuk bahasa dalam B2 dan penggunanya. Agar dapat berkomunikasi dengan baik, peserta tutur harus menguasai kompetensi pragmatik dan sosiobudaya bahasa yang digunakan. Dalam komunikasi lintas budaya, ketidaktepatan dalam menyampaikan keluhan mungkin dapat menyebabkan kesalahpahaman dan masalah komunikasi yang serius. Selain itu, peserta tutur harus pula memahami norma-norma sosiopragmatik karena sebagian norma sosiopragmatik dalam satu budaya mungkin berbeda dengan budaya lain. Penelitian ini merupakan suatu upaya untuk mendeskripsikan kompetensi pragmatik dan sosiolinguistik pembelajar asing BI dalam memproduksi tindak tutur keluhan dalam bahasa Indonesia (BI), faktor-faktor sosial yang mempengaruhi realisasi keluhan, dan hubungannya dengan kesopanan berbahasa. Tindak tutur keluhan merupakan topik yang menarik untuk didiskusikan karena termasuk tindak mengancam muka (TMK) yang masih agak jarang diteliti. Data sejumlah 221 set data keluhan dikumpulkan dari 21 mahasiswa pembelajar asing BI di tingkat universitas di Amerika Serikat dan Indonesia menggunakan tes melengkapi wacana (TMW). Pembelajar asing BI mengisi kuesioner secara online berisi 15 skenario yang didesain oleh peneliti untuk menghasilkan tuturan keluhan. Analisis data dilakukan secara kualitatif dan kuantitatif. Analisis kuantitatif dilakukan dengan cara memeriksa distribusi data dan menghitung nilai mean dan modus untuk mengetahui frekuensi realisasi keluhan, strategi keluhan, dan hubungan antara keluhan dengan faktor sosial. Analisis data kualitatif dilakukan dengan cara mendeskripsikan secara mendalam tipe strategi tindak tutur keluhan, realisasi strategi kesopanan negatif, dan hubungan keluhan dengan faktor-faktor sosial. Teori yang digunakan dalam studi ini diantaranya adalah teori klasifikasi strategi keluhan Trosborg (1995), teori strategi kesopanan negatif Brown & Levinson (1987), dan teori konstruksi kalimat dalam BI. Temuan data menunjukkan bahwa pembelajar asing BI merealisasikan keluhan dengan kombinasi satu hingga enam jenis tindak tutur, dengan preferensi sebagai berikut: 1) keluhan dengan kombinasi dua macam tidak tutur (43.89%), 2) keluhan dengan kombinasi tiga macam tindak tutur, 3) keluhan dengan satu macam tindak tutur (15.84%), 4) keluhan dengan kombinasi empat macam tindak tutur (9.50%), 5) keluhan dengan kombinasi lima macam tindak tutur (0.90%), dan 6) keluhan dengan kombinasi enam macam tindak tutur (0.45%). Jenis tindak tutur yang paling sering digunakan oleh pembelajar asing BI dalam menyatakan keluhan dalam BI meliputi tindak tutur permintaan, pernyataan, pertanyaan, dan permohonan maaf. Prioritas pilihan strategi keluhan yang digunakan oleh pembelajar asing BI dalam merealisasikan keluhan dalam BI terdiri atas: 1) isyarat (28.96%), 2) tuduhan langsung (23.53%), 3) tuduhan tidak langsung (14.03%), 4) konsekuensi buruk (9.95%), 5) hukuman eksplisit terhadap tindakan pihak yang mendapat keluhan (8.14%), 6) hukuman eksplisit terhadap pihak yang mendapat keluhan sebagai persona (7.69%), 7) celaan termodifikasi (5.43%), dan 8) kejengkelan (2.26%). Dalam data juga ditemukan penggunaan strategi kesopanan negatif tidak langsunglah secara konvensional yang signifikan terhadap mitra tutur yang memiliki jarak sosial jauh (-JS) dan tingkat pembebanan rendah (-TP). Selain itu, pembelajar asing BI menunjukkan kepekaan terhadap status sosial (SS) mitra tutur, jarak sosial (JS) mitra tutur, dan tingkat pembebanan (TP) dalam keluhan; dan mempergunakan informasi tersebut untuk memproduksi keluhan yang sesuai dengan kondisi MT. Selain itu, faktor SS, JS, dan TP memiliki pengaruh yang kuat terhadap pilihan strategi keluhan oleh pembelajar asing BI. Temuan dalam studi ini menunjukkan bahwa semakin tinggi status sosial (SS) mitra tutur dan tingkat pembebanan dalam keluhan, semakin tersirat (implisit) keluhan. Sementara itu, semakin dekat jarak sosial, semakin tersurat (eksplisit) keluhan.
Interlanguage pragmatics (PBA) is a combination of pragmatics and second language acquisition. PBA focuses on the use of second or foreign language and the relationship between second language (L2) form and its users. To be able to communicate well, speakers should have a pragmatic and sociocultural competence of the language spoken. Misunderstanding pragmatic and sociocultural rules of a language may lead to serious communication problems. Therefore, understanding sociopragmatic norms of a particular target language is necessary for language learners. This study aims at describing the pragmatic and sociolinguistic competence of Foreign learners of Indonesian language (BI) in producing speech acts of complaint in BI; social factors which influence the realization of a complaint; and relationship between complaint and language politeness. The speech act of complaint is an interesting topic because it is one of face threatening acts rarely described. 221 complaint data sets were collected from 21 foreign learners of BI at the university level in the United States and Indonesia using online discourse completition task (DCT). The online questionnaire contains 15 scenarios designed by the the researcher to produce speech act of complaint. The data were analyzed using qualitative and quantitative analysis. Quantitative analysis involves examining the distribution of the data and calculating the frequency of the data, complaint strategies, and the relationship between complaint and sociopragmatic factors. Qualitative data analysis involves describing the type of complaint strategies, the realization of negative politeness strategies, and the relationship between complaints and social factors. Theories used in this study include Trosborg's (1995) complaint strategy classification, Brown & Levinson's (1987) negative politeness strategy theory, and sentence construction theory. The study revealed that foreign learners of Indonesian express the speech acts of complaint using combination of one to six speech acts, using the following preference: 1) complaint using a combination of two types of speech acts (43.89%), 2) complaint using a combination of three types of speech acts, 3) complaint using a combination of three types of speech acts (15.84%), 4) complaint using a combination of four types of speech acts (9.50%), 5) complaint using a combination of five types of speech acts (0.90%), dan 6) complaint using a combination of six types of speech acts (0.45%). Among speech acts frequently used by foreign learners of Indonesian in their complaint are asking, stating, questioning, and apology. Foreign learners of Indonesian's preferred to complain using the following preferred strategies: 1) hints (28.96%), 2) direct accusation (23.53%), 3) indirect accusation (14.03%), 4) ill consequence (9.95%), 5) explicit condemnation of the accused’s action (8.14%), 6) Explicit condemnation of the accused as a person (7.69%), 7) modified blame (5.43%), and 8) annoyance (2.26%). The findings also indicate that foreign learners of Indonesian use negative politeness strategy: be conventionally indirect significantly in complaints addressed to the hearers who have distant social distance (-JS) and low degree of imposition (-TP). Moreover, foreign learners of Indonesian show sensitivity to the hearer's social status (SS), social distance (JS), and degree of imposition (TP) in the complaint; and are able to use that information to express complaints that are appropriate with the hearer's condition. Another implication which can be taken from this study is that SS, JS, and TP factors have a strong influence on the choice of complaint strategy by foreign learners of Indonesian. The data revealed that the higher the hearer's social status (SS) and the degree of imposition (TP) in a complaint, the more implied a complaint. In addition, the closer social distance between the speaker and the hearer (JS), the more explicit a complaint.
Kata Kunci : pragmatik bahasa antara, realisasi keluhan, pembelajar asing bahasa Indonesia, strategi keluhan, strategi menjadi tidak langsung secara konvensional, faktor sosial