EVALUASI RISIKO BANJIR SUBDAS BENGAWAN SOLO HULU TAHUN 2007 PADA DAERAH PERTANIAN DI KABUPATEN SUKOHARJO, KLATEN, DAN KOTA SURAKARTA, JAWA TENGAH DENGAN TEKNIK PENGINDERAAN JAUH
Andi Renata Ade Yudono, Dr. Sunarto, M.S.,
2013 | Tesis | S2 Geo-Informasi untuk Manajemen BencanaBanjir yang sering terjadi di sekitar Bengawan Solo bukan hanya terjadi akibat penambahan debit tersebut, akan tetapi juga terdapat faktor-faktor fisik lain yang mendorong terjadinya banjir, seperti curah hujan, kemiringan lereng, penggunaan lahan, bentuk lahan, dan kelembapan tanah. Banjir besar yang pernah terjadi dalam jangka waktu 10 tahun terakhir, terjadi pada tahun 2007, kerugiannya diperkirakan mencapai + Rp 30.000.000.000,00. Tujuan dari penelitian ini adalah (1) membuat zona potensi banjir; (2) menginventarisasi daerah penelitian yang terletak di zona rentan banjir; (3) menghitung kerugian yang didapat apabila terkena bencana alam banjir; dan (4) mengevaluasi tingkat risiko banjir. etode yang digunakan dalam tahap pelaksanaan pada penelitian ini adalah metode observasi, M wawancara, dan penginderaan jauh; sedangkan dalam tahap penyelesaian(analisis) menggunakan metode pengharkatan dan pembobotan. Dalam penelitian ada 2 (dua) macam hasil wawancara, yaitu peta kerentanan banjir yang telah terjadi di daerah penelitian (tahun 2007) dan standar nilai (harga) yang akan digunakan untuk menentukan kerugian. Untuk penginderaan jauh, teknik ini menggunakan Citra IKONOS dan Citra LANDSAT. Citra IKONOS digunakan untuk pembuatan peta penggunaan lahan. Citra LANDSAT digunakan untuk menentukan bentuk lahan dan kelembapan tanah. Dalam pembuatan peta kelembapan tanah, digunakan metode Teassaled Cap (TC) pada citra LANDSAT. Pada daerah penelitian, didapatkan bahwa ada 2 (dua) macam zona (peta) kerentanan banjir, antara lain kerentanan banjir tentatif (sedang, tinggi, dan sangat tinggi) dan kerentanan banjir akhir (rendah, sedang, tinggi, dan sangat tingi). Berdasarkan dari data kerentanan banjir akhir yang ditumpangsusunkan dengan nilai produktivitas lahan, maka didapatkan tingkat risiko banjir. Pada daerah penelitian, ada tiga tingkat risiko terhadap banjir, yaitu tingkat rendah, sedang, dan tinggi. Pada tingkat risiko sedang, kecamatan yang paling besar ada pada tingkat tersebut adalah Kecamatan Grogol, Kabupaten Sukoharjo, dengan luas + 1.710.129,37 m 2 . Tingkat risiko tinggi, kecamatan yang paling besar adalah Kecamatan Sukoharjo, Kabupaten Sukoharjo, dengan luas + 30.232.470,4 m 2 . Untuk kerugian yang paling tinggi pada daerah dengan tingkat risiko tinggi adalah pada jenis penggunaan lahan sawah di Kecamatan Sukoharjo, Kabupaten Sukoharjo, sebesar Rp 82.452.190.000,00. Kerugian yang paling tinggi pada daerah berisiko sedang, terdapat di jenis penggunaan lahan kebun/tegal, yang terdapat di Kecamatan Grogol, Kabupaten Sukoharjo sebesar Rp 3.420.260.000,00. Kerugian-kerugian yang akan didapatkan oleh Kabupaten Sukoharjo disebabkan oleh beberapa faktor, seperti Topografi yang berupa dataran, kelembapan tanah yang tinggi dikarenakan penggunaan lahan yang sebagian besar berupa sawah, dan juga bentuk lahan yang berupa dataran aluvial juga dataran banjir.
Frequent flooding Solo River around the river is not just due to the addition of the discharge, but there are also other factors that led to the floods, including rainfall, slope, land use, land form and soil moisture. The location of this research is in two regency and one city, there are Sukoharjo regency, Klaten regency, and Surakarta city. All of those locations are location that is food centre for surrounding area. Over the last 10 years in those areas, there were a flood that made an amount of loss around Rp 30.000.000.000,00. The purpose of this study was (1) making a flood prone zone, (2) inventories of areas located in flood-prone zones, (3) calculating the loss when exposed to natural disasters flooding, and (4) evaluating the level of flood risk. , there are The method used in the implementation phase of this research is the method of observation, interviews, and remote sensing, while the finalizing (analysis) using scoring and weighting. In study 2 (two) result types of interviews, the flood vulnerability maps that have occurred in the area of research and the standard value (price) which will be used to determine the loss. For remote sensing techniques, this technique use IKONOS imagery and LANDSAT imagery. IKONOS imagery is used to make land use mapping and LANDSAT imagery is used to determine the shape of the land and soil moisture. To make a soil moisture mapping, this research use Teaselled Cap (TC) method from LANDSAT imagery. the In the area of research, it was found that there are 2 (two) types of zones (map) flood vulnerability, including tentative flood vulnerability (medium, high, and very high) and the final flood vulnerability (low, medium, high, and very high). Based on data from overlying the final flood vulnerability and the productivity value of land, It got level of flood risk. In the study area, there are three levels of risk for flooding, namely the level of low, medium, and high. At the level of risk being. At moderate risk level, largest districts are at that level is the Grogol District, Sukoharjo Regency, with an area of +1,710,129.37 m 2 . In high level of risk, the biggest district is the District Sukoharjo District, Sukoharjo Regency, with an area of +30,232,470.4 m 2 . The highest losses in areas with a high risk level is field in Sukoharjo District, Sukoharjo Regency, around Rp 82,452,190,000.00. The highest Losses in moderate-risk areas are garden on the type of land use, which is located in Grogol District, Sukoharjo Regency around Rp 3,420,260,000.00. Those losses are obtained by Sukoharjo caused by several factors, such as topography in the form of terrain; soil moisture is high due to the land use, mostly in the fields, and also in the form of landforms, alluvial flood plains as well.
Kata Kunci : Bengawan Solo Banjir, risiko, rentan