Laporkan Masalah

INTERAKSI SEKTOR INFORMAL (PKL) DENGAN SEKTOR FORMAL DI PUSAT KOTA TASIKMALAYA

Anwar Saleh, M. Sani Roychansyah, S.T., M.Eng., D.Eng.

2013 | Tesis | S2 Magist.Prnc.Kota & Daerah

Permasalahan PKL di Kota Tasikmalaya cukup kompleks. Selain bersinggungan dengan aturan pemerintah, keberadaan PKL seringkali menimbulkan konflik kepentingan dengan kepentingan pedagang formal dan kepentingan ruang publik dan masyarakat. Tujuan penelitian ini adalah mengidentifikasi interaksi yang terjadi antara sektor informal pedagang kaki lima dengan sektor formal di Kota Tasikmalaya yang ditelaah dari aspek sosial, ekonomi dan spasial, guna mendapatkan masukan bagi penataan ruang PKL. Penelitian yang dilakukan di pusat Kota Tasikmalaya ini merupakan sebuah penelitian studi kasus yang menggunakan metode induktif-kualitatif. Pengumpulan data dilakukan dengan melakukan wawancara, observasi dan dokumentasi. Analisis data menggunakan metode induktif kualitatif, dengan memunculkan tema-tema penting yang diinduksi menjadi sebuah teori. Hasil analisis menunjukan bahwa : Reaksi sektor formal terhadap sektor informal sangat bergantung pada nilai persaingan ekonomi diantara mereka, yang berkaitan dengan jenis dan kualitas barang yang ditawarkan. Sementara reaksi pengguna jalan sangat bergantung pada tujuan dan kepentingan aktivitas mereka ketika menggunakan jalan yang bersangkutan. Dalam memilih lokasi, PKL sandang cenderung beraglomerasi dengan pedagang sejenis, baik formal maupun informal, sedangkan PKL pangan cenderung mencari lokasi di dekat bangunan formal penting yang menjadi pusat keramaian (bank atau mall). Sementara pedagang jasa cenderung mencari lokasi di depan toko yang menjual barang komplemen dagangannya. Kesimpulan dari penelitian ini adalah ; (1) Dalam interaksi spasial, sektor formal tidak pernah diuntungkan oleh keberadaan sektor informal PKL. (2) Nilai interaksi ekonomi dipengaruhi oleh tingkat ekspansi spasial serta jenis dan kualitas barang dagangan PKL . (3) Nilai interaksi sosial sejalan dengan nilai interaksi ekonomi. (4) Stabilisasi PKL bisa dilakukan dengan melakukan penzoningan yang mampu menghindari interaksi yang bersifat negatif dan sesuai dengan fungsi jalan.

Informal sector (street vendors) problems in Tasikmalaya City are relatively complex. Street vendors existences not only makes conflicts between informal sector and government rule or formal sector, but also makes conflicts between informal sector and public community. This study has a goal to identify the interaction between informal sector (street vendors) and formal sector that occur in Tasikmalaya City which focused at spatial, economic and social aspects. This study tries to formulate recommendations or solutions for informal sector planning from this study. This study conducted in Tasikmalaya City and can be classified as case study, used qualitative-inductive method. Data was collected thrugh interviews, observation, and documentation. Data analiysis use qualitative-inductive method of analysis. Data anaysis formulate important themes inducted to be a theory. The inductive analysis results show that : the formal sector reaction to informal sector depend on economic competition value between them. It also defends on the kind and quality of goods that they sold. On the other hand, street user community reaction to informal sector depends on their purposes of using the street. When choosing the location, street vendor selling clothes has a tendency to aglomerate with the similar vendor and dealer (vendor and dealer who sold the similar kind of pruducts), while street vendor selling foods has a tendency to find the location near important building which has busy activity (such as bank or supermarket). Meanwhile street vendor providing services has a tendency to find the location in front of formal shop which sold the complement of their goods. The conclusion show that : (1) In spatial interaction, formal sector has no benefit from informal sector existence. (2) Economic interaction value depends on street vendor spatial expansion quantity and also the kind and quality of street vendor goods. (3) Social interaction value goes in line with economic interaction value. (4) Street vendor stabilization can be applicated as long as the government can create zone system that restrict negative interaction between formal and informal sector, and compatible with the street function.

Kata Kunci : Interaksi, Sektor Informal, Kota Tasikmalaya


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.