Laporkan Masalah

Kebijakan Indonesia dalam Kerja Sama Trans-ASEAN Gas Pipeline

Arif Rahman Hakim, Dr. Nur Rachmat Yuliantoro, MA (IR)

2013 | Tesis | S2 Ilmu Politik/Hubungan Internasional

Menjelang pembentukan Komunitas ASEAN pada tahun 2015, negaranegara di Asia Tenggara mengalami berbagai tantangan termasuk di bidang energi. Tingginya ketergantungan terhadap energi di luar kawasan seperti minyak bumi menyebabkan kawasan ini mudah terpengaruh terhadap situasi geoplitik yang terjadi di Timur Tengah. Untuk mengatasi permasalah tersebut maka dibentuklah kerja sama di bidang energi yang salah satunya adalah Trans ASEAN Gas Pipeline. TAGP dibentuk karena besarnya cadangan gas alam yang terdapat di kawasan Asia Tenggara yang mencapai hingga 227 triliun Kubik Kaki dan berpotensi besar untuk menggatikan peran minyak bumi dalam kegiatan industri di Asia Tenggara. Kerja sama ini kemudian diikuti oleh sepuluh negara Asia Tenggara termasuk Indonesia. Keikutsertaan Indonesia dalam kerja sama ini dipengaruhi oleh kondisi internal dan eksternal di negara ini. Kondisi internal tersebut yaitu kegagalan program pemerintah untuk meningkatkan penggunaan gas alam di dalam negeri, kondisi ekonomi nasional paska krisis tahun 1998, serta rendahnya tingkat konsumsi gas dalam negeri. Sedangkan dari faktor eksternal yaitu adanya perubahan struktur pasar gas alam di dunia, perubahan kebijakan gas alam di Asia Timur termasuk Jepang dan munculnya kebijakan ketahanan energi ASEAN sebagai salah satu syarat penunjang pembentukan Komunitas ASEAN 2015. TAGP juga menawarkan sejumlah manfaat bagi Indonesia seperti mendukung program pengurangan penggunaan bahan bakar minyak, mempermudah pengiriman gas ke luar negeri, meningkatkan keamanan pasokan energi penunjang seperti listrik, meningkatkan pendapatan nasional, mengurangi efek perubahan lingkungan, dan meringankan pembiayaan proyek gas nasional. Akhirnya pada tahun 2002 Indonesia bersedia berkerja sama dalam TAGP.

Towards the establishment of the ASEAN Community 2015, states of Southeast Asia have many challenges include from energy. The high interdepence on energy of outside the region such as oil, cause this region susceptible to the geopolitical situation in the Middle East. solve these To problems, ASEAN have established cooperation in the energy sector, such as the Trans ASEAN Gas Pipeline. TAGP formed because of the large natural gas reserves located in Southeast Asia that reach up to 227 trillion cubic feet and has great potential to replace the role of oil in industrial activities in Southeast Asia. This cooperation has participated by the ten countries of Southeast Asia, including Indonesia. setting Indonesia's participation in this cooperation is influenced by internal and external in the country. The Internal setting are the failure of a government program to increase the usage of natural gas in the country, the national economy after the crisis of 1998, and a low level of gas consumption in the country. While external factors are a change in the structure of the natural gas market in the world, changes in natural gas policy in East Asia including Japan and the emergence of ASEAN energy security policy as a condition of supporting the establishment of an ASEAN Community by 2015. many TAGP also offers a of benefits for Indonesia such as support programs to reduce the usage of oil, facilitate the delivery of gas to foreign countries, improving energy supply security support such as electricity, increasing national income, reducing the effects of environmental change, and easing the national gas project financing. Finally, in 2002 Indonesia decide to cooperation in the TAGP.

Kata Kunci : komunitas ASEAN, Trans ASEAN Gas Pipeline, Indonesia.


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.