IDENTIFIKASI KUTUB PERTUMBUHAN DAN KLASIFIKASI KABUPATEN/KOTA DI PULAU SUMATERA, 2007-2010: PENDEKATAN ANALISIS MULTIVARIAT
Hani'ah, Prof. Mudrajad Kuncoro, M.Soc.Sc.,
2013 | Tesis | S2 Magister Ek.PembangunanSalah satu tujuan pembangunan regional adalah mengurangi ketimpangan wilayah. Namun demikian, selama ini kebijkan regional yang diterapkan seringkali bersifat seragam/sama di semua wilayah (white policy). Selain itu, keterbatasan anggaran pembangunan memaksa pemerintah untuk memberlakukan prioritas pembangunan agar hasilnya lebih efektif dan sesuai kebutuhan daerah. Oleh karena itu perlu dilakukan pewilayahan sebagai dasar pengambilan kebijakan regional yang tidak hanya mempertimbangkan masalah ekonomi, namun juga masalah-masalah sosial sehingga dapat diketahui prioritas pembangunan di masing-masing daerah untuk mengurangi ketimpangan antardaerah. Tujuan penelitian ini adalah mengklasifikasikan kabupaten/kota di Pulau Sumatera menurut pencapaian pembangunan sosial ekonominya. Dari penelitian ini diharapkan akan didapatkan kluster-kluster wilayah sesuai dengan capaian pembangunan dan pola spasial dari pembangunan sosial ekonomi (multidimensi) di Pulau Sumatera selama periode 2007-2010. Dari hasil pengklasifikasian ini diharapkan juga dapat diidentifikasi prioritas pembangunan di masing-masing kluster wilayah. Dengan pendekatan multidimensi, kabupaten/kota diklasifikasikan dengan mempertimbangkan dimensi lain selain dimensi ekonomi, yaitu dimensi pendidikan, kependudukan, dan ketenagakerjaan. Metoda analisis yang digunakan adalah dengan terlebih dahulu melakukan identifikasi kutub pertumbuhan dengan analisis tipologi dan analisis korelasi spasial (Moran’s I dan Statistik G). Kemudian dilakukan penyederhanaan variabel dengan analisis faktor yang dilanjutkan pewilayahan dengan analisis kluster. Penelitian ini menggunakan data sosial ekonomi dari tahun 2007-2010. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa: (1) ketimpangan sosial antarkabupaten/ kota di Pulau Sumatera lebih besar dari pada ketimpangan ekonominya; (2) ada 5 kota yang dapat dijadikan kutub pertumbuhan di Pulau Sumatera adalah Kota Medan (lemah), Kota Pekan Baru (kuat), Kota Batam (lemah), Kota Pangkal Pinang (lemah), dan Kota Bandar Lampung (kuat); (3) dari 13 ndikator sosial ekonomi di Pulau Sumatera dapat diringkas ke dalam 3 komponen, yaitu kependudukan dan ketenagakerjaan, pendidikan, dan perekonomian; (4) berdasarkan komponen sosial ekonomi tersebut terbentuk 4 kluster wilayah homogen, yaitu kluster agraris, tertinggal, daerah kaya, dan kluster perkotaan.
The main aim of regional policy is to reduce regional disparities. There is no doubt that action to tackle regional disparities in Sumatera Island is needed. However, the regional policy that was applied so far often the same for every region (white policy). Additionally, budget constraints forced the government to make priorities so that the results are more effective and right on target. Therefore we need to make a more appropriate definition of region as a subject of regional policy. Regional policy should not just considering economic problems but also social ones, so that we can obtain development priorities in each region to reduce regional disparities. The classification will be obtained through use of multivariate statistical methods, and it is based on a wide number of demographic, economic, educations, and employment indicators. This method contain factor and cluster analysis with the addition of spatial autocorellation analysis (Moran‟s I and G-statistic) applied to data with district level in Sumatera Island from 2007-2010. This study shows that: (1) social disparities in Sumatera Island are bigger than the economic disparities; (2) There are 5 respective growth poles in Sumatera island: Medan (weak), Pekan Baru (strong), Batam (weak), Pangkal Pinang (weak), and Bandar Lampung (strong); (3) Three components derived from 13 socio-economic indicators, demography and employment, education, and economic; (4) From these components, we obtain 4 clusters: agrarian, underdeveloped, rich, and urban. The main conclusion is that socio-economic reorients uncovered with this methodology provide useful characterization and division of the territory, for policy making purpose.
Kata Kunci : Pewilayahan, pembangunan regional, kutub pertumbuhan, analisis autokorelasi spasial, pembangunan multidimensi, analisis faktor, analisis kluster