Laporkan Masalah

ADOPSI TEKNOLOGI INFORMASI DAN KOMUNIKASI PADA ORGANISASI TRADISIONAL BANJAR DI BALI

Ade Devia Pradipta, S.E, Dr. Kuskridho Ambardi, M. A.,

2013 | Tesis | S2 Ilmu Politik/Ilmu Komunikasi

Saat ini, perkembangan teknologi informasi dan komunikasi dikatakan sangat pesat, karena kemampuannya untuk melakukan komunikasi jarak jauh secara efektif dan efisien. Kecepatan perkembangan teknologi informasi dan komunikasi ini mampu mempengaruhi mekanisme komunikasi antar angggota organisasi dan interaksi antara anggota organisasi dengan lingkungannya. Studi-studi mengenai kontribusi TIK pada organisasi masih jaramg dilakukan pada bentuk organisasi yang bersifat tradisional. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menjelaskan alasan banjar mengadopsi atau menolak TIK pada komunikasi organisasinya, menggambarkan berbagai variasi tingkat adopsi TIK, dan menjelaskan faktorfaktor yang mempengaruhinya. Difusi teori inovasi dan kesiapan penerimaan teknologi digunakan untuk membantu menjawab permasalahan. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif, yang dilakukan pada tujuh banjar yang terletak di empat kabupaten, yang Badung, Denpasar, Gianyar, dan Klungkung. Metode pengumpulan data yang digunakan adalah wawancara mendalam dan data dianalisis dengan metode studi kasus. Teknik pengambilan sampel purposif digunakan untuk menentukan sampel dari populasi yang diteliti. Penelitian ini menemukan bahwa masuknya TIK akan mengubah metode komunikasi di banjar. Tidak semua banjar memutuskan untuk mengadopsi TIK pada komunikasi organisasi mereka. Namun, pada banjar yang memutuskan untuk mengadopsi TIK, TIK tidak secara murni diterapkan pada komunikasinya. Alasan tidak diterapkannya TIK adalah karena banjar masih memiliki ketakutan dan ketidaknyamanan jika TIK diterapkan murni pada komunikasi mereka. Ada dua faktor yang dapat mempengaruhi banjar untuk mengadopsi atau menolak TIK. Pengaruh dari faktor-faktor ini menghasilkan penggunaan berbagai teknologi informasi dan komunikasi di banjar dipelajari. Faktor-faktor ini dapat mendorong atau menghambat adopsi teknologi informasi dan komunikasi di banjar. Faktor kultural mencakup struktur sosial, norma sistem, bahasa, agama, tradisi, dan nilai-nilai tradisional. Faktor non-kultural meliputi penduduk, infrastruktur, dan adaptasi lingkungan sekitarnya. Penggunaan TIK yang tidak terkendali dapat membawa dampak buruk bagi banjar. dampak negatif yang ditimbulkan adalah tergesernya fungsi kasinoman oleh Tik yang berimbas pada sulitnya kinerja mereka untuk dipantau. Hal negatif lain yang mungkin terjadi adalah penyesuaian norma-norma sosial yang telah dianut dan semakin berkurangnya rasa kekeluargaan antar krama dalam banjar. Prajuru adat sebagai ujung tombak di banjar dituntut untuk membuat aturan dan prosedur yang jelas mengenai penggunaan TIK pada komunikasi banjar. Selain itu, prajuru juga dituntut untuk menunjukkan bahwa metode tatap muka masih penting untuk dilakukan.

Nowadays, the evolution of information and communication technology is very rapid, due to its ability to perform long distance communication effectively and efficiently. Those evolution has  been able to influence the mechanism of communication and interaction among members of the organization and its environment. For organizations, the correct use of information and communication technology is expected to increase the productivity of its members. Most studies on the contribution of information and communication technology in an organization were performed in firms or government agencies. There aren’t many studies on the contribution of information and communication technology to improve the performance of traditional organizations which still have strong bonds with traditions and customs. The aims of this study are to explain the reason banjar as a trditional organization adopt or reject ICT in their organizational communicaton, to discover the rate of adoption of ICT, and to explain factors which are influence it. Diffusion of innovation theory and techology readiness index are used to help answer the research problem. The study was done using descriptive qualitative approach. In this study, Bali was represented by seven banjars located in four regencies, which were Badung, Denpasar, Gianyar, and Klungkung. Data collection method used was in-depth interview and data was analyzed with case study method. Purposive sampling technique was used to determine the sample of the population studied. The entry of ICT will change the communication method in banjar. Not all the banjar decide to adopt the ICT on their organizational communication. But, in the banjar who decide to adopt the ICT, don’t purely apply it on their communication. Its because banjar still have some fear and discomfort if ICT is applied purely on their communication. There are two factors that can influence banjar to adopt or reject the ICT. The influences of these factors produced varying use of information and communication technology in banjar studied. These factors can encourage or inhibit the adoption of information and communication technology in banjar. Cultural factors include social structure, system norm, language, religion, tradition, and traditional values. Non-cultural factors include population, infrastructure, and adaptation of environement. There will changes and adjustments when technology adoption has been done. But, without realizing it, the use of ICT able to bring negative impacts to people in banjar. Kasinoman function can be replacing by the ICT and the performance of kasinoman or saya arah will be hard to monitor. Other negative thing which may happen is the adjustment of social norms which have been followed to this day and cause negative impact on familial ties. Prajuru as the opinion leaders in banjar should make the rules about the use of ICT on their communication. More, prajuru should show that face to face method is still important to do.

Kata Kunci : teknologi informasi dan komunikasi, banjar, mapengarah, kasinoman, adopsi.


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.