Laporkan Masalah

ANALISIS SPASIAL DIARE AKUT ANAK USIA 5-14 TAHUN DI KABUPATEN KULON PROGO

Ratna Wijayanti, Prof. dr. M.Juffrie, SpAK, Ph.D

2013 | Tesis | S2 Kesehatan Masyarakat/EL

Latar belakang:Diare adalah penyakit penduduk yang merupakan penyebab 4% seluruh kematian penduduk di seluruh dunia yang sebagian besar adalah anak-anak di negara berkembang. Di Indonesia, diare masih merupakan masalah kesehatan masyarakat, ditinjau dari angka kesakitan dan kematian serta kejadian luar biasa yang ditimbulkan. Penelitian tentang diare dan faktor risikonya terutama pada balita telah banyak dilakukan, tetapi penelitian tentang pada penderita usia lebih dari 5 tahun belum banyak dilakukan.Diare terbanyak menyerang anak usia <5 tahun, penyebab tersering adalah rotavirus. Data 3 tahun terakhir di Kabupaten Kulon Progo menyebutkan bahwa kasus diare lebih banyak terjadi pada usia >5 tahun yang sebagian besar penyebabnya adalah bakterial terkait dengan masalah sanitasi lingkungan dan kualitas air bersih. Tujuan penelitian:Untuk mengetahui kondisi sanitasi lingkungan,demografi, topografi dan curah hujan yang berperan sebagai faktor risiko kejadian diare akut pada penderita usia 5-14 tahun di Kabupaten Kulon Progotahun 2011 Metode penelitian:Jenis penelitian observational analytic dengan analisis spasial menggunakan rancangancross sectional untuk mengidentifikasi, menganalisis spasial kejadian diare akut pada penderita usia 5-14 tahun yang berdomisili di wilayah serta dirawat di rumah sakit di wilayah Kabupaten Kulon Progo dihubungkan dengan sanitasi, demografi, topografi desa dan curah hujan. Hasil penelitian:Cakupan jamban terendah 5,88% di DesaDepok, Kecamatan Panjatan, cakupan SAB terendah 27,12% di Desa Banjaroyo Kecamatan Kalibawang, proporsi kepemilikan kandang ternak tertinggi 72,10%di Desa Jangkaran Kecamatan Temon, desa terpadat jumlah penduduknya 46 jiwa/km 2 di Desa Nomporejo Kecamatan Galur, ketinggian rata-rata desa paling tinggi 650 m di atas permukaan laut di Desa Ngargosari Kecamatan Samigaluh. Hasilanalysis spatially weighted regression (spatial error model) menggunakan GeoDa menunjukkan bahwa tingginya kepadatan penduduk menyebabkan tingginya angka insidens diare cair akut (p= 0,0066770) akan tetapi tidak untuk disentri (p= 0,9886664). Curah Hujan yang sangat rendah dan sangat tinggi menyebabkan tingginya angka insidens diare akut. Kesimpulan:Pada anak usia 5-14 tahun di Kabupaten Kulon Progo tahun 2011, tingginya kepadatan penduduk menyebabkan tingginya angka insidens diare cair akutakan tetapi tidak untuk disentri.Tingginya angka insidens diare akut disebabkan oleh curah hujan yang sangat rendah dan sangat tinggi.

Background:Diarrhea is a disease that caused 4% people deaths in worldwide, mostly children in developing countries. In Indonesia, diarrhea remains a public health problem, in terms of morbidity and mortality as well as the outbreaks. Research on diarrhea and its risk factors, especially among children under five years have been conducted, but studies in people over the age of five years have not been a lot done. Diarrhea majority attacking children aged under five years, the most common cause is rotavirus. Last 3 years data in the district of Kulonprogo mentioned that diarrhea is more common in aged overfive years, mostly bacterial causedand related to the issue of environmental sanitation and water quality. Objective:To determine the role of environmental sanitation conditions, demography, topography and rainfall as risk factors for acute diarrhea in patients 5-14 years old in the District Kulonprogo in year 2011. Method:An observational analytic conducted to this study with spatial analysis using cross-sectional design to identify, analyze the incidence of acute diarrhea in patients 5-14 years old who live in the area and were hospitalized in the district Kulonprogo associated with village sanitation, demography, topography and rainfall. Results:Lowest latrine coverage was 5.88% in the Village DepokPanjatan, lowest clean water coverage was 27.12% in the Village Banjaroyo Kalibawang, highest ownership of cattle sheds proportion was 72.10% in the Village Jangkaran Temon, densest villages population was46 people per km 2 in the Village Nomporejo Galur, the highest height average of village was 650 m above sea level in the Village Ngargosari Samigaluh. Results of spatially weighted regression analysis (spatial error model) using GeoDa shown that high population density causes high incidence rate of acute watery diarrhea (p=0.0067) but not for dysentery (p=0.9887). Very low and very high rainfall lead to the high of incidence rate. Conclusion:In children aged 5-14 years in the District Kulonprogo in 2011, the high population densities lead to high incidence rate of acute watery diarrhea but not for dysentery. The high incidence rate of acute diarrhea caused by very low and very high rainfall.

Kata Kunci : diare akut, sanitasi lingkungan, analisis spasial


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.