Laporkan Masalah

PERAN LEMBAGA DONOR INTERNASIONAL TERHADAP PEMBERDAYAAN MASYARAKAT LOKAL PASCA GEMPA 2006: (Studi Kasus Bantuan IOM-JRF Terhadap Pengrajin Batik Tulis Desa Kebon, Bayat, Klaten)

MOHTAR DWI PURNOMO, Dr. Eric Hiariej, M.Phil.

2013 | Tesis | S2 Ilmu Politik/Hubungan Internasional

Dewasa ini perhatian ilmu hubungan internasional tidak hanya mengkaji tentang peran negara (state) namun juga mengkaji tentang peran non-state actors dalam ruang lingkup politik global seperti Non Government Organization (NGO). Kemudian, perhatian masyarakat internasional tidak hanya terfokus pada isu-isu konvensional saja, tetapi perhatian mereka merambah pada isu-isu global nonkonvensional seperti Hak Asasi Manusia (HAM) dan bencana alam. Dengan menggunakan metode kualitatif yang dilakukan dengan telaah dokumen dan wawancara, penelitian ini berupaya untuk menjelaskan peran lembaga donor internasional terhadap pemberdayaan masyarakat lokal pasca gempa 2006: studi kasus bantuan IOM-JRF terhadap pengrajin batik tulis Desa Kebon, Bayat, Klaten. Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui implikasi bantuan IOM-JRF melalui program livelihood terhadap pemulihan Usaha Mikro dan Kecil (UMK) batik tulis di Desa Kebon. Untuk menjelaskan hal-hal di atas, penelitian ini menggunakan teori pengembangan masyarakat dengan metode community development dan partipasi masyarakat. Batik Indonesia telah ditetapkan oleh UNESCO sebagai masterpieces of the oral and intangible heritage of humanity sejak Oktober 2009. Keunggulan batik tulis Kebon yaitu berjenis batik tulis yang dibuat secara tradisional dan menggunakan pewarna alam yang berasal dari bahan pepohonan yang terdapat di lingkungan sekitar seperti daun jati dan daun mauni,sehingga ramah lingkungan dan memiliki nilai tambah secara kualitas maupun nilai seni. Akan tetapi, pasca gempa 2006, kegiatan produksi mereka berhenti karena alat-alat produksi hancur. Dalam relasi pembatik dengan juragan, posisi pembatik selalu subordinat dengan juragan. Hal ini terjadi karena pembatik tidak memiliki modal dan Sumber Daya Manusia (SDM) yang baik dalam pemasaran produk. Bantuan IOM-JRF mampu memperdayakan masyarakat dan efektif memulihkan perekonomian pengrajin batik, karena IOM tidak memberikan bantuan dalam bentuk uang tunai (cash) melainkan dalam bentuk aset peralatan dan perlengkapan produksi dan memberikan pendampingan melalui pelatihan pengembangan usaha, pelatihan teknis, pelatihan akses pasar dan promosi. Implikasi program IOM-JRF terhadap pengrajin batik tulis Kebon adalah pertama, memulihkan Usaha Mikro dan Kecil (UMK) batik tulis Kebon dengan indikator adanya peningkatan antusias pembatik, peningkatan jumlah pengrajin batik, peningkatan jumlah produksi, peningkatan omzet penjualan, peningkatan jumlah uang kas kelompok batik tulis Kebon Indah, peningkatan pendapatan pengrajin batik, dan peningkatan jumlah kunjungan wisatawan domestik dan mancanegara. Kedua, merubah perimbangan kekuatan antara pembatik dan juragan dengan indikator adanya perubahan pola kerja, strategi pemasaran, kepemilikan modal, pola interaksi, pola penentuan harga, bentuk eksploitasi, dan bargaining position. Ketiga, membuat kelompok batik tulis Kebon Indah menjadi mandiri dengan indikatornya adalah keikutsertaan dalam pameran, peningkatan partisipasi masyarakat, dan kreatifitas menciptakan motif batik.

Today, the attention of the science of international relations not only learn about the role of the state, but also learn the role of non-state actors in global politics such as Non-Government Organization (NGO). Then, the attention of the international community is not only focused on conventional issues, but their attention is extended on non-conventional global issues such as Human Rights and natural disasters. Using qualitative methods were performed with document review and interviews, this study seeks to explain the role of international donors to the empowerment of local communities after the earthquake of 2006 : a case study of the aid of IOM-JRF to the batik craftsmen at Kebon Village, Bayat, Klaten. The purpose of this study is investigate the implications of IOM-JRF through livelihood programs for the recovery of Micro and Small Enterprises (MSEs) in Kebon Village. To explain sometthing above, this study uses the theory, community development methods and community partisipations. Batik Indonesia has been declared by UNESCO as masterpieces of the oral and intangible heritage of humanity since October 2009. The advantages of wax resist dyeing is made traditionally and using natural dyes derived from material of the trees such as Jati leaf and Mauni leaf, so it will be environmentally friendly and has added value in quality and artistic value. However, after the earthquake of 2006, their production activity is stopped because their production equipments are destroyed. The relation of the craftsmen and the batik skipper, the craftsmen position is always subordinate to the skipper because the craftsmen has no financial capital and good human resources (HR) in marketing of the product. The aid of IOM-JRF is able to empower the public and effectively recovery the economy of batik craftsmen, because IOM does not provide assistance in cash but provide assets of the production equipment and give them the training of business development, technical training, market access and promotion training. The implication of IOM-JRF program to the craftsmen at Kebon Village. The first, recovering the Micro and Small Enterprises (MSEs) Batik Kebon with the indicators such as the upgrading of the enthusiasm craftsmen, the upgrading of the amount of craftsmen and production,the upgrading of sales omzet, the upgrading of cash flow, the upgrading of craftsmen revenue, and the upgrading of the domestic and foreign tourists visiting. Second, change the balance of the power between craftsmen and the skipper based on indicator such as the change of work patterns, marketing strategies, financial capital ownership, patterns of interaction, pricing patterns, forms of exploitation, and bargaining position. Third, it make the group of Kebon Indah craftsmen become independent based on indicator such as the participation in the exhibition, increase community participation, and creativity in creating batik patterns.

Kata Kunci : Program livelihood IOM-JRF, Batik tulis Kebon, Pemulihan UMK, Pengembangan Masyarakat.


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.