PENGARUH KEPADATAN TANAH TERHADAP WAKTU PENGEMBANGAN MAKSIMUM TANAH EKSPANSIF
BAroroh Baried, Dr. Ir. Hary Christady Hardiyatmo., M.Eng., DEA.
2013 | Tesis | S2 Teknik SipilTanah lempung ekspansif (expansive clay) adalah tanah lempung yang memiliki potensi pengembangan jika mengikat air dan menyusut bisa kehilangan air. Akibat dari mengikat air, tanah akan mengalami perubahan volume karena mengembang sehingga dapat merusak struktur yang berdiri di atas tanah ekspansif. Tanah kering yang padat dapat mengembang lebih besar dalam waktu yang singkat jika terendam air dibandingkan dengan tanah yang sudah basah dan tidak begitu padat. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui berapa besar regangan pengembangan dan tekanan pengembangan serta mengetahui pengaruh kepadatan tanah terhadap waktu pengembangan maksimum tanah ekspansif. Tanah yang diuji berasal dari Desa Sokoo Kab. Ngawi, Jawa Timur. Pengujian ini menggunakan alat oedometer pada tekanan overburden sebesar 6,9 kPa. Kepadatan berkisar antara γd = 1,471 gr/cm³ sampai dengan γd = 0,962 gr/cm, kadar air awal divariasikan 15,04 %; 18,18 %; 20,20 %; 22,12 %; 24,70 %; 28,32 %; 29,36 %; 34,68 %; 38,58 %, dan 42,88 %. Hasil pengujian menunjukkan bahwa tanah lempung termasuk dalam klasifikasi CH/A-7-5 dengan potensi pengembangan sangat tinggi. Tanah dengan kepadatan γd = 1,471 gr/cm³, kadar air awal 15,04% memiliki regangan pengembangan maksimum yaitu 38,13% dengan tekanan pengembangan sebesar 2392 kPa, sedangkan kepadatan γd = 0,962 gr/cm³, kadar air awal 42,88% dengan regangan pengembangan minimum sebesar 1,68 % memiliki tekanan pengembangan sebesar 34,22 kPa. Waktu yang dibutuhkan pada keadaan regangan pengembangan maksimun selama 16 hari pada kepadatan γd = 1,471 gr/cm³, dan waktu minimum yang diperlukan untuk pengembangan maksimum adalah 5 hari pada kepadatan γd = 0,962 gr/cm³. Tanah dengan kepadatan yang lebih tinggi membutuhkan waktu pengembangan yang lebih lama.
The expansive soil is a term generally applied to any soil that has a potential for shrinking or swelling under changing moisture condition. The dry soil can swell bigger in short period of time if sunken comparing with the soil that is already wet. This research is aimed to find out the swelling strain and swelling pressure and to find out the influence of soil dry density on the maximum swelling time of expansive soil. The soil tested were taken from Sokoo Village, Ngawi Regency, East Java Province. The swelling test were performed using Oedometer apparatus by applying overburden pressure 6,9 kPa. Dry densitis of soil sample were about γd = 1,471 gr/cm³ until γd = 0,962 gr/cm3, the initial moisture contents were varied about 15,04 % until 42,88 %. The testing results show that the clay can be clasified as CH/A-7-5 with high swelling potential. The soil with dry density γd = 1,471 gr/cm³ and the initial moisture content of 15,04 % has maximum swelling strain of 38,13 % with swelling pressure of 2392 kPa. Meanwhile, the soil having dry density γd = 0,962 gr/cm³ and initial moisture content of 42,88 % with minimum swelling strain of 1.68 % has the swelling pressure of 34,22 kPa. The time needed for the swelling strain maximum is about 16 days in the dry density γd = 1,471 gr/cm³, while the minimum time needed for the maximum swelling is about 5 days in the dry density γd = 0,962 gr/cm³. The soil with higher density needs longer swelling time.
Kata Kunci : lempung ekspansif, potensi pengembangan, tekanan pengembangan