MLÈSÈT DAN NGGANDHUL DALAM KARAWITAN PEDALANGAN GAYA YOGYAKARTA: Tinjauan Budaya, Karawitanologi, dan Fisika Bunyi
S. Hanggar B.P., Drs.,S.Sn.,M.Si., Prof. Dr. H. Timbul Haryono, M.Sc.,
2013 | Disertasi | S3 Pengkajian Seni Pertunjukan dan Seni RupaTujuan penelitian ini adalah untuk memahami fenomena mlèsèt dan nggandhul pada karawitan pedalangan gaya Yogyakarta. Masalah utama yang diajukan adalah mengapa instrumen kenong, kempul, dan gong ditabuh mlèsèt dan nggandhul. Pada penelitian ini karawitan dipandang sebagai fenomena musikal, bunyi, dan budaya. Untuk menjawab pertanyaan yang diajukan digunakan pendekatan multi disiplin yaitu pendekatan fisika bunyi, karawitanologi, dan budaya. Ada dua jenis data pada penelitian ini, yaitu data kuantitatif dan kualitatif. Data kuantitatif berupa rekaman bunyi tiap instrumen gamelan dan bunyi gending-gending yang biasa digunakan untuk mengiringi pertunjukan wayang. Data kualitatif berupa pengalaman pengrawit dan dalang diperoleh melalui pengamatan dan wawancara mendalam terhadap para informan. Data kuantitatif diolah menggunakan program komputer wavelab 7. Berdasarkan hasil penelitian disimpulkan bahwa mlèsèt dikategorikan menjadi mlèsèt nuntuni dan mlèsèt ngêmpyungi. Mlèsèt nuntuni ditentukan oleh lagu gending, sedangkan mlèsèt ngêmpyungi ditentukan oleh patet dan frekuensi instrumen gamelan. Instrumen yang biasa digunakan untuk plèsètan yaitu kenong dan kempul memiliki frekuensi bunyi yang khas. Setiap instrumen ini memiliki frekuensi fundamental yang menghasilkan nada utama dan frekuensi overtone yang menghasilkan nada kêmpyung atau gêmbyang. Frekuensi overtone ini menimbulkan interferensi bunyi yang secara budaya diterima sebagai suara yang enak oleh para pendengar dan pengrawit. Tempo nggandhul ditentukan oleh irama, laya, dan jenis instrumen. Tabuhan nggandhul berlaku pada irama II, III, dan IV dan laya antal. Tempo nggandhul dipengaruhi oleh laya gending dan jenis instrumen. Nggandhul-nya instrumen kenong, kempul, dan gong terjadi ketika instrumen yang digunakan sebagai acuan nggandhul masih berbunyi saat mulai meluruh. Dari aspek fisika bunyi, tabuhan nggandhul berperan memperluas ruang bunyi yang secara budaya diterima sebagai suara yang enak oleh para pendengar dan pengrawit.
This research aims to study mlèset and nggandhul phenomena in gamelan music for wayang performance. The main research question is to reveal why kenong, kempul, and gong instruments are played in mlèsèt or nggandhul style. Within this research, gamelan music is defined as musical, sound, and cultural phenomena. Multidisciplinary approaches were used to analyze the problem, i.e. acoustic, karawitanology, and culture. Two data type, qualitative and quantitative, were employed in this research. The recording of each gamelan instrument and the common gending (gamelan piece) for shadow puppet theatre constituted the quantitative data. These recordings were then analyzed through a computer program, Wavelab 7. The qualitative data–experiences of the musicians and the puppet master-were obtained through in-depth interview and observation towards the informants. The research revealed that mlèsèt is categorised as mlèsèt nuntuni and mlèsèt ngêmpyungi. Mlèsèt nuntuni is determined by the melody, while mlèsèt ngêmpyungi is determined by patet (mode) and fundamental frequency of gamelan instrument. Common instruments for plèsètan are kenong and kempul, both with their unique sound frequency. Each of the instruments possesses fundamental frequency producing main tone and overtone frequency, resulting in kêmpyung (kwint) or gêmbyang (octave) specific tone. The overtone frequency results in tonal interference which is culturally accepted as nice melody by the listeners and the musicians. Nggandhul tempo is determined by the rhythm, laya, and type of music instrument. Nggandhul play only takes place on tempo II, III, and IV, and slowing (antal) laya. This tempo is influenced by gamelan instrument, laya and type of music instruments. Nggandhul play in kenong, kempul, and gong take place when the referred instruments are still sounding in the fade-out. From the aspect of acoustic, nggandhul play is important in widening the sound space, which is culturally accepted as nice melody by the listeners and the musicians.
Kata Kunci : mlèsèt, nggandhul, karawitan, gending, wayang.