Laporkan Masalah

TATAKELOLA KOMUNITAS PENANGGAP DAN PERGELARAN WAYANG JEKDONG KI SURWEDI JAWA TIMUR

Wisma Nugraha CH.R., Drs.,M.Hum., Prof. Dr. H. Timbul Haryono, M.Sc.

2013 | Disertasi | S3 Pengkajian Seni Pertunjukan dan Seni Rupa

Penelitian ini menyorot permasalahan pengelolaan komunitas penanggap dan pergelaran wayang purwa Jawatimuran atau Wayang Jèkdong dengan studi kasus terhadap dalang Ki Surwedi. Ki Surwedi merupakan pintu masuk untuk memahami bagaimana kehidupan pedalangan dan pergelaran Wayang Jekdong. Tujuan penelitian ini adalah, mendeskripsikan fenomena kultural pergelaran Wayang Jèkdong oleh Ki Surwedi dalam relasinya dengan para penanggap, penonton, kelembagaan sosial dari tingkat dusun hingga regional. Pendekatan etnografis dilakukan untuk mengamati kelompok-kelompok penanggap dan penonton pergelaran wayang kulit Jawatimuran. Penelitian dilakukan dengan cara penelitian lapangan atau grounded research, untuk memahami pola-pola relasi dalang dengan kerabat, kelompok penanggap dan penonton. Data yang diperoleh penelitian lapangan diolah dengan konsep habitus, arena, modal, dan praktik. Analisis pengelolaan pergelaran wayang dikaji dengan konsep arena dan analisis naratif. Dunia pergelaran Wayang Jèkdong dapat dipandang sebagai praktik dalam dan bagi kolektif Jawatimuran yang mengandung pergulatan-pergulatan budaya, ekonomi, sosial, politik, dan simbolik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa, ruang pergelaran Wayang Jèkdong merupakan arena sosial yang erat dengan tradisi hajatan masyarakat Jawatimuran. Tradisi hajatan mampu berlangsung hingga sekarang karena sistem kepercayaan masyarakat dan solidaritas sosial masyarakat Jawatimuran masih kuat. Praktik pergelaran Wayang Jèkdong, juga masih kuat karena dukungan komunitas penanggap, terutama relasinya dengan tradisi hajatan. Beberapa model pengelolaan modal untuk hajatan dan menanggap wayang adalah: (1) model nyalap-nyaur (memberimengembalikan), sumbangan dalam bentuk in-natura; (2) model buwuh, sumbangan dalam bentuk uang; (3) model arisan hajatan dan arisan nanggap wayang. Prinsip nyalap-nyaur berpedoman pada konsep gentian (bergulir) atau saling pengertian, tolongmenolong, timbal-balik (mutuality atau reciprocity). Faktor penting keberlangsungan pergelaran Wayang Jèkdong dalam rangka hajatan dan acara-cara lain ialah faktor ‘rasa percaya’ bahwa Wayang Jèkdong memberi manfaat spiritual dan modal simbolik bagi penanggap.

This research showcases problems in the management of commissioners’ community and Wayang Jèkdong performances with the case study on Ki Surwedi. Ki Surwedi is the gateway to the understanding of Wayang Jèkdong performances and art management. The research aims to describe cultural phenomenon of Wayang Jèkdong by Ki Surwedi in its relation to the commissioners, audiences, and various social institutions from the village to the regional level. Etnographic methodology was employed to observe the commissioner groups and audiences of Wayang Jèkdong. A field study or grounded research is done to understand the relationship patterns between the performer and relatives, commissioners, and audiences. The obtained data were processed through the concept of habitus, arena, capital, and practices. Wayang performance management was analysed through the concept of arena and narrative analysis. The realm of Wayang Jèkdong performance can be seen as a practice within and for East Java collective community that contains cultural, economy, sociopolitics, and symbolic struggles. According to the result, Wayang Jèkdong performative space is a social arena tight with celebrative tradition in East Java society. Celebrative tradition is maintained due to the belief system and strong social solidarity within the aforementioned society. Wayang Jèkdong performance is still solid through the support of the commisioners, especially in its close relation to celebration. Some models of capital management in performing wayang are: (1) nyalap-nyaur model (giving-returning the donation in-natura); (2) buwuh (donation in form of money); (3) arisan hajatan and arisan nanggap wayang. Nyalap-nyaur is based on the concept of mutual understanding, mutuality, and reciprocity. The important factor in the sustainability of Wayang Jèkdong performance is the factor of ‘trust’ that the performance will bring about spiritual benefits and symbolic capital to the commisioners.

Kata Kunci : Tatakelola, Hajatan, Pergelaran Wayang Jèkdong, Model nyalap-nyaur, Model buwuh, Model arisan.


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.