KERAWANAN PANGAN PADA TINGKAT RUMAH TANGGA DI PROVINSI NUSA TENGGARA TIMUR, 2008 DAN 2011
Anna Ellenora Nainupu, Prof. Dr. Tri Widodo, M.Ec.Dev.,
2013 | Tesis | S2 Magister Ek.PembangunanTujuan penelitian ini adalah melakukan analisis tentang kerawanan pangan pada tingkat rumah tangga di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) dengan menggunakan data Susenas 2008 dan 2011. Berdasarkan peta kerawanan dan kerentanan pangan 2009 tercatat sebanyak 86,67 persen kabupaten di NTT dikategorikan rentan dan rawan pangan. Selain itu, NTT merupakan satu-satunya provinsi di Indonesia dengan prevalensi underweight (berat badan rendah) pada balita yang sangat buruk (≥ 30 persen) yaitu sebesar 33,60 persen dan juga kasus stunting (gizi kurang) pada balita yang berada pada tingkat yang sangat buruk ( ≥ 40 persen) yaitu sebesar 46,70 persen (DKP, 2009). Di tingkat regional, produksi padi NTT belum mencukupi kebutuhan masyarakat NTT, tetapi produksi jagung sudah melebihi total kebutuhan masyarakat NTT (BPS, 2012). Di sisi lain, persentase pengeluaran rumah tangga akan beras di NTT mengalami peningkatan, sedangkan untuk jagung mengalami penurunan dari tahun 2008 ke tahun 2011. Status kerawanan pangan pada tingkat rumah tangga dihitung menggunakan garis kerawanan pangan untuk Indonesia (1400 kkal/orang/hari). Ukuran yang dipakai dalam penelitian ini adalah headcount index, tingkat kedalaman kerawanan pangan, dan tingkat keparahan kerawanan pangan pada tingkat rumah tangga. Didapati bahwa terjadi peningkatan persentase rumah tangga rawan pangan, tingkat kedalaman kerawanan pangan rumah tangga, dan tingkat keparahan kerawanan pangan pada tingkat rumah tangga di NTT dari tahun 2008 ke tahun 2011. Hasil analisis model probit mendapati bahwa dari tujuh variabel penjelas yang digunakan, hanya variabel jenis kelamin KRT yang tidak berpengaruh terhadap kerawanan pangan rumah tangga di NTT. Umur KRT, lama sekolah KRT, dummy pendapatan per kapita rumah tangga, dummy lapangan usaha KRT (pertanian) berpengaruh negatif terhadap kerawanan pangan rumah tangga, sedangkan variabel dummy daerah tempat tinggal rumah tangga (perkotaan) dan jumlah ART mempunyai pengaruh positif terhadap kerawanan pangan rumah tangga. Dummy pendapatan per kapita per bulan rumah tangga memberikan nilai marginal effect terbesar bagi kerawanan pangan rumah tangga di NTT yaitu sebesar 30 persen di tahun 2008 dan 38 persen di tahun 2011.
The purpose of this study is to analyze household food insecurity in East Nusa Tenggara Province (NTT) using the data from National Socio Economic Survey 2008 and 2011. The Food Security and Vulnerability Atlas/FSVA 2009 show that there were 86,67 percent of the district is classified as vulnerable and food insecure. Moreover, NTT is the only province in Indonesia with the prevalence of underweight in infants are very high/critical (≥ 30 percent) in the amount of 33,60 percent and also cases of stunting among children under five who are at a very high/critical (≥ 40 percent) in the amount of 46,70 percent (DKP, 2009). At the regional level, the production of rice in the province has not been sufficient, but the production of corn has exceeded the total needs of people in NTT (BPS, 2012). On the other hand, the percentage of household expenditure for rice in the province has increased, while for corn has decreased from 2008 to 2011. The food insecurity status of households was calculated using food insecurity line for Indonesia (1400 kcal/person/day). The measures applied in this study are headcount index, food insecurity gap, and squared food insecurity gap. It was found that there were increase in the headcount index, the depth, and severity of household food insecurity in the province from 2008 to 2011. The results of the probit model analysis found that only the household head’s sex which had no effect on household food insecurity status in the province. Household head’s age, household head’s years of schooling, dummy monthly income per capita household, dummy household head’s main industry (agriculture) were found negatively affect in determining household food insecurity status, while the dummy residential households area (urban) and household size has a positive impact on the household food insecurity status. Dummy monthly income per capita household provide the greatest value for the marginal effect of household food insecurity in the province that is equal to 30 percent in 2008 and 38 percent in 2011.
Kata Kunci : kerawanan pangan pada tingkat rumah tangga, probit, Provinsi Nusa Tenggara Timur.