PERANCANGAN LABORATORIUM CAMPURAN HRS-BASE DENGAN MENGGUNAKAN ABU BUNGKIL BIJI JARAK SEBAGAI FILLER
ADE CHANDRA, Dr. Ir. Latif Budi Suparma, M.Sc.,
2013 | Tesis | S2 Mag. S. & T.TransportasiProses ekstraksi minyak biji jarak menghasilkan limbah berupa bungkil biji jarak, limbah ini akan mengganggu lingkungan jika tidak dikelola dan dimanfaatkan dengan baik. Ditengah sulitnya mendapatkan debu batu yang telah banyak digunakan sebagai filler campuran aspal, maka dicoba alternatif lain bahan sebagai filler pada campuran aspal, dengan memanfaatkan bungkil biji jarak yang diproses menjadi abu melewati pembakaran, diharapakan nantinya abu bungkil biji jarak dapat digunakan sebagai filler dan mampu memperbaiki karakteristik campuran aspal, sehingga dapat membantu pemerintah dalam menggunakan bahan daur ulang untuk menghasilkan produk yang bermanfaat. Penelitian dilakukan dengan membuat benda uji campuran HRS-Base dengan 5 variasi filler, yaitu variasi 1 (100% debu batu + 0% abu bungkil biji jarak), variasi 2 (75% debu batu + 25% abu bungkil biji jarak), variasi 3 (50% debu batu + 50% abu bungkil biji jarak), variasi 4 (25% debu batu + 75% abu bungkil biji jarak), variasi 5 (0% debu batu + 100% abu bungkil biji jarak), pengujian yang dilakukan berupa pengujian Marshall dengan lama perendaman 0,5 dan 24 jam, dan pengujian Indirect tensile strength. Kadar aspal optimum untuk variasi 1, 2, 3, 4, dan 5, masing-masing 6,5%, 6,7%, 6,9%, 7,2%, dan 7,4%. Penggunaan abu bungkil biji jarak pada campuran HRS-Base menyebabkan nilai density, VMA, stabilitas, dan Marhall Quotient semakin menurun, sedangkan nilai flow semakin meningkat, serta nilai VITM, dan VFWA tidak terjadi perubahan yang signifikan, seiring dengan peningkatan penggunaan filler abu bungkil biji jarak. Nilai indeks perendaman yang dihasilkan untuk variasi 1, 2, 3, 4, dan 5 masing-masing sebesar 94,4%, 90,5%, 88,6%, 81,4%, dan 82,2%. Sedangkan nilai Tensile Strength Ratio (TSR) yang dihasilkan untuk variasi 1, 2, 3, 4, dan 5 masing-masing sebesar 90%, 84%, 77%, 73%, dan 68%.
Jatropha oil extraction process produces waste in the form of oilcake seed, this waste will interfere with the environment if not properly managed and utilized. Amid the difficulty of getting dust rocks that have been widely used as a filler mixture of asphalt, then try other alternatives as a filler material in the asphalt mix, using a jatropha oilcake seed to ashes through the combustion process, expected later ash oilcake seed jatropha can be used as a filler and was able to fix characteristics of asphalt mixtures, which can help the government in using recycled materials to produce useful products. The research was conducted by making specimens HRS-Base mixture with 5 filler variation, namely variation 1 (100% dust rock + 0% ash oilcake seed jatropha), variation 2 (75% dust rock + 25% ash oilcake seed jatropha), variation 3 (50% dust rock + 50% ash oilcake seed jatropha), variation 4 (25% dust rock + 75% ash oilcake seed jatropha), variation 5 (0% dust rock + 100% ash oilcake seed jatropha), the testing was done by Immersion Marshall test with 0.5 and 24 hours, and Indirect Tensile Strength test. Optimum asphalt content for a variety of 1, 2, 3, 4, and 5, respectively 6.5%, 6.7%, 6.9%, 7.2%, and 7.4%. The use of ash oilcake seed jatropha in the mix HRS-Base cause the value of density, VMA, stability, and Marhall Quotient decreases, while the value of flow increases, and the value VITM, and VFWA no significant changes, along with increased use of filler ash oilcake seed jatropha. Immersion Index value generated for variations 1, 2, 3, 4, and 5 respectively 94.4%, 90.5%, 88.6%, 81.4%, and 82.2%. While the value of Tensile Strength Ratio (TSR) is generated for variations 1, 2, 3, 4, and 5 respectively 90%, 84%, 77%, 73%, and 68%.
Kata Kunci : Abu bungkil biji jarak, filler, HRS-Base.