Laporkan Masalah

STRUKTUR DAN KULTUR DOMINASI: RELASI AGENSI DAN STRUKTUR DALAM PEMBENTUKAN KULTUR PRAJURIT TNI ANGKATAN DARAT PADA ERA REFORMASI

Kitaran Joy Sihontang, Prof.Dr. Irwan Abdullah

2013 | Disertasi | S3 Kajian Budaya dan Media

Secara institusional, TNI pernah sangat mendominasi sistem sosial dan politik dalam negeri pada masa Orde Baru. Dominasi sosial politik tersebut berakhir seiring berakhirnya kekuasaan mantan Presiden Soeharto pada masa Reformasi. Pengaturan berakhirnya dominasi tersebut ditandai oleh keluarnya berbagai regulasi antara lain Undangundang Nomor 3 tahun 2002 tentang Pertahanan Negara,Undang-undang Nomor 34 tahun 2004 tentang TNITap MPR No.VI Tahun 2000 tentang pemisahan TNI dan Polri, Tap MPR No.VII Tahun 2000 tentang peran TNI dan peran Polri. Selanjutnya, institusi TNI melakukan pembenahan dan reformasi institusional berupa penataan dalam hal reposisi, redefenisi dan reformasi institusi TNI. Kendati secara struktural-institusional TNI telah melakukan sejumlah langkah reformasi, namun tidak demikian halnya dengan reformasi pada sektor kultural-personal prajurit TNI. Pada aspek personal keprajuritan, kultur prajurit TNI masih didominasi oleh kultur lama yang feodalistik. Terdapat semacam pergeseran praktek dominasi, jika pada masa Orde Baru praktek dominasi lebih condong bersifat strukturalinstitusional, maka pada masa era reformasi praktek dominasi tersebut bersifat kultural-personal. Untuk menemukan praktek dominasi yang bersifat kultural-personal keprajuritan tersebut, penelitian ini fokus pada praktek militansi, disiplin, loyalitas, dan jiwa korsa sebagai empat kultur dasar prajurit TNI. Latar belakang tersebut memunculkan pertanyaan yang menjadi rumusan masalah dalam penelitian ini ; mengapa kultur dominasi pada institusi TNI AD dapat terbentuk dan dipraktikkan sebagai suatu sistem yang sah? Untuk menjelaskan permasalahan tersebut, penelitian ini menggunakan keranga pemikiran agensi dan strukturasi yang ditawarkan oleh Antony Giddens serta kerangka pemikiran habitus yang digagas oleh Pierre Bourdieu. Pemaparan Giddens tentang relasi agen dan struktur membantu penelitian ini menemukan bagaimana proses militansi, disiplin, loyalitas, dan jiwa korsa pada prajurit TNI tersebut terbentuk sebagai sebuah realitas kultural. Sementara untuk menemukan bagaimana realitas kultural tersebut bekerja menjadi kultur prajurit yang dominasi (bahkan pada beberapa konteks bersifat menindas) peneliti ini menggunakan kerangka pemikiran Pierre Bourdieu tentang habitus. Data dalam penelitian kualitatif ini diperoleh dengan teknik observasi, wawancara mendalam dan focus group discussion terhadap sejumlah prajurit TNI AD dari berbagai jenjang kesatuan dan kesenjataan serta sejumlah Jenderal purnawirawan yang pernah menjabat pada masanya. Selain itu, data penelitian diperoleh juga melalui studi dokumen dan kepustakaan untuk memperoleh data yang bersifat dokumen otentik. Data yang terkumpul selanjutnya dianalisis dengan teknik khas kualitatif, diproses dalam sejumlah kategori yang mengarah pada upaya generalisasi untuk kemudian disajikan dalam bentuk laporan penelitian secara interpretative dan descriptive. Penelitian ini menemukan bahwa militansi, disiplin, loyalitas, dan jiwa korsa TNI AD terbentuk melalui interaksi sadar antara prajurit sebagai agensi dan TNI sebagai struktur yang memuat seperangkat aturan dan sanksi. Interaksi tersebut bersifat saling kontributif dan mempengaruhi. Pengaruh tersebut bersifat internal dan kontekstual, pada gilirannya proses tersebut melahirkan semacam doxa. Kultur prajurit yang menjadi doxa ini terjadi dengan efektif pada masa pendidikan. Sehingga masa pendidikan prajurit merupakan sarana (field) tempat berlangsungnya proses terbentuknya kultur prajurit TNI AD. Selain relasi keduanya yang saling mempengaruhi secara internal, penelitian ini menemukan proses interaksi internal dalam institusi TNI AD tersebut dipengaruhi secara eksternal oleh kultur feodalistik peninggalan sistem kerajaan masa lalu di Jawa. Kombinasi antara prosesi internal dan eksternal dalam proses terbentuknya kultur prajurit tersebut melahirkan budaya dominatif. Budaya dominasi ini sulit direformasi sebab bersifat presepsional melalui proses internalisasi nilai yang berlangsung dalam waktu yang sangat lama. Inilah yang menghantarkan pada kultur yang cenderung mempraktikkan penindasan yang dinikmati dan dirayakan oleh seluruh prajurit TNI-AD. Untuk keluar dari budaya dominasi pada diri prajuirt TNI AD yang cenderung mempraktekkan penindasan, penelitian ini merekomendasikan perbaikan materi pelatihan pada masa pendidikan yang berwawasan antropologis dan kultural. Sebagai bangsa yang kaya dengan nilai kultural, TNI AD perlu memperkaya perspektif materi pendidikannya dengan mengambil nilai budaya yang tidak mempraktekkan feodalistik. Perubahan tersebut mengarah pada pendekatan humanistik dalam pembentukan kultur prajurit TNI AD.

Institutionally, the Indonesian National Military (TNI) in the New Order era dominated the social and political system in Indonesia. The domination ended by the falling of the Soeharto regime and the emergence of the Reformation era. Some regulations indicating the ending of the domination include the Decree number 3 issued in 2002 on National Defense, the Decree number 34 on TNI, a decree issued by the Indonesian Legislative Body (TAP MPR) No. VI in 2000 on the separation of the Indonesian National Police (POLRI) from the TNI and the TAP MPR No.VII in 2000 on the roles of TNI and POLRI. In addition, the TNI has institutionally gone through some reformations and reorganizations including reposition, redefinition and institutional reformation. Nevertheless, the TNI has not undertaken cultural reformation especially on the military-cultural personnel although institutionally it has done so. On the military-cultural personnel aspect, the TNI personnel culture is still dominated by the long-existing feudalistic. This work, therefore, focuses on the practices of militancy, discipline, loyalty, and esprit de corps as the four basics of the culture of the TNI personnel. To discuss the issue, this project employs the agency and structure of Anthony Giddens and habitus of Pierre Bourdieu theories for analytical purposes. The data collection of this qualitative work is conducted through observation, in-depth interview and focused group discussion (FGD) with a number of key informants from the TNI AngkatanDarat (Indonesian army), from those with lower, middle and upper ranks as well as those who are pension from the TNI AD with experience of having strategic positions. Documentation is also done to support the data collection for important documents and library research to support literature data. The data is analyzed in a qualitative way using categories with interpretive and descriptive approaches. The work finds that militancy, discipline, loyalty, and esprit de corps of the TNI AD personnel is originated from conscious interaction between personnel as the agent and the TNI AD as the structure having a rule and punishment system. The interaction is mutual contributive and interinfluencing. The influence is internal and contextual leading to establish a doxa. This culture of personnel becoming the doxa grows effectively in the military training and education process. Thus, the era of training and education of personnel plays as the field or the place of the growing of the culture of the TNI AD personnel. Besides the interaction that is internally inter-influencing, this project also finds that the internal interaction is also influenced externally from the feudalistic culture inherited from the Javanese kingdoms in the past. The combination of the internal and external aspects in the formulation of the culture of the TNI AD personnel lead to the growing of the culture of domination in the institution, which is hard to reform since it is internalized by the personnel in a perceptional and long period of time. Finally, this work recommends that the materials and contents of the training and education need to be reformed so that they are anthropologically and culturally supporting the better culture building. The TNI AD is encouraged to enrich the perspectives of the materials for the training and education, especially from Indonesian cultures but not the feudalistic one. The cultural changes are to lead to the use of humanistic approach in the formulation process of the culture of the TNI AD personnel.

Kata Kunci : TNI AD, kultur dominasi, militansi, disiplin, loyalitas, dan jiwa korsa


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.