ANALISIS KONTRASTIF KALIMAT PASIF BAHASA INDONESIA DAN BAHASA JEPANG
Ita Fitriana, Prof . Dr. I Dewa Putu Wijana, S.U., M.A
2013 | Tesis | S2 LinguistikTesis ini bertujuan untuk (1) mendeskripsikan kembali kaidah kalimat pasif bahasa Indonesia dan bahasa Jepang; (2) menemukan penanda kalimat pasif bahasa Indonesia dan bahasa Jepang; (3) mendeskripsikan persamaan dan perbedaan antara kalimat pasif bahasa Indonesia dan bahasa Jepang. Pada tahap penyediaan data, data dikumpulkan dengan metode deskriptif. Metode dalam analisis data adalah metode analisis kontrastif. Penyajian hasil analisis data dilakukan dengan metode penyajian informal. Pemasifan bahasa Indonesia dijelaskan melalui perubahaan morfologis pada verbanya, misalnya pasif bahasa Indonesia dengan menggunakan penanda di-, ter-, ke-an, dan diri. Sementara itu, pemasifan dalam bahasa Jepang dijelaskan berdasarkan verba dan objek nomina yang menyertai kalimat pasif tersebut. Verba bahasa Jepang terbagi atas verba konsonan, verba vokal, dan verba tak beraturan. Penanda kalimat pasif bahasa Jepang yaitu: penanda ni + V-areru untuk verba konsonan, penanda ni + V-rareru untuk verba vokal, ni + V-areru untuk verba tak beraturan, dan ni yotte + V-areru/V-rareru untuk subjek nomina tak bernyawa. Pemasifan kalimat bahasa Indonesia ada dua yaitu pemasifan langsung yang menggunakan verba transitif dan pemasifan tak langsung yang menggunakan verba intransitif. Demikian pula dengan pemasifan kalimat bahasa Jepang ada dua yaitu pemasifan langsung dan pemasifan tak langsung. Namun, pemasifan tak langsung bahasa Jepang bisa menggunakan verba transitif maupun verba intransitif. Kalimat pasif bahasa Jepang dapat menyatakan selesainya suatu tindakan dan makna kurang menyenangkan pada subjek. Namun, berbeda dengan kalimat kalimat pasif bahasa Indonesia, selain memiliki makna selesainya suatu tindakan dan makna yang kurang menyenangkan, juga memiliki makna lain seperti makna kesanggupan dan makna ketidaksengajaan. Dalam perbandingan ditemukan kalimat pasif bahasa Jepang cenderung mengungkapkan sesuatu dari sudut persona pertama sehingga, pemakaian kalimat pasif bahasa Jepang tidak selazim kalimat pasif kalimat pasif bahasa Indonesia. Perbedaan kalimat pasif bahasa Indonesia dengan bahasa Jepang adalah pada pemasifan objek tak langsung bahasa Indonesia terdapat konfiks di-kan atau di-i yang mempunyai arti benefaktif. Perbedaan arti antara konfiks di-i dan di-kan yaitu pada penanda di-kan adalah kausatif, sedangkan di-i adalah lokatif. Sementara itu, penanda pasif bahasa Jepang yaitu V-areru/ V-rareru hanya berfungsi sebagai pasif saja tidak bisa menunjukkan suatu makna kausatif atau lokatif. Selain itu, perbedaan kalimat pasif bahasa Indonesia dan bahasa Jepang yang lain adalah subjek kalimat pasif bahasa Jepang penting diketahui apakah nomina pada subjek kalimat tersebut adalah nomina bernyawa ataukah tidak. Subjek pada kalimat pasif bahasa Jepang harus berupa nomina tak bernyawa dengan penanda ni yotte +V-areru/ V-rareru, namun tidak semua nomina tak bernyawa tidak boleh dijadikan sebagai subjek. Dalam hal ini, nomina tak bernyawa bisa dijadikan subjek kalimat pasif asalkan subjek nomina tersebut diikuti oleh kata kerja yang memiliki arti membuat atau menciptakan sesuatu seperti verba tsukuru `membuat`, kensetsu suru `membangun`, hakken suru `menemukan` dan lain sebagainya. Subjek nomina tak bernyawa ini menggunakan konstruksi -ni yotte + V-areru/ V-rareru. Sementara itu, kalimat pasif bahasa Indonesia tidak mempedulikan subjek nomina yang menyertai kalimat pasif tersebut apakah subjek nomina itu bernyawa ataukah tak bernyawa.
This study aims at (1) describing the rules of the passive voice in Indonesian and Japanese languages, (2) finding the markers of passive sentences in Indonesian and Japanese languages, (3) describing the similarities and differences of passive sentences in Indonesian and Japanese. The data is collected by the descriptive method. The method of data analysis is contrastive analysis. The result of data analysis is presented by method. Indonesian passivization explained by the change of morphology on the verb, for example Indonesian language passive using markers di-, ter-, ke-an, and diri. Meanwhile, Japanese language passivization is described by verbs and nouns functioning as object in passive sentences. Japanese verbs are divided into consonant verbs, vowel verbs, and irregular verbs. Passive sentences in Japanese language are marked by: marker ni + V-areru for consonant verbs, markers ni + V-areru for vocal verbs, ni + V-areru for irregular verbs, and ni + yotte V-areru/V-rareru for verbs that is followed as object inanimate nouns. There are two kinds of passivization in Indonesian: direct passive using transitive verbs and indirect passive using intransitive verbs. Similarly there are two passivization in Japanese: passivization using direct object and using indirect object. However, the indirect passivization of Japanese can use transitive verbs or intransitive verbs. Japanese passive sentences express the completion of an action and unpleasant meaning. In comparison Japanese passive sentence is not used as regularly as Indonesian passive, because Japanese passive tends to express point of view first person. The difference found in Indonesian passive sentences is that in the indirect passivization, there is confix di-kan or di-i which has the same meanings that is: benefactive and lokative. Meanwhile, the difference between confix di-i and di-kan is that di-i is locative. Japanese passive sentence markers are V-areru / V-rareru which functions as passive which cannot demonstrate a causative or locative meaning. In addition, other difference between passive sentences in Indonesian and Japanese is that in Japanese it is important to know whether the subject
Kata Kunci : Kalimat Pasif, Analisis Kontrastif, Gobi Gokan, Indonesia Jepang.