STUDI PERBANDINGAN BAHASA MUNA DAN WAKATOBI DI SULAWESI TENGGARA (TINJAUAN SINKRONIS DAN DIAKRONIS)
MAULID TAEMBO, Dr. Inyo Yos Fernandez, M.A.,
2013 | Tesis | S2 LinguistikPenelitian ini mengkaji perbandingan bahasa Muna (Mn) dan bahasa Wakatobi (Wk) di Provinsi Sulawesi Tenggara. Adapun, bahasa Mn melibatkan dua dialek, yaitu dialek Tongkuno (DT) di Kabupaten Muna dan dialek Mawasangka (DM) di Kabupaten Buton. Kajian ini dirumuskan melalui sudut pandang sinkronis dan diakronis. Hasil kajian sinkronis menunjukan bahwa kedua bahasa tersebut memperlihatkan relasi kekerabatan yang cukup erat dalam sistem fonologis, leksikal, dan morfem terikat. Bahasa Mn dan Wk sama-sama memperlihatkan adanya alofon [a:], [i:], [e:], dan [o:] sebagai realisasi bunyi vokal panjang, fonem konsonan implosif bilabial /É“/, implosif alveolar /É—/, dan frikatif velar /Ä/, serta suku katanya selalu terbuka atau berkategori bahasa vokalis dengan frekuensi terbanyak yaitu kata bersuku dua. Kaitannya dengan morfem terikat, Bahasa Mn (DT dan DM) memiliki prefiks /ti-/ sebagai pembentuk verbal pasif yang terealisasi dengan prefiks /to-/ atau /te-/ dalam bahasa Wk, dan adanya variasi bebas sufiks /-e/ dalam kedua bahasa tersebut. Adapun, hasil kajian diakronis dengan teknik leksikostatistik menunjukkan tingkat kekerabatan DT-DM, 83.8%; DT-Wk, 44.44%; dan DM-Wk, 43.43%. Berdasarkan persentase tersebut, DT dan DM menunjukkan relasi yang lebih erat dibandingkan bahasa Wk karena DT dan DM berada pada tingkat kategori bahasa. Sedangkan, hubungan DT dan DM dengan Wk berada pada tingkat subkeluarga bahasa. Hasil kajian diakronis dengan pendekatan kuantitatif ini didukung oleh kajian diakronis yang bersifat kualitatif. Adapun, kajian diakronis kualitatif hanya melibatkan DT yang merupakan perwakilan dari bahasa Mn sebagai dialek relik/standar dan bahasa Wk. Bahasa Mn dan Wk menunjukkan adanya korespondensi fonem yang teratur. Fonem /Ä/, /f/, /b/, /É—/, dan /a/ dalam bahasa Mn berkorespondensi masing-masing dengan /á´“/, /h/, /w/, /j/, dan /e/ pada posisi ultima dan penutilma dalam bahasa Wk. Evidensi fonologis dan leksikal pemisah dan penyatu kelompok Mn-Wk melalui rekonstruksi PMnWk memperkuat keeratan relasi kekerabatan kedua bahasa tersebut. Selanjutnya, fonem PAN *a, *i, *u, *b, *k, *l, *m, *n, *p, *s, dan *t mengalami retensi secara bersama dalam bahasa Mn dan Wk pada posisi ultima dan penutilma. Adapun, fonem PAN *e, *u, *i, *b, *q, dan *Æž mengalami inovasi bersama secara eklusif dalam bahasa Mn dan Wk. Selain itu, juga ditemukan keterwarisan bentuk etimon dan refleks morfem terikat PAN secara bersama pada kedua bahasa tersebut. Keterwarisan bentuk etimon proto Muna-Buton terhadap bahasa Mn dan Wk semakin memperkuat keeratan relasi kekerabatan antarkedua bahasa tersebut dalam subkelompok bahasa Muna-Buton-Wakatobi.
This research aims at investigating the genetic relationship between Muna (Mn) and Wakatobi (Wk) languages in Southeast Sulawesi. However, Mn language includes two dialects, namely Tongkuno dialect (DT) in Muna regency and Mawasangka dialect (DM) in Buton regency. This research was conducted based on the synchronic and the diachronic studies. The synchronic study shows that both languages have closed relationship in phonological, lexical, and bound morpheme. Mn and Wk languages have allophones of [a:], [i:], [e:], and [o:] as realization of long vowel sound, bilabial implosive consonant /É“/, alveolar implosive /É—/, velar fricative /Ä/, and all syllables are opened or categorized as vocalist languages with most words are two syllables. Related to bound morpheme, Mn language (DT and DM) has prefix /ti-/ as passive verbal former that is realized with prefix /to-/ or /te-/ in Wk, and also has free variation of suffix /-e/. In addition, the result of the diachronic study in quantitative approach which used the lexicostatistic technique shows that the relationship of DT-DM, 83.8%; DT-Wk, 44.44%; and DM-Wk, 43.43%. Based on the percentage, DT and DM show the higher relationship if it is compared to Wk since DT and DM are categorized as same language. While the relationship of DT-DM and Wk is categorized as different languages from the same language family. The result of diachronic study of quantitative approach is supported by qualitative diachronic study. Qualitative diachronic study involves only DT as the represent of Mn as relic/standard dialect, and Wk language. Mn and Wk languages show the regular phoneme correspondence. Phonemes of /Ä/, /f/, /b/, /É—/, and /a/ in Mn have regular correspondence for each phoneme of /á´“/, /h/, /w/, /j/, and /e/ on ultimo and penutilmo in Wk. Phonological and lexical evidences of separation and unity aspects in Mn-Wk group through the reconstruction of Proto Muna-Wakatobi (PMnWk) strengthen the closed family relationship of both languages. Next, Phonemes of PAN *a, *i, *u, *b, *k, *l, *m, *n, *p, *s, and *t undergo exclusively shared retention in Mn and Wk languages on ultimo and penutilma. Likewise, the phonemes of PAN *e, *u, *i, *b, *q, dan *Æž undergo exclusively shared innovation in Mn and Wk languages. Besides, it is also found the family relationship evidences of Mn and Wk languages by the reflection of etymon and bound morphemes of PAN toward both languages exclusively. The reflection of proto Muna-Buton etymon toward Mn and Wk languages strengthen the closed relationship of both languages in Muna-Buton-Wakatobi subgroup.
Kata Kunci : kajian sinkronis, kajian diakronis, pendekatan kuantitatif, pendekatan kualitatif, dan teknik leksikostatistik.