Laporkan Masalah

DISERTASI RELASI ISLAM DAN HINDU STUDI KASUS TIGA DAERAH DENPASAR KARANGASEM DAN SINGARAJA PERSPEKTIF MASYARAKAT MULTIKULTUR DI BALI

I Gede Suwindia, S.Ag.,MA., Prof. Dr. H.M.Machasin, MA

2013 | Disertasi | S3 Agama dan Lintas Budaya

Penelitian yang penulis angkat ini berjudul Relasi Islam dan Hindu Studi Kasus Tiga Daerah Denpasar, Karangasem dan Singaraja Perspektif Masyarakat Multikultur di Bali. Penelitian dilatar belakangi oleh kehidupan antar umat beragama di Bali, khususnya Islam dan Hindu di Tiga daerah. Yaitu Desa Pemogan, Desa Pegayaman dan Desa Budakeling. Ketiga desa ini memiliki keunikan tersendiri, di samping kebertahanan akan kehidupan antar agama yang dipegang oleh masyarakat sejak ratusan tahun yang lalu. Dalam situasi demikian penulis memiliki dugaan apakah budaya Bali menjadi penguat relasi Islam dan Hindu selama ini. Untuk memfokuskan penelitian ini penulis rumuskan dalam tiga pertanyaan penelitian yaitu: 1. Bagaimanakah dinamika relasi Islam dan Hindu di tiga daerah di Bali; 2. Faktor apakah yang membentuk relasi Islam dan Hindu di tiga daerah di Bali ?; 3. Apakah makna relasi Islam dan Hindu di tiga daerah Bali bagi konteks kebangsaan Indonesia sekarang ini ? Dalam penelitian penulis menggunakan metode deskriptif kualitatif. Data penulis ambil dengan memanfaatkan informan secara purposive sampling. Teknik pengambilan informasi dengan snow ball juga penulis pergunakan untuk memperdalam kajian ditambah dengan memanfaatkan sumber-sumber primer dari tokoh masyarakat. Sumber data selain wawancara di lapangan, penulis juga mempergunakan sumber data primer dan sekunder di perpustakaan baik di dalam maupun di luar negeri. Data penulis analisis dengan teknik deskriptif kualitatif, dengan tidak secara khusus menganalisis pada satu bab tersendiri, melainkan mengalir pada setiap bab. Dari hasil penelitian ini, penulis mendapatkan temuan bahwa relasi Islam dan Hindu di tiga daerah di Bali ini tetap bertahan karena faktor modal sosial yang dalam hal ini kearifan lokal kedua masyarakat yang dipegang teguh pada setiap jamannya. Konsep paras-paros, menyamaberaya, metilesang raga, nawang lek dan kearifan lainnya besar kontribusinya dalam relasi Islam dan Hindu di tiga daerah. Relasi Islam dan Hindu selama ini memang sangat dinamis, namun karena fondasi relasi sudah kokoh dengan mengedepankan sikap saling mengahargai serta ditambah dengan semangat multikultur, maka kedua komunitas semakin kuat fondasi kerjasamanya. Dalam konteks kehidupan Negara Kesatuan Republik Indonesia, peranan relasi Islam dan Hindu di tiga daerah ini mampu memberikan sumbangsih terutama dalam memperkuat dasar kehidupan yang ber-Bhinneka Tunggal Ika. Setelah penulis analisis, maka dapat disimpulkan bahwa factor historis, akar masa lalu serta ikatan kekerabatan menjadi faktor yang sangat menentukan terhadap relasi Islam dan Hindu di tiga daerah. Dinamika yang terjadi antara Islam dan Hindu terjadi sejak jaman kerajaan di masa lalu, telah teruji melewati masa-masa orde baru, orde reformasi hingga saat ini masih tetap harmoni. Dinamika dalam konteks sosial ekonomi memang tidak selalu mulus. Dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, relasi Islam dan Hindu ini dapat dimaknai dalam konteks kebertahanan relasi, karena terdapat simbol-simbol aktifitas sosial yang dapat diwariskan serta kasat mata berperan dalam menjaga kerukunan di tiga daerah.

This research aims at finding 1) the development of Islam and Hinduism relation at the three regions in Bali; 2) factors that contribute to establish the relation between Islam and Hinduism at the regions; and 3) the messages of Islam and Hinduism relation at these three regions for the existing context of Indonesian nation. This is a descriptive-qualitative research. The writer used purposive-sampling method to collect data from the research informants. The technique used to get information was snow balling besides making use primary sources from public figures to sharpen the research analysis. Besides exploring the data sources through interviews, he also made use the primary and secondary data taken from both domestic and oversea libraries. As a final point, the data having been collected was analyzed by using descriptive-qualitative method that was continually streaming from chapter to chapter. The research findings show that the relation between Islam and Hinduism in the three regions in Bali keeps going so far because of the social capital in which the local wisdom at the two communities is taken for granted from time to time. In addition, the concepts of paras-paros, menyamaberaya, metilesang raga, nawang lek and the else local wisdoms contribute a lot to establish the relation of Islam and Hinduism at the regions. The sodynamic relation of Islam and Hinduism is contributed by the established pillar that takes for granted not only the mutual-respect among the communities but also multicultural motives that function to strengthen the association as well. It is expected that the concept of the relation between Islam and Hinduism at the three regions in Bali contributes invaluably to strengthen the nation pillar of Bhinneka Tunggal Ika (Unity in Diversity) in the existing context of Indonesian nation. Based upon the research findings the writer draws some conclusions that historical factors, the past-rooted relation, and familial relationship become the primary factors that contribute a lot to establish the relation between Islam and Hinduism at these three regions. The dynamic relation between the two communities that had established in the Balinese Kingdoms years ago keeps going well so far, even though it has passed through several political eras as Old Order Era, New Order Era, and the existing Reformation Era. In terms of socio-economic contexts, however, there are disturbing troublesome, but those could be managed wisely. In terms of nation and state, the relation between Islam and Hinduism could be understood denotatively and connotatively, because there are several social symbols that could be descended from generations to generations and are understandable that contribute to save harmony at the regions. In addition, there are also symbols that could be understood connotatively in terms of the relation between Islam and Hinduism in Bali.

Kata Kunci : Relasi; Islam dan Hindu; Kearifan lokal; menyamabraya


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.