KONDISI LARING SAAT INTUBASI PADA DETIK KE 45 SETELAH ROKURONIUM 0,6 mg/kgBB IV Membandingkan Priming Dose dan tanpa Priming Dose Atrakurium 0,12 mg/kgBB IV
ERLINA ANA SEPRA LIBER SIGAI, Dr. Bhirowo Yudo Pratomo, Sp.An.,KAKV
2013 | Tesis | S2 AnestesiologiLatar Belakang: Pelumpuh otot pada RSII menggunakan suksinilkolin karenadapat memberikan kondisi intubasi yang baik dalam 60 detik, dengan terbatasnya ketersediaan dan efek samping pada pemakaian obat ini perlu dicari alternatif lain. Rokuronium mempunyai onset yang cepat dan mungkin dapat menjadi alternatif pada RSII. Penggunaan atrakurium sebagai priming dose terhadap dosis intubasi rokuronium diharapkan menghasilkan onset yang lebih cepat tanpa memperpanjang durasi blok. Tujuan : Untuk membandingkan kondisi laring saat intubasi pada detik ke 45 setelah rokuronium 0,6 mg/kgBB iv dengan atau tanpa priming dose atrakurium 0,12 mg/kgBB iv. Metode : Uji klinis secara acak dengan pembutaan ganda. Ruang lingkup adalah pasien yang menjalani bedah elektif dengan anestesi umum intubasi endotrakeal di GBST RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta yang terdiri dari laki-laki atau perempuan, usia 18-60 tahun dan status fisik ASA I dan II. Subyek berjumlah 88 pasien yang memenuhi kriteria inklusi, dibagi menjadi dua kelompok yang masing-masing terdiri dari 44 pasien. Kelompok A mendapatkan atrakurium 0,12 mg/kgBB iv dan kelompok B mendapatkan NaCl 0,9 % 1,5 cc iv. Induksi propofol 1,5 mg/kgBB, kemudian 3 menit setelah priming dose diberikan rokuronium 0,6 mg/kgBB, setelah 45 detik dinilai kondisi laring saat intubasi menurut skor Kreig dan berapa nilai TOF-nya dicatat kemudian dilakukan intubasi. Hasil : Kondisi laring saat intubasi pada detik ke 45 setelah rokuronium 0,6 mg/kgBB dengan priming dose atrakurium 0,12 mg/kgBB iv ‘baik sekali’ pada 97,7 % pasien dan ‘baik’ pada 2,3 % pasien, sedangkan kondisi laring saat intubasi pada detik ke 45 setelah rokuronium 0,6 mg/kgBB tanpa priming dose atrakurium 0,12 mg/kgBB iv ‘baik sekali’ pada 84,1 % pasien dan ‘baik’ pada 15,9 % pasien, secara statistik berbeda bermakna (p = 0,026). Kesimpulan : Pemberian priming dose atrakurium 0,12 mg/kgBB iv yang diikuti dengan rokuronium 0,6 mg/kgBB iv memberikan kondisi laring saat intubasi pada detik ke 45 yang lebih baik dibandingkan dengan rokuronium 0,6 mg/kgBB iv tanpa priming dose atrakurium 0,12 mg/kgBB iv (p = 0,026).
Background: Muscle relaxant on RSII using succinylcholine has an advantage of good intubation condition in 60 seconds, regarding of its limited availability and side effect on this regiment, other alternatives should be considered to find. Rocuronium has rapid onset and probably could serve as an alternative muscle relaxant on RSII. Atracurium usage as priming dose againts rocuronium intubation dose hopefully would produce such faster onset without block duration prolongation. Objectives : To compare the condition of larynx before intubation at 45th seconds after rocuronium 0.6 mg/kgBW iv with or without priming dose atracurium 0.12 mg/kgBW iv. Methods: This research was designed as a double blind randomized clinical trial. Subjects were 88 patients who underwent elective surgery with endotracheal intubation general anesthesia at GBST Dr. Sardjito Hospital Yogyakarta and met the inclusion criteria, male or female, age 18-60 years and physical status of ASA I and II. They were divided into two groups amounted equally. Group A received atracurium 0.12 mg/kgBW iv and group B NaCl 0,9 % 1,5 cc iv. All subjects received induction propofol 1.5 mg/kgBW, and rocuronium 0.6 mg/kgBW 3 minute after priming dose. After 45 seconds, larynx condition was observed using Kreig’s score and we recorded the TOF value. Intubation was performed. Results : The larynx condition at intubation after 45 seconds rocuronium 0.6 mg/kgBW showed 97.7 % 'excellent' score and 2.3 % 'good' score in grup A and grup B 84.1 % 'excellent' score and 15.9 % 'good' score. It was statistically significant (p = 0,026). Conclusion: Priming dose atracurium 0.12 mg/kgBW iv followed by rocuronium 0.6 mg/kgBW iv provides better larynx condition while intubation at 45th secondsthan rocuronium 0.6 mg/kgBW iv without priming dose atracurium 0.12 mg/kgBWiv (p = 0,026).
Kata Kunci : kondisi laring saat intubasi, rokuronium, atrakurium, priming dose.