Analisis Kinerja Strategi Investasi Lump-Sum dan Dollar Cost Averaging pada Saham Indeks LQ-45 di Bursa Saham Indonesia Periode 2008-2009
Kusno Bari Joyo, Dr. Hardo Basuki, M.Soc.Sc.
2013 | Tesis | S2 Magister ManajemenPenelitian ini bertujuan untuk menganalisis kinerja portfolio yang menggunakan strategi investasi lump-sum dan dollar cost averaging pada saham indeks LQ-45 pada periode 2008-2009. Pada periode tersebut tahun 2008 terjadi kondisi pasar saham yang menurun (krisis) dan tahun 2009 kondisi pasar saham yang menunjukkan kinerja yang membaik (pasca krisis), dengan penerapan strategi dalam kondisi tersebut diharapkan dapat memberikan gambaran strategi yang tetap untuk kondisi-kondisi pasar yang berbeda. Penelitian dilakukan dengan melakukan simulasi strategi investasi lump-sum (LS) dan dollar cost averaging (DCA) pada sampel saham indeks LQ-45 yang telah terpilih. Sample dipilih dengan menggunakan metode pusposive sampling dan dari hasil sampling tersebut terpilih 12 sample saham dari indeks LQ-45. Simulasi tersebut dilakukan dalam periode tahun 2008, 2009 dan 2008-2009 yang kemudian dihitung masing-masing periode simulasi tersebut HPR, Mean Return dan Deviasi Standarnya. Perhitungan kinerja portfolio dilakukan dengan indeks Sharpe, Treynor dan Jensen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada tahun 2008 strategi DCA tepat diterapkan karena terbukti menghasilkan kerugian paling kecil -33,61% dibandingkan kerugian yang dihasilkan strategi LS sebesar -49,79% dan risiko yang lebih kecil (dilihat dari deviasi standar) sebesar 13,64% dibandingkan 14,22% yang dihasilkan strategi LS. Tahun 2009 strategi LS tepat diterapkan karena terbukti menghasilkan return lebih besar 107,83% dibandingkan return yang dihasilkan strategi DCA sebesar 51,84% dan risiko yang lebih kecil (dilihat dari deviasi standar) sebesar 8,64% dibandingkan 9,00% yang dihasilkan strategi DCA. Tahun 2008-2009 strategi DCA tepat diterapkan karena terbukti menghasilkan return lebih besar 47,38% dibandingkan return yang dihasilkan strategi LS sebesar 8,60% dan risiko yang lebih kecil (dilihat dari deviasi standar) sebesar 12,71% dibandingkan 13,04% yang dihasilkan strategi LS. Berdasarkan indeks Sharpe, Treynor dan Jensen, kedua portfolio tahun 2008 menghasilkan peringkat yang berbeda, namun demikian portfolio strategi DCA mempunyai risiko relatif lebih kecil dibandingkan portfolio strategi LS 2008 (dilihat dari deviasi standar) dan menghasilkan rata-rata return yang lebih besar. Tahun 2009 berdasarkan indeks Sharpe, Treynor dan Jensen, kedua portfolio menghasilkan peringkat yang berbeda, namun demikian portfolio strategi LS mempunyai risiko relatif lebih kecil dibandingkan portfolio strategi DCA (dilihat dari deviasi standar) dengan rata-rata return yang hampir sama. Berdasarkan indeks Sharpe, Treynor dan Jensen, pada periode 2008-2009 kedua portfolio menghasilkan peringkat yang berbeda, namun demikian portfolio strategi DCA mempunyai risiko relatif lebih kecil dibandingkan portfolio strategi LS (dilihat dari deviasi standar) dengan rata-rata return yang hampir sama.
This study aims to analyze portfolio performance which applying lump-sum and dollar cost averaging investment strategies on the stocks in LQ-45 index for period 2008-2009. Implementation of the strategies in different market conditions, bearish (2008), bullish (2009) or both is expected to give investors view for a proper strategy to be applied in those market conditions. The study was conducted by simulating a lump-sum investment strategy (LS) and dollar cost averaging (DCA) in LQ-45 index’s stock that have been selected. Using purposive sampling method, 12 stock in LQ-45 index with meet the criterias were selected as a samples. The simulation was conducted for the period of 2008, 2009 and 2008-2009 then HPR, mean return, and standar deviation calculated for each simulation period. Portfolio performance calculated using index Sharpe, Treynor and Jensen. The DCA was appropriate to be applied in 2008 as shown in the result that generated loss -33.61% less than LS strategy which generated loss -49.79% and less risky (in terms of standard deviation) of 13.64% compared to 14.22% resulted by LS strategy. The LS was appropriate to be applied in 2009 as shown in the result that generated return by 107.83% higher than the DCA strategy which generated return only 51.84% and give lower risk (in terms of standard deviation) by 8.64% compared to 9.00% resulted by DCA strategy. In 2008-2009, DCA strategies was appropriate to be applied as shown in the result that generated return by 47.38% higher than return generated by LS strategy which is 8.60% and resulting lower risk (in terms of standard deviation) by 12.71% compared to 13.04% resulted by LS strategy. Based on the Sharpe, Treynor and Jensen’s indexes, both portfolios in 2008 produced different rankings, however the DCA strategy portfolio has relatively lower risk than portfolio with LS strategy (in terms of standard deviation) and generate higher average of return. In 2009 based on the Sharpe, Treynor and Jensen’s index, both portfolio produced different rankings, however LS strategy portfolio has relatively lower risk than portfolio with DCA strategy (in terms of standard deviation) and generated higher average of return. Based on the Sharpe, Treynor and Jensen’s index, in the period 2008-2009 both portfolios produced different rankings, however the DCA strategy portfolio has relatively lower risk than portfolio with the LS strategy (in terms of standard deviation) and generated higher average of return.
Kata Kunci : Lump-sum, dollar cost averaging, HPR, indeks Sharpe, indeks Treynor, indeks Jensen