Laporkan Masalah

TUNNELING DAN MODEL PREDIKSI: BUKTI EMPIRIS PADA TRANSAKSI PIHAK BERELASI

Ratna Candra Sari, SE.,M.Si.Ak., Prof. Dr. Zaki Baridwan, M.Sc

2013 | Disertasi | S3 Ilmu Akuntansi

Pemegang saham pengendali dapat mendapatkan manfaat privat atas kontrol pada kebijakan perusahaan yaitu kebijakan operasi dan kebijakan kontraktual dengan pihak lain. Cara untuk mendapatkan manfaat privat dari kebijakan kontraktual dengan pihak lain adalah melalui tunneling. Meskipun terjadi dalam praktik bisnis, namun tunneling sulit terdeteksi. Penelitian ini bertujuan untuk menguji hipotesis tunneling dan membangun model prediksi tunneling. Hipotesis tunneling dalam penelitian ini didefinisikan sebagai transaksi pihak berelasi yang digunakan untuk men-tunnel sumber daya keluar perusahaan publik untuk kepentingan pemegang saham pengendali. Dalam penelitian ini tunneling dibagi berdasarkan sumber daya yang di-tunnel yaitu cash flow tunneling dan asset tunneling. Pengujian hipotesis menggunakan sampel perusahaan publik yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia tahun 2008-2010. Hasil pengujian cash flow tunneling menunjukkan bahwa dari perspektif perusahaan yang di-tunnel, transaksi perdagangan dan piutang kepada pihak berelasi berpengaruh negatif terhadap kinerja perusahaan. Hasil pengujian asset tunneling menunjukkan bahwa transaksi asset berelasi tidak berpengaruh negatif terhadap kinerja perusahaan yang ditunnel. Perusahaan yang banyak melakukan transaksi berelasi yang terindikasi tunneling adalah perusahaan dengan kepemilikan terkonsentrasi dan mempunyai tingkat free cash flow tinggi. Pembentukan model prediksi menggunakan data laporan keterbukaan informasi transaksi afiliasi dan benturan kepentingan perusahaan sektor rill tahun 2010-2011. Berdasarkan metode penilaian tunneling, transaksi yang dikategorikan sebagai cash flow tunneling sebanyak 40,5% dan aset tunneling sebanyak 34%. Perusahaan yang mengumumkan transaksi berelasi yang terindikasi tunneling memperoleh abnormal return negatif pada saat pengumuman transaksi berelasi. Perusahaan dengan kepemilikan terkonsentrasi mempunyai kecenderungan tinggi untuk menjadi obyek tunneling dibanding perusahaan dengan kepemilikan tersebar. Rasio rofitabilitas mampu membedakan perusahaan yang di-tunnel dan yang tidak.

This study focuses on the expropriation of non-controlling shareholders through tunneling activity. Current study in tunneling still found obstacles in measurement because it is difficult to prove, although tunneling activity going on in business practices. The objective of this is to examine tunneling hypothesis and develop tunneling prediction model. This study defines the tunneling hypothesis as related party transactions that are used to tunnel out of public companies’s resource for the benefit of the controlling shareholder. Tunneling in this study was divided based on the resources being tunneled that are cash flow tunneling and asset tunneling. Testing the tunneling hypothesis using sample of publicly traded companies listed on the Indonesia Stock Exchange in 2008-2010. The test of cash flow tunneling hypothesis show that from being-tunneled company perspective, trade and receivables to related party negatively affect the company's performance. The test of asset tunneling hypothesis show that asset transactions to related party do not have negative impact on being-tunneled company’s performance. Companies that did a lot of related party transactions which indicated tunneling is a company with concentrated ownership and have high levels of free cash flow. The formation a predictive model using data of disclosure of statements affiliate and conflict of interest transactions 2010-2011. Based on the assessment method of tunneling, the transaction is classified as cash flow tunneling as 40.5% and asset tunneling as 34%. The company which announced related party transaction which indicated tunneling obtain negative abnormal return during the announcement of the related party transaction. Companies with concentrated ownership have a higher tendency to be the object of tunneling than firms with dispersed ownership. The company's profitability ratios able to distinguish between being –tunneled companies and which are not.

Kata Kunci : -


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.