Laporkan Masalah

KEJADIAN DAN FAKTOR RISIKO BRUSELOSIS PADA PETERNAK DAN PEKERJA PETERNAKAN SAPI PERAH DI KABUPATEN SLEMAN

Novia Herwandi, Prof. Drh. Setiawan Budiharta, MPH., Ph.D

2013 | Tesis | S2 Ilmu Kesehatan Masyarakat

Latar belakang: Penyakit bruselosis merupakan zoonosis kontak langsung atau tidak langsung dengan hewan terinfeksi atau produk asal hewan yang terkontaminasi. Onset penyakit pada manusia yang panjang dan pemulihan yang membutuhkan waktu yang lama menjadikan penyakit ini penting secara ekonomis. Laporan dari Dinas Pertanian, Perikanan dan Kehutanan Kabupaten Sleman pada tahun 2011 terjadi peningkatan penemuan kasus positif bruselosis pada sapi di Kabupaten Sleman, 25 ekor positif uji complement fixation test (CFT). Kemungkinan adanya keterkaitan antara kejadian bruselosis pada ternak sapi perah dengan kejadian bruselosis pada peternak. Tujuan: Mendeteksi kejadian bruselosis pada peternak dan pekerja peternakan sapi perah dan menganalisis hubungannya dengan kejadian pada sapi perah dan faktor risiko lain di Kecamatan Pakem, Kabupaten Sleman. Metode: Penelitian observasional analitik dengan rancangan cross-sectional. Populasi penelitian adalah seluruh peternak dan pekerja peternakan sapi perah di Kecamatan Pakem, Kabupaten Sleman. Sampel dalam penelitian ini adalah bagian dari populasi penelitian yang memenuhi kriteria. Besar sampel 137 orang dengan penentuan proportional sampling. Hasil: Dua dari 137 orang responden (1,46%) dan 25 dari 166 ekor sapi (15,1%) peliharaan responden positif dengan uji RBT (Rose Bengal Test) dan konfirmasi CFT (Complement Fixation Test). Responden positif uji serologis seluruhnya berjenis kelamin laki-laki, kelompok umur 36–45 tahun dan >45 tahun. Kesimpulan: Prevalensi kejadian bruselosis pada peternak dan pekerja peternakan sapi perah di Kecamatan Pakem sebesar 1,46%, dan pada ternak sapi perah 15,1%. Bruselosis pada peternak dan pekerja peternakan sapi perah di Kecamatan Pakem terjadi pada kelompok umur >35 tahun dan berjenis kelamin laki-laki. Tidak ada hubungan antara perilaku (minum susu mentah, konsumsi makanan di kandang, konsumsi minuman di kandang, menangani sapi abortus, mengolah pupuk kandang dan kebiasaan membersihkan kandang) dan lingkungan (status bruselosis ternak) dengan kejadian bruselosis pada peternak dan pekerja peternakan sapi perah di Kecamatan Pakem, Kabupaten Sleman.

Background: Brucellosis is a zoonosis due to direct or indirect contact with infected animal or its products of animal origin. The diseases in man take a long time for recovery and, therefore, make the diseases economically important. There was an increase of brucellosis cases of dairy cows in Sleman District in 2012. A total of 25 cases was diagnosed in dairy cows and human involvement was suspected. This study aimed to detect brucellosis among dairy farmers and farm workers in the area and possible associated factors with the infection. Methods: This study was a cross sectional design of observational study. The target population was all dairy farmers and farm workers of Pakem sub district, Sleman. A total of 137 persons was proportionally selected and included in the study. The cow samples (166) of the suspected human samples were taken simultaneously. All serum samples were serially subjected to Rose Bengal and Complement Fixation Tests. Results: Two of the human samples (1.46%) and 25 of 166 cows (15.1%) revealed positive results in both tests. All infected humans were male, age of > 36 years old. Conclusion: Prevalence of brucellosis in farmers and dairy farm workers in Pakem sub district is 1.46%, and 15.1% of dairy cattle. Brucellosis on-farm and dairy farm workers in Pakem sub district occurred in the > 35 years of age group and male. There was no association between the behavior (drinking of raw milk, consumption of food at cowshed, beverage consumption at cowshed, dealing with abortion cattle, cultivate manure and habit of cleaning cowshed) and the environment (cattle brucellosis status) with the incidence of brucellosis in farmers and dairy farm workers in Pakem sub district, Sleman district.

Kata Kunci : Bruselosis, Cross-sectional, Faktor Risiko, Sleman.


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.