Laporkan Masalah

DUKUN DAN POLITIK (Peran Dukun Dalam Pemilukada Di Banyuwangi Tahun 2010)

Muhammad Sahlan, Bayu Dardias Kurniadi, MA, M. Pub.Pol

2013 | Tesis | S2 Politik dan Pemerintahan

Dukun merupakan aktor penting dan memiliki posisi sosial dalam budaya masyarakat. Peran dukun di tengah arus moderenisasi masih tetap bertahan karena kepercayaan masyarakat pada kekuatan gaib (supranatual) yang masih mempengaruhi kehidupan. Peran dukun meliputi segala bidang kehidupan termasuk di bidang politik. Dukun di ranah politik memainkan peran penting tidak sekedar aspek spritualitas namun acapakali menjadi public speaker ketika melakukan praktik. Pemilukada sebagai ranah kontestasi membentuk nalar sendiri masing-masing aktor untuk melakukan tindakan. Nalar mistik dan nalar rasional dipertemukan dalam Pemilukada. Dukun membangun nalar mistik sebagai basis kemampuannya dan menggunakan seperangkat mistis yang dimilikinya untuk menanamkan pengaruh. Sedangkan calon kepala daerah membangun nalar rasionalitas dengan menjadikan dukun sebagai sarana untuk mencapai tujuan. Relasi antara calon kepala daerah dan dukun bersifat resiprokal yang saling mempengaruhi. Calon kepala daerah menggunakan dukun untuk memperoleh dukungan dari massa pasien yang dimiliki oleh dukun untuk tujuan politiknya. Sedangkan dukun menggunakan calon kepala daerah untuk memperoleh keuntungan ekonomi dan legitimasi sebagai dukun ampuh. Dalam membangun relasi dengan dukun, calon kepala daerah menggunakan berbagai strategi politik, salah satunya dilakukan dengan cara mengintervensi dukun ketika berpraktik. Intervensi dilakukan dengan cara memberikan sejumlah imbalan dan memanfaatkan otoritas dukun dalam masyarakat. Dukun diperankan sebagai vote getter, memproduksi isu, dan sebagai jaringan politik dalam Pemilukada. Penelitian kualitatif ini menggunakan metode fenomenologi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui motivasi calon kepala daerah berelasi dengan dukun serta mengungkap relasi kuasa calon kepala daerah dan dukun di Pemilukada Banyuwangi tahun 2010. Relasi calon kepala daerah dengan dukun ditelaah dengan menggunakan konseptualisasi tindakan Weber. Teori dari sosiolog Jerman ini dijadikan pisau analisis untuk menjelaskan tindakan calon kepala daerah yang dipengaruhi oleh pemahaman subyektif (Verstehen) yang melekat pada dirinya. Rasionalitas, motif bertindak, situasi, dan cara bertindak calon kepala daerah untuk mencapai tujuan yang diiginkan. Penelitian kualitatif ini, banyak mengeksplorasi relasi calon kepala daerah dengan dukun dan peran dukun di dunia politik yang dilengkapi informasi dari calon kepala daerah, tim sukses, orang dekat calon kepala daerah, dukun, beberapa politisi dan tokoh masyarakat. Calon kepala daerah memiliki motivasi tersendiri berdasarkan rasionalitias ketika memutuskan berelasi dengan dukun. Motivasi mencari dukungan spiritual dan motivasi politik dengan memanfaatkan jaringan dukun untuk tujuan politis. Relasi antara calon kepala daerah memiliki yang bersifat timbal balik (resiprokal) yang melahirkan keuntungan dibelah pihak.

Shaman (dukun) are important actors and have a social role in the community culture. The role of dukun in the midst of modernization was still retained as public beliefs on magic power (supranatural) still affecting life. The role of dukun covers all areas of life including politics. Dukun in the field of politics plays an important role not only aspects of spirituality but also as public speakers when practicing. General Election of District Head (Pemilukada) as an field of contestation has formed own reason for each actor to act. Reason of mystical and rational also met in the Election. Dukun and mystical reasoning become a basis to build and use a set of mystical abilities at certain disposal to influence. While building a logical candidate the rationality by making dukun as a means to reach a goal. The relation between the district head candidates and dukun are reciprocal. The head Candidates use dukun to gain support from the masses of patients held by the dukun for political purposes. While the dukun uses regional head candidates to gain economic advantage and legitimacy as a powerful dukun. In building relationships with dukun, district head candidates using a variety of political strategy, that done by intervening when practicing. The Intervention are by providing a number of benefits and utilize the dukun authority in society. Dukun acted as a vote getter, manufacturing issues, and as a political network in the General Election of District Head. This qualitative research used phenomenology method. This study aims to determine the motivation of the head candidate related to the dukun and uncover the power relations and the as dukun in Banyuwangi in 2010. Relations with the candidate the dukun analyzed using Weber's conceptualization of action. The theory of the German sociologist's analysis used as a knife to describe the act of head candidate that influenced by subjective understanding (Verstehen) that attached to him. Rationality, motive to act, situation, and acting make district head candidates to achieve the goal. This qualitative research explores relationships with the candidate the role of dukun in the world of politics that has information from the prospective head district, team success, people close to the prospective head district, dukun, some politicians and community leaders. Candidates for district heads has its own motivation based on rationality when deciding to contact dukun. Motivation to seek spiritual support and political motivation network is for political purposes. The relation between regional head candidates is reciprocal that gave birth to split the profits.

Kata Kunci : Peran dukun, rasionalitas, tindakan, Pemilukada


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.