ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANGBERPENGARUH TERHADAP KONVERSILAHAN SAWAH DI PROVINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA TAHUN 1993-2010
Deviet Afrianto Setyohatmoko, Prof. Dr. Catur Sugiyanto, M.A.,
2013 | Tesis | S2 Magister Ek.PembangunanPerkembangan ekonomi dan keterbatasan akan lahan untuk memenuhi kebutuhan hidup manusia membuat persaingan penggunaan lahan menjadi kompetitif, hal ini menyebabkan terjadinya konversi lahan. Konversi lahan sawah dapat berakibat pada kerugian dan ketimpangan pembangunan di suatu daerah seperti masalah ketahanan pangan dan masalah penatagunaan tanah. Untuk itu diperlukan sebuah analisis untuk mengetahui pola perkembangan konversi lahan sawah dan faktor-faktor yang mempengaruhinya khususnya di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Penelitian ini menggunakan data sekunder yang berhubungan dengan konversi lahan sawah seperti data PDRB, data kependudukan, data ketenagakerjaan, dan kebijakan pemerintah selama 18 tahun (1993-2010) di 5 kabupaten/kota yang ada di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Menggunakan data panel dengan variabel dependen adalah luas lahan sawah, sedangkan variabel independen yang digunakan adalah PDRB non pertanian, jumlah penduduk, tenaga kerja sektor pertanian dan dummy otonomi daerah. Hasil dari penelitian dapat disimpulkan sebagai berikut: (1) pola Konversi yang terjadi di 5 kabupaten/kota di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta menurut jenis lahan sawah yang terkonversi terluas adalah jenis lahan irigasi setengah teknis dan selama periode 1993-2010 rata-rata tiap tahun di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta terjadi konversi sebesar 297,11 ha; (2) hasil estimasi konversi lahan sawah dengan menggunakan metode analisis data panel menunjukkan R2= 0,83 yang berarti bahwa model dapat menjelaskan pergerakan variabel dependen (luas lahan sawah) sebesar 83 persen. Faktor-faktor yang berpengaruh nyata pada taraf uji α = 0,05 terhadap luas lahan sawah adalah jumlah penduduk (korelasi negatif) dan otonomi daerah (korelasi negatif), sedangkan PDRB non pertanian (korelasi negatif) dan tenaga kerja pertanian (korelasi positif) tidak mempunyai pengaruh nyata. Dengan uji beda mean dari 5 kabupaten/kota, hasilnya signifikan menunjukkan setelah adanya otonomi daerah maka luas lahan sawah semakin melambat kecuali Kabupaten Kulon Progo
Both economic development and limited land availability to meet the need for life cause increasingly severe land-use competition. The latter underlies a wet land conversion, which can impact both loss and discrepancy in development in a region, causing food security- and land use-related problems. Therefore, analysis is necessary to find out development patterns in wetland conversion, and factors affecting the wetland conversion in the Special Region of Yogyakarta. This study used secondary data related to the wetland conversion, such as the data of GRDP, demography, labor, and government policies during 18 years (1993-2010) in five regencies/municipalities in the Special Region of Yogyakarta. Panel data were used, including a dependent variable of wetland width, and independent variables of nonagricultural GRDP, total population, labor in agricultural sector and dummy on local autonomy. From results of the study, it can be concluded that: (1) wetland conversion pattern in five regencies/municipalities in the Special Region of Yogyakarta based on wetland types with the largest conversion is the type of half technical irrigation land where Sleman Regency has the highest level of wetland conversion (146.78 ha/year or approximately 49.4 percent) and Gunungkidul Regency has the lowest level of wetland conversion (8.06 ha/year or approximately 2.7 percent). During a period of 1993-2010, each year the wetland conversion of 297.11 ha has occurred in the Special Region of Yogyakarta; (2) Results of the estimation of the wetland conversion using econometric method for panel data analysis indicates R2= 0.83, meaning that the model in the study could explain change in dependent variable (wetland width) of 83 percent. Factors with significant effect on wetland width at the α = 0.05 level of significance were total population (negative correlation) and local autonomy (negative correlation), while non-agricultural GRDP (negative correlation) and labor in agricultural sector (positive correlation) did not have significant effect.
Kata Kunci : Perkembangan ekonomi, Konversi lahan sawah, Ketahanan pangan