Laporkan Masalah

“LASEM MILIK BERSAMA”: Formasi Harmoni antara Orang Tionghoa, Pribumi dan Santri di Sebuah Kota di Jawa

Munawir Aziz SPd.I, Dr. Wening Udasmoro, M.Hum, DEA

2013 | Tesis | S2 Agama dan Lintas Budaya

Sebagai negara dengan ragam etnik, tradisi, agama dan bahasa, Indonesia mengalami ancaman kekerasan yang didasarkan pada gesekan atas perbedaan kebudayaan. Keragaman budaya di satu sisi menjadi berkah untuk menyusun nation-state bernama Indonesia, yang didasarkan pada harapan dan cita kemerdekaan. Namun di sisi lain, keragaman juga seringkali memunculkan jurang perbedaan yang dapat mengakibatkan konflik. Penelitian ini mencoba menganalisis kondisi masyarakat di sebuah kota di pesisir Jawa, yang terdapat ragam etnik, agama dan polarisasi budaya. Di Lasem, Jawa Tengah, keragaman menjadi dinamika, antara orang Tionghoa, pribumi Jawa dan santri. Pada proses transformasi politik pada 1998, kekerasan terhadap orang Tionghoa meluas di kota-kota negeri ini, misalnya di Jakarta, Solo dan Semarang. Di Lasem, kekerasan juga menjadi ancaman pada masa krisis 1998, namun dapat diredam dengan rekayasa harmoni dari masyarakatnya sendiri. Dari formasi harmoni tersebut, terlihat latar belakang konflik, proses, dinamika dan rekonsiliasi berupa kesepakatan damai antara orang Tionghoa, pribumi Jawa dan santri untuk menjaga perdamaian di kota tempat mereka bermukim. Penelitian ini berpijak pada pertanyaan: (1) Bagaimana formasi harmoni dikonstruksi oleh orang Tionghoa, pribumi Jawa dan santri di Lasem? (2) Bagaimana dampak dari formasi harmoni pada realitas sosialkultural di Karangturi, Lasem? Dengan menggunakan instrumen capital (ekonomi, budaya, simbolik dan sosial) dari Pierre Bourdieu, penelitian ini menganalisis proses kontestasi maupun negosiasi yang akhirnya melahirkan kesepakatan damai sebagai bentuk harmoni. Dari pendekatan ini, nilai-nilai maupun modal apa saja yang dimiliki oleh setiap kelompok sebagai upaya untuk menegosiasikan ruang maupun peran masing-masing dalam menginisiasi perdamaian. Perspektif bonding dan bridging dari kerangka pikiran Robert Putnam (2002) digunakan untuk melihat proses negosiasi di antara elit dan masyarakat pengikutnya, untuk membentuk jejaring sosial yang mendukung tercipta dan terjaganya harmoni. Penelitian ini melihat adanya rekayasa damai yang terjadi di level elit dan kesepahaman lintas budaya pada ranah warga pengikutnya untuk menjaga perdamaian.

Actually, Indonesia is a nation which has multiethnic, tradition, religion and language, always in the experience of violence based on the friction on different cultures. the multiple cultures as the benediction constructing a nation state, a basis of expectation and freedom. In other side, the multi background culture appears the different areas resulting conflict. This research wants to analyze the condition of society in a town in coastal Java, which has multiethnic, religion and culture polarization. In Lasem, Central Java, the multicultural phenomena is a dynamic condition among Chinese, Javanese pribumi and santri. On the ransformation of politic, on 1998, the violence on Chinese people widely occurred at Jakarta, Solo and Semarang. In Lasem, the violence is a threat on the crisis situation of 1998, but can vague on harmony action based on society. research based on the questions; (1) how the harmony This research wants to view the dynamic condition of violent issues and strategy of reconciliation occurred on social-culture areas and rite of religion on society/ Within the view of Lasem’s condition, particularly on Karangturi village, this research finds the harmony formation as the product of peaceful agreement. This formation constructed by Chinese, Javanese pribumi and santri in Lasem? (2) How the imply of harmony formation in the reality of social-culture on society in Karangturi, Lasem? Basically, this research finding the information and data on field to view the social connection and peaceful construction by Lasem people. process to Based on the harmony formation, found the background of violence, dynamic and reconciliation within the peaceful agreement among Chinese, Javanese pribumi and santri to maintain the harmony on their town. Using capital instruments (economy, culture, symbolic and social) by Pierre Bourdieu, this research want to analyze the contestation and negotiation construct a peaceful agreement on harmony. On this approach, what the values and capital possession by each group to negotiate the space or role to initiate harmony. The bonding and bridging perspective by Robert Putnam used to analyze the negotiation among elite and the followers to create a social connection to construct and maintaining harmony. This research found the harmony construction on the elite level and the cross-culture agreement on the followers’ space to maintain the harmony/

Kata Kunci : harmoni, modal, kekerasan, lintas-budaya,


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.