KONSTRUKSI SOSIAL TATA RUANG PESANTREN (Studi Di Pondok Pesantren Al-Muayyad Surakarta)
agnestya ekawati, Prof. Dr. Abdul Ghofur Anshori, S.H., M.H.
2013 | Tesis | S2 SosiologiPesantren adalah asrama pendidikan Islam tradisional di mana para siswanya tinggal bersama dan belajar ilmu-ilmu keagamaan di bawah bimbingan seorang (atau lebih) guru yang lebih dikenal dengan sebutan kyai (Dhofier, 1982: 44). Sedangkan di masa penjajahan, pesantren terlibat langsung melawan penjajah (Qomar, 2007: 23). pesantren juga merupakan pendidikan yang sarat dengan nuansa transfomasi sosial (A’la, 2006: 3). Definisi Pesantren diatas menunjukkan bahwasanya pesantren merupakan pranata sosial yang kompleks, yang dalam masa perkembanganya banyak dipengaruhi oleh modernisasi. Modernisasi mengubah pesantren lebih terbuka untuk memberikan pendidikan yang terorganisir, kurikulum yang jelas, dan dapat menghasilkan lulusan yang terampil, sehingga sekarang ini pesantren membangun akses ruang untuk menunjang proses transformasi pengetahuan. Melihat fenomena tersebut, melalui perubahan special akan diketahui bagaimana proses perubahan sosial itu terjadi di pesantren. Asumsi dasar dari penelitian ini adalah tata ruang pesantren tidak hanya mewacanakan fungsi sebagai tempat berlangsungnya proses transformasi pengetahuan, Melainkan hasil dari sebuah konstruksi sosial. Sehingga rumusan masalah dalam penelitian ini yakni: 1) Bagamana Proses Konstruksi Sosial Tata Ruang Pesantren Al-Muayyad?. 2) Bagaimana Pemaknaan Terhadap Tata Ruang Pesantren Al-Muayyad?. Terkait dengan rumusan masalah tersebut, paradigm konstruksi sosisal Berger dan Luckmann diambil untuk menganalisa bagaimana terjadinya proses konstruksi sosial, serta pemaknaan terhadap tata ruang pesantren dalam mempengaruhi relasi sosial di pesantren. Selain itu paradigm Lefebvre juga diguanakan untuk menjelaskan bagaimana produksi ruang itu terjadi, mengingat tesisinya yang mengatakan bahwasannya produksi ruang berasal dari dialektika antara ruang dan waktu untuk menjelaskan sebuah realitas sosial. Model metode penelitian kualitataf dengan pendekatan fenomenologi menjadi pilihan dalam penelitian ini dengan mengambil lokasi penelitian di PP Al-Muayyad, kampung Mangkuyudan, Kelurahan Purwosari, Kecamatan Laweyan Kotamadya Surakarta, provinsi Jawa Tengah. Cara memperoleh data dalam penelitian ini melalui: Observasi, wawancara, dan intisari dokumen (melalui pencatatan, pengetikan, penyuntingan atau alih tulis), sedangkan cara analisis data dilakukan dengan: Reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Sebagaimana fakta yang ditemukan dilapangan, bahwasannya konstruksi sosial tata ruang pesantren khususnya pesantren Al-Muayyad melibatkan kekuasaan kyai serta akibat dari Perubahan sosial keagamaan kerah pembangunan yang melibatkan simbol simbol bangunan seperti masjid, asrama, ndalem, bangunan sekolah dll. Artinya, kyai sebagai individu menciptakan sebuah realitas sosial di pesantren sekaligus sebagai individu yang dipengaruhi oleh perubahan sosial sekarang ini yang disebut oleh Berger dan Luckmann sebagai proses dialektis yang terjadi secara terus menerus yang dilahirkan oleh subyek yang kemudian diserap oleh struktur dan dikembalikan lagi untuk mempengaruhi kesadaran subyek melalui proses internalisasi. Selain itu, konstruksi sosial tata ruang pesantren melibatkan maknamakna ideology dan makna ekonomi dalam pencapaiannya, mengingat tata ruang pesantren sebagai realitas tidaklah berangkat dari ruang kosong melainkan hasil dari konstrusi. Tata ruang pesantren terlepas dari bentuk materi memiliki makna serta nilai-nilai yang diwacanakan oleh individu melalui symbol-simbol tata ruang untuk mempengaruhi pola hubungan sosial di pesantren.
Pesantren (Islamic boarding school) is dormitory of traditional Islamic education in which the students live together and study religious knowledge under the guidance of one (or more) teachers are better knows as kyai (Moslem teacher) (Dhofier, 1982: 44). In colonial period, pesantren was directly involved against the invaders (Qomar, 2007: 23). Pesantren is also an education which is filled with nuances of social transformation (A’la, 2006: 3). Definition of Pesantren above shows that pesantren is complex social institution, whose development is much influenced by modernization. Modernization has changed pesantren to more open in providing organized educational, clear curriculum and can produce skilled graduates so nowadays pesantren builds room access to provide the process of knowledge transformation. Seeing this phenomenon, the later problem is how the process of change affects the space in pesantren is and how the meaning is. The basic assumption of this research is pesantren spatial is not only to discourse its function as a place of the process of knowledge transformation, but also as social construction. Therefore, the formulations of problems in this research are: 1) How the process of social construction of spatial of Pesantren Al-Muayyad. 2) How the meaning of spatial of Pesantren Al-Muayyad. Related to those formulations of problems, paradigm of social construction of Berger and Luckmann is taken to analyze how the process of social construction and the meaning of pesantren spatial in influencing social relation in pesantren. Moreover, paradigm of Lefebvre is also used to describe how the production of space occurs considering that the production of space come from dialectics between space and time to describe a social relation. Qualitative method with phenomenology approach is chosen in this research and the location of research is in PP Al-Muayyad, Mangkuyudan Village, Purwosari District, Laweyan Sub-district, Surakarta Regency, Central Java Province. Data collecting in this research is done by: observation, interview, and documentary (recording, typing, editing or over writing), while data analysis is carried out by data reduction, data presentation, and drawing conclusions.. As facts found in the field, social construction of pesantren spatial especially in pesantren Al-Muayyad involved the power of kyai and the consequences of socioreligious change leading to development involved building symbols such as mosque, dormitory, ndalem (house of caregiver), school building etc. It means kyai as individual who create a social reality in pesantren also as affected individual by social change nowadays that according to Berger and Luckmann known as dialectics process that continuously happening in which it is engendered by the subject then absorbed by the structure and return it again to influence consciousness of subject through internalization process. Moreover, social construction of pesantren spatial involves ideology meaning and economic meaning in its achievement, considering that pesantren spatial as reality does not come from an empty space but from construction result. The pesantren spatial regardless of the material form has a meaning and values that considered by individual through spatial symbols to influence pattern of social relation in pesantren.
Kata Kunci : Konstruksi Sosial, Tata Ruang, Pesantren