Laporkan Masalah

PEMBEBANAN JAMINAN PADA OBJEK PESAWAT UDARA DAN PERLINDUNGAN KREDITUR SETELAH BERLAKUNYA UNDANG-UNDANG NOMOR 1 TAHUN 2009 TENTANG PENERBANGAN

Amelia Afifah, RA. Antari Innaka T., S.H., M.Hum.

2013 | Tesis | S2 Magister Kenotariatan

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kedudukan akta pemberian jaminan atas pesawat dan akta kuasa untuk pencatatan/pendaftaran penjaminan pesawat sebagai alternatif dalam pemberian fasilitas kredit yang jaminannya berupa objek pesawat udara dan cara penyelesaian agar kreditur memperoleh kedudukan preferen dalam perjanjian kredit yang jaminannya berupa objek pesawat udara. Penelitian ini merupakan penelitian yuridis empiris, yaitu didasarkan pada penelitian lapangan untuk mendapatkan data primer dan untuk menunjang data yang diperoleh dari penelitian lapangan tersebut juga dilakukan penelitian kepustakaan untuk memperoleh data sekunder. Penelitian lapangan dilakukan dengan penelitian kasus dan penelitian kepustakaan dilakukan dengan studi dokumen. Penelitian dilakukan di PT. Pelita Air Service yang melakukan penjaminan, notaris yang terlibat dalam pembuatan perjanjian pemberian kredit dan penjaminan serta kantor Konsultan Hukum Mochtar Karuwin Komar yang melakukan pendaftaran kepentingan internasional yang dibebankan pada objek pesawat udara di Kantor Pendaftaran Internasional. Data yang diperoleh, dikumpulkan dan diolah secara analisis kualitatif dan disajikan secara deskriptif. Berdasarkan hasil penelitian diketahui : (1) Akta pemberian jaminan atas pesawat dan akta kuasa untuk pencatatan/pendaftaran penjaminan pesawat tidak merupakan jaminan kebendaan sehingga kedudukan kreditur ialah konkuren. Namun bank dapat mengambil alih pesawat udara dari debitur dan/atau pihak lain untuk dijual dan memperoleh pelunasan jika debitur wanprestasi sehingga bank mendapat perlindungan sebagaimana kreditur memperoleh jaminan kebendaan. Perbuatan hukum tertuang dalam akta otentik yang dapat dijadikan alat bukti jika salah satu pihak wanprestasi. (2) Jaminan yang diberikan PT. Pelita Air Service berupa dua Pesawat Bell 412 EP dan satu Pesawat Bell 430 EP kepada bank sebenarnya termasuk dalam kriteria objek pesawat udara menurut Cape Town Convention of 2001 sehingga bank dapat memperoleh kedudukan sebagai kreditur preferen ketika kepentingan internasional (yang timbul akibat perjanjian pemberian hak jaminan kebendaan aircraft mortgage) didaftarkan di Kantor Pendaftaran Internasional.

This research aims to find out where the guarantee contract over the aircraft and the authorization contract for recording / registration of the aircraft guarantee is situated, as an alternative way in the provision of credit facilities in the form of aircraft objects collateral and the solution for the creditor to obtain preferred position in the credit agreement of aircraft objects collateral. This research is an empirical juridical research, based on field studies to collect primary data and literature review to collect secondary data as supporting data obtained from field studies. The field studies conducted by case research and the literature review conducted by document study. The research was carried out in PT. Pelita Air Service which gave the guarantee, the involved notary in the provision of the credit facilities and the guarantee, and Law Consultant Office of Mochtar Karuwin Komar which administer the registration of international interest which is burdened to aircraft objects in the International Registry. The obtained data was collected and processed based on qualitative analysis and presented in descriptive form. Based on the result of the research, it was found out that : (1)The guarantee contract over the aircraft and the authorization contract for recording / registration of the aircraft guarantee are not a security rights, thus the creditor serves as concurrent creditor. However the bank can take over the aircraft objects from the debitor and third parties to sell and get paid off of the default debitor so that the bank can get the protection as the creditor who have security right in rem. The legal actions carried out by PT. Pelita Air Service and the bank stated in both contract were authentic act that binds the parties so that if one party defaults, these contracts can be used as evidence. (2)The collateral given by PT. Pelita Air Service to the bank, consist of two Bell 412 EP planes and one Bell 430 EP plane, were actually included in the aircraft objects of Cape Town Convention of 2001’s criteria so that the bank can get the position as preferred creditor when the international interest (that appeared as result in aircraft mortgage security agreement) is registered in the International Registry.

Kata Kunci : Pembebanan Jaminan, Perlindungan Hukum, Objek Pesawat Udara atau Penerbangan.


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.