MODEL SPASIAL EKOLOGIS UNTUK OPTIMALISASI PENGGUNAAN LAHAN TANAMAN JAGUNG (Zea mays L.) DI KABUPATEN POHUWATO - PROVINSI GORONTALO
Fitria S.Bagu, Dr. Sunarto, MS,
2013 | Disertasi | S3 GeografiPenelitian ini bertujuan untuk (1) menentukan bahaya erosi dan erosi terbolehkan, (2) mengkaji kemampuan lahan dan kesesuaian lahan pertanian jagung di DAS Alo, (3) menganalisis kondisi sosial ekonomi dan budaya masyarakat terhadap pengelolaan lahan di DAS Alo, (4) menentukan prioritas konservasi lahan pertanian jagung secara spasial ekologis di DAS Alo. Penelitian dilakukan di 43 satuan lahan yang tersebar di enam desa yaitu: Desa Datahu, Desa Iloponu, Desa Buhu, Desa Isimu Utara, Desa Labanu, dan Desa Motilango. Metode penelitian yang dilakukan untuk evaluasi lahan melalui metode matching dengan menggunakan perangkat lunak LCLP (Land Classification and Landuse Planning). Klasifikasi kemampuan lahan dilakukan dengan pencocokkan (matching) antara data karateristik lahan dan kriteria kelas kemampuan lahan yang didasarkan pada faktor pemberat (weight factor), sedangkan klasifikasi kesesuaian lahan dilakukan dengan metode matching antara data karateristik lahan dan kriteria kelas kesesuaian lahan. Kajian tentang dampak penggunaan lahan aktual terhadap erosi dan degradasi lahan dilakukan berdasarkan rasio perbandingan nilai erosi tanah aktual (A) dan nilai erosi tanah terbolehkan (T), sehingga nilai tingkat bahaya erosi dan erosi diperbolehkan menjadi salah satu faktor penentu untuk prioritas konservasi. Kajian tentang pengelolaan lahan pertanian dan sosial ekonomi masyarakat dianalisis secara deskriptif. Penelitian ini juga mengkaji zonasi DAS dan kearifan lokal untuk pengelolaan DAS secara terpadu. Penentuan prioritas konservasi ditentukan berdasarkan kelas kemampuan lahan, kesesuaian lahan, TBE kepadatan Agraris dan Produktivitas jagung. Hasil penelitian menunjukkan penggunaan lahan aktual merupakan salah satu faktor tingginya erosi permukaan. Kemampuan lahan dan kesesuaian lahan dipengaruhi oleh karakteristik biogeofisik lahan. Temuan penelitian ini adalah kelas kemampuan lahan VII dan kelas kesesuaian lahan S1 dan S2 tidak dijumpai di DAS Alo. Pengelolaan lahan pertanian jagung di DAS Alo dipengaruhi oleh sosial ekonomi dan budaya masyarakat. Tingginya kontribusi pendapatan yang diperoleh dari jagung ini membuktikan tingginya kebergantungan petani pada jagung sebagai sumber pendapatan rumah tangganya. Hal ini menunjukkan ada kecenderungan petani membuka lahan-lahan baru untuk ditanami jagung guna meningkatkan pendapatannya. Berdasarkan hasil persebaran tingkat erosi, kemampuan lahan, dan kesesuaian lahan, serta sosial, ekonomi dan budaya masyarakat, maka tanaman jagung yang ditanam di DAS Alo sebagian besar tidak sesuai dengan kemampuan lahan dan kesesuaian lahan, sehingga perlu tindakan konservasi dan prioritas konservasi sesuai dengan karakteristik biogeofisik lahan, kemampuan lahan, kesesuaian lahan, sosial ekonomi dan budaya masyarakat secara spasial ekologis di DAS Alo
This research aims at: (1) determining the erosion hazard and the permissible erosion, (2) studying land ability and suitability of maize agricultural in watershed of Alo, (3) analize the socio economy and cultural community on land management in the watershed of Alo, (4) determining the priority for land conservation ecological spatial of maize agricultural land in watershed Alo. The research is done in 43 units of cultivation spread over six villages: Datahu, Iloponu, Buhu, Isimu Utara, Labanu, dan Motilango. Method used to evaluate the land is matching method using software of LCLP (Land Classification and Landuse Planning). The classification of land ability is done by matching data of land characteristics with criteria of ability class of land which is based on weight factors, while classification of land suitability is done by matching data of land characteristics with criteria of land suitability. Study on the impact of actual use of land on the erosion and land degradation is derived from comparison between the value of erosion rate (A) and the value of tolerable soil erosion (T), so that the level of erosion hazard and tolerated level of erosion become determinant factors in setting up conservation effort. The study on the land cultivation socio economy condition of local people is analysed descriptively. This research also analyzed the zonation of watershed and local wisdom for integrated management of watershed. The determination of the guidelines of are al function is done based on the rate of surface erosion, tolerated level of erosion and the hazar level of erosion. The determination of conservation priority is based on ability class of land and land suitability, erosion hazard degree and maize productivity. The research finding shows that the pattern of land ability distribution and land suitability are influenced by biogeophysical condition of land in watershed. The use of actual land is one of main causes of the severe surface erosion. Land capability classes VII and land suitability classes S1 and S2 are not found in the watershed Alo The cultivation of maize plant in Alo Watershed is influenced by the socioeconomy factor of the people living there.The contribution of income derived from maize farming shows the level of dependence of people on the maize farming.This indicates the trend of farmers to open new lands for maize farming. Based on the spread of the level of erosion, land ability, land suitabilty, and the socioeconomy factor of the society Alo watershed the maize is not suitable with most of the land ability, and land suitability whcih needs conservation efforts and priority of conservation which must be suitable with characterisrics of land biophysic, land ability, land suitability and socioeconomy factors of the society using ecological spasio approach in Alo Watershed.
Kata Kunci : Konservasi, Pertanian Jagung, Spasial Ekologis