KAJIAN PERUBAHAN GARIS PANTAI KOTA SEMARANG DAN KONSEP PENANGGULANGANNYA BERDASARKAN ANALISIS KERENTANAN
Danang Akhdiat Winarto, Dr. Sunarto, M.S.,
2013 | Tesis | S2 Ilmu LingkunganPertambahan jumlah penduduk dan pertumbuhan ekonomi yang dialami Kota Semarang,telah mendorong terjadinya alih fungsi lahan, reklamasi kawasan kepesisiran, dan pembangunan sarana dan prasarana, yang karena fungsinya, terletak menjorok ke laut. Aktivitas tersebut disinyalir telah berperan penting terhadap terjadinya perubahan garis pantai. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berperan pada perubahan garis pantai pada periode 1937-2011, mengetahui indeks kerentanan yang terjadi karena perubahan garis pantai, dan menyusun konsep penanggulangan perubahan garis pantai, yang mampu mempertahankan fungsi penggunaan lahan, dengan berdasar pada indeks kerentanan.Penelitian ini berlokasi di empat kecamatan di Kota Semarang yang memiliki garis pantai, yaitu Kecamatan Tugu, Semarang Barat, Semarang Utara, dan Genuk. Analisis kajian perubahan garis pantai ini dilakukan dengan melakukan delineasi data spasial, dan membandingkan kondisi garis pantai tahun 1937 dengan kondisi garis pantai tahun 2011, dengan diperkuat oleh kondisi garis pantai tahun 1972, 1990, 2000, dan 2008. Perubahan yang terjadi di inventarisasi, kemudian dilakukan perbandingan antara data variabel faktor penyebab perubahan garis pantai selama periode waktu yang diteliti. Indeks kerentanan untuk tiap kecamatan diperoleh melalui pembobotan dan pengharkatan setiap variabel. Perumusan konsep penanggulangan perubahan garis pantai dilakukan secara deskriptif kualitatif melalui proses pencocokan antara variabel-variabel yang digunakan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor-faktor yang berperan menyebabkan perubahan garis pantai di wilayah kepesisiran Kota Semarang, diurutkan sesuai hirarki peranannya adalah 1) terganggunya transportasi sedimen susur pantai; 2) variasi suplai sedimen; 3) perubahan pada sistem perlindungan alami pantai; 4) terjadi konsentrasi energi gelombang pada segmen pantai tertentu; 5) terjadi pemilahan (sorting) sedimen pantai; 6) penurunan muka pantai; dan 7) kenaikan relatif muka air laut.Indeks kerentanan gabungan menunjukkan tingkat kerentanan tinggi, dengan kisaran indeks antara 52,00–54,00 pada skala 18,00– 73,00.Konsep penanggulangan melalui 1) rehabilitasi perlindungan alami pantai; 2) pembuatan struktur penahan gelombang; 3) sempadan pantai; dan 4) pengawasan melalui mekanisme perizinan.
Population growth and economic development experienced by Semarang City, has drivenland conversion, coastal area reclamation, and infrastructure development, which in some case, because of its function, extended into the near shore area. Those activities mentioned, indicated to playing significant role in driving shoreline changes. Objectives of this research are, first is to investigate and identify driving factors in shoreline changes phenomena, especially in period of 1937-2011, second is to find out vulnerability index caused by shoreline changes, and third is to formulate a coping concept against shoreline changes, with aim to maintain existing land use, and based on vulnerability index. Spatial dataset analysis, and variables data comparison between 1937’s data and 2011’s data is conducted, and also to strengthen the analysis, shoreline data from the year of 1972, 1990, 2000, and 2008, is also used. Vulnerability index for each district based on scoring and weighing of each variables. Formulation of shorelines changes coping concept would be found by matching between each variables and known measures. Results of this research has shown that significant factors in driving shoreline changes in Semarang City are, sorted according to role hierarchy: 1) distraction of long shore sediment transport; 2) variation of sediment supply; 3) short of natural protection; 4) wave energy concentration; 5) sediment sorting; 6) beach surface subsidence; and 7) relative raising of water level. Vulnerability index shown high level of vulnerability, ranging of 52,00-54,00 in scale of 18,00 to 73,00. Coping concept to be apply in Semarang, are combination of 1) rehabilitation of natural shoreline protection mechanism; 2) construction of seawall/revetment; 3) revitalization of shoreline buffer zone; and 4) land use and building permit monitoring.
Kata Kunci : perubahan garis pantai, kerentanan, konsep penanggulangan.