Laporkan Masalah

PENGARUH PENGELOLAAN AIR, PEMUPUKAN KALIUM DAN POLA PERTANAMAN TERHADAP HASIL JAGUNG DAN KACANG HIJAU DI LAHAN KERING

EDY, IR., M.P., Prof. Dr. Ir. Tohari, M.Sc.,

2013 | Disertasi | S3 Agronomi

Produksi Jagung dan kacang hijau Indonesia tahun 2011 berturut-turut baru mencapai 17.643.250 ton dan 334,73 ton, dengan produktivitas hasil jagung rata-rata 4,56 t.ha -1 , dan kacang hijau 0,016 t.ha -1 . Ini termasuk rendah dibandingkan potensi hasilnya, sehingga perlu ditingkatkan melalui perbaikan sistem budidaya. Upaya yang dapat dilakukan adalah penggunaan varietas tahan, pengelolaan air, pemupukan K dan pola tanam. Air yang terbatas pada lahan kering dapat diatasi dengan teknologi panen hujan antara lain, pembuatan parit yang diisi seresah. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendapatkan bentuk pengelolaan air dan interaksinya dengan pemupukan K pada lahan kering dalam meningkatkan produktivitas lahan, hasil jagung dan kacang hijau. Penelitian ini terdiri dari 2 percobaan yang dilaksanakan Juli 2010 - Juni 2011. Percobaan I di Rumah Plastik Kebun Percobaan UGM Banguntapan, didesain dengan Rancangan Petak Terpisah. Petak utama, Varietas jagung, terdiri dari 4 varietas: Lagaligo, Lamuru, Bima 2 Bantimurung, dan Bima 4 Bantimurung. Anak petak, interval waktu penyiraman, terdiri dari 4 taraf: disiram 1, 2, 4, dan 8 hari sekali. Percobaan I bertujuan untuk mendapatkan varietas jagung paling tahan kekeringan untuk digunakan pada percobaan II. Percobaan II dilakukan di Desa Wareng Kecamatan Wonosari Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Rancangan yang digunakan adalah Rancangan Petak-Petak Terpisah, dengan Petak Utama didesain dalam Bujur Sangkar Latin. Petak utama, model Parit terdiri atas 3 taraf: Tanpa parit, Parit, Parit diisi seresah. Anak petak, takaran kalium terdiri dari 3 taraf: kontrol, 37,5 kg KCl.ha -1 dan 75 kg KCl.ha -1 . Anakanak petak, waktu menyisip jagung, terdiri dari 2 taraf: waktu sisip jagung 60 dan 70 hari setelah tanam jagung I. Hasil penelitian menunjukkan: 1) Bima 2 Bantimurung lebih efisien menggunakan air, toleran kekeringan, bobot kering, rasio akar tajuk dan hasil biji tertinggi; 2) Penggunaan parit+seresah dan K 75 kg KCl.ha -1 meningkatkan sekapan cahaya, evapotranspirasi, bobot kering, indeks luas daun, laju pertumbuhan tanaman, laju asimilasi bersih, hasil biji, bobot 100 biji, klorofil, kandungan air nisbi, efisiensi penggunaan air, kadar dan serapan K, daya absorbsi akar, dan menurunkan kadar prolin jagung; 3) Penggunaan parit+seresah dan waktu tanam kacang hijau awal meningkatkan klorofil, indeks luas daun, laju pertumbuhan tanaman, laju asimilasi bersih, kandungan air nisbi, bobot kering, hasil biji dan bobot 100 biji kacang hijau; 4) Tumpangsari jagung dan kacang hijau, kemudian disisip jagung saat jagung I berumur 60 atau 70 hari, kemudian ditumpangsarikan lagi dengan kacang hijau, diperoleh nilai setara lahan dan waktu 1,8 – 2,3 pada kedua pola pertanaman tersebut.

Production of maize and mungbean in Indonesia in 2011 only reached 17.64325 million tons and 334.73 tons respectively. The productivity of the maize reached average 4.56 t.ha -1 , and mungbean reached 0.016 t.ha -1 . These productivity rate were concidered lower than the potential yield, therefore it needs to be improved through improved farming systems. Efforts that can be taken is to use resistant variety, suitable water management, K fertilization and cropping pattern. Limited water on dry land can be anticipated by rain harvesting technology such as, to make furrows. The aims of this study are to obtain the form of water management and its interaction with K fertilization on dry land to increase land productivity, and to increase yields of maize and mungbean. The study consisted of two experiments carried out in July 2010 - June 2011. First experiment was conducted in the House of Plastic Garden Experiments UGM Banguntapan, using Design Splite plot. The main plot was the variety of maize, consisting of 4 varieties: Lagaligo, Lamuru, Bima 2 Bantimurung, and Bima 4 Bantimurung. Subplot was the interval of time watering, consisting of 4 standard: watered 1, 2, 4, and 8 days. This Experiment aims to get the most drought-resistant maize variety for being used in the second experiment. Second experiment was conducted in Wareng, Wonosari Gunungkidul, Yogyakarta. The second experiment used Splite-splite plot design. The main plot was designed in a Latin Square. The main plot, the furrow model, which consists of three standard Furrows: without a furrow, furrow, furrow containing plant residue. Subplo t was composed of three K levels: control, 37.5 kg.KCl.ha -1 and 75 kg.KCl.ha -1 . Sub - sub plot, the time of maize relay, consisting of 2 standards: time of maize relay 60 and 70 days after planting first maize. The results show: 1) The Bima 2 Bantimurung is more efficient in use of water and drought tolerant, and it reached the highest in its dry weight, the ratio of the root canopy and grain yield ; 2) The use of furrow+plant residue and 75 kg KCl.ha -1 increased radiation interception, evapotranspiration, dry weight, LAI, CGR, NAR, grain yield, 100 seed weight, chlorophyll, RWC, WUE, content and uptake of K, root absorption capacity and decreased level of maize proline; 3) The use of furrow+plant residue and early planting mungbean increased chlorophyll, LAI, CGR, NAR, relative water content, dry weight, seed yield and 100 seed weight; 4)Intercropping of maize and mungbean, and maize relay when maize first aged 60 or 70 days, then again intercropping with mungbean, the both cropping patterns increased the value of area-time equivalency ratio ranged from 1.8 to 2.3.

Kata Kunci : parit, kalium; jagung; kacang hijau; lahan kering


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.