APLIKASI PENGINDERAAN JAUH DAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS UNTUK EVALUASI RENCANA TATA RUANG WILAYAH BERDASARKAN KESESUAIAN LAHAN (Kasus Pemanfaatan Ruang Permukiman Kabupaten Purworejo)
YUSUF SYARIFUDIN, Dr. R. Suharyadi, M.Sc
2013 | Tesis | S2 Penginderaan JauhDalam proses pembangunan, Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) merupakan pedoman pembangunan di wilayah terutama yang terkait dengan pengembangan struktur ruang dan pembentukan pola pemanfaatan ruang di wilayah perencanaan. Namun demikian produk RTRW yang ada di berbagai daerah selama ini masih jauh dari harapan. Hal ini salah satunya karena masalah intensitas dan cakupan bencana alam yang semakin meningkat, sehingga perlu dilakukan penelitian tentang evaluasi rencana tata ruang wilayah Kabupaten Purworejo dengan menggunakan data penginderaan jauh khususnya data satelit Landsat ETM+. Penelitian ini bertujuan mengkaji kemampuan citra Landsat ETM+ untuk mengidentifikasi dan memetakan parameter-parameter penyusun kesesuaian lahan untuk permukiman, menyusun peta kesesuaian lahan untuk permukiman dan melakukan evaluasi rencana tata ruang wilayah di Kabupaten Purworejo terhadap kesesuaian lahan untuk permukiman. Data utama yang digunakan adalah citra Landsat ETM+ rekaman tahun 2003 untuk mengidentifikasi dan memetakan parameter-parameter penyusun kesesuaian lahan untuk permukiman. Langkah berikutnya dilakukan analisis kesesuaian fisik lahan (KFL) dengan metode pengharkatan dan analisis kesesuaian pengembangan lahan (KPL) dengan pencocokan menghasilkan peta kesesuaian lahan untuk permukiman. Selain menggunakan citra satelit, penelitian ini juga menggunakan data sekunder berupa peta rencana pola pemanfaatan ruang permukiman yang diperoleh dari dokumen RTRW Kabupaten Purworejo. Peta tersebut dievaluasi dengan cara di-overlay dengan peta kesesuaian lahan untuk permukiman dengan tabel perkalian matriks. Selanjutnya untuk mengetahui besar penyimpangan dan kesesuaiannya dilakukan penghitungan persentase setiap kategori. Hasil penelitian ini adalah Citra Landsat ETM+ dapat digunakan untuk mengidentifikasi dan memetakan parameter penyusun kesesuaian lahan permukiman di Kabupaten Purworejo dengan tingkat ketelitian interpretasi penggunaan lahan sebesar 91% dan ketelitian interpretasi bentuklahan sebesar 86% (di atas ambang batas ketelitian). Analisis kesesuaian lahan dengan menggabungkan analisis KFL dan analisis KPL menghasilkan peta kesesuaian lahan akhir dimana terdiri dari 5 kelas dari P1 hingga P5. Lahan dengan kelas P1(sesuai) tersebar di hampir semua kecamatan kecuali Bruno dan Kaligesing. Kelas P2 (agak sesuai) tersebar di Kecamatan Gebang, Kemiri, Pituruh, Bagelen, Loano, Bener dan sebagian Kaligesing, Kutoarjo serta Bruno, sedangkan kelas kesesuaian P3 (kurang sesuai) ada di Kecamatan Gebang, Kemiri, Pituruh, Bagelen, Loano, Bener dan sebagian Kaligesing, Purworejo serta Bruno. Kelas kesesuaian P4 (tidak sesuai) memiliki distribusi yang relatif merata di seluruh kecamatan, sedangkan lahan dengan kelas kesesuaian P5 (tidak sesuai permanen) tersebar di Kecamatan Bruno dan Kaligesing. Hal ini disebabkan kedua kecamatan tersebut merupakan wilayah yang didominasi oleh perbukitan sehingga memiliki banyak keterbatasan fisik untuk dikembangkan menjadi permukiman diantaranya kedalaman tanahnya dangkal, kedalaman air tanahnya dalam, persentase batuan di permukaan dan lereng yang terjal. Adapun evaluasi RTRW Kabupaten Purworejo khususnya rencana pola ruang permukiman menghasilkan kesesuaian sebesar 83,27 % sedangkan sisanya sebesar 0,91 % adalah kurang sesuai dan 15,81 % masuk pada kategori menyimpang.
In the development process , the Regional Spatial Planning (RTRW) is a guideline for development in many regions, mainly associated with the development of spatial structure and spatial pattern formation. However, the Regional Spatial Planning products in many region are still far from the expectations. It happened because of the intensity and scope of natural disasters which are increasing, it needs to do research in the evaluation of the Regional Spatial Planning in Purworejo using remote sensing data, especially Landsat ETM + satellite data. This study aims to assess the ability of Landsat ETM + imagery to identify and map the constituent parameters of land suitability for settlement, arrange land suitability for settlement map and evaluation of spatial plans in Purworejo. The main data used are Landsat ETM + recorded in 2003 to identify and map the parameters of land suitability for settlements. The next stepped land physical suitability analysis (KFL) with scoring method and land development suitability analysis (KPL) with matrix multiplication to produce land suitability maps for settlement. In addition to using satellite imagery, this study also uses secondary data from map spatial patterns of settlement is obtained from documents RTRW Purworejo. Spatial plan patterns of settlement map is evaluated by overlay (overlapping stacking) to land suitability for residential map use matching methods. Furthermore, to find out how much deviation and compliance measurement or calculation made percentage of any category. The results of this study shows that the Landsat ETM + can be used to identify and map the constituent parameters of land suitability for settlements in Purworejo with interpretation accuracy rate of 91% of land use and interpretation of landforms accuracy of 86% (above the acceptable accuracy). Land suitability analysis by combining land physical suitability analysis (KFL) and land development suitability analysis (KPL) produce the final land suitability map which consists of 5 classes P1 (as appropriate), P2 (somewhat appropriate), P3 (less fit), P4 (not appropriate) and P5 (not suitable permanent). Land with scattered P1 class in almost all districts except Bruno and the majority Kaligesing territory is hilly. P2 class (rather appropriate) are scattered in the District of Gebang, Kemiri, Pituruh, Bagelen, Loano, Bener and Kaligesing, Kutoarjo and Bruno who has a flat relief to the hills, while the fitness class P3 (less fit) spread in the District of Gebang, Kemiri, Pituruh , Bagelen, Loano, Bener and some Kaligesing, Purworejo and Bruno. Suitability class P4 (not applicable) has a relatively uniform distribution throughout the district, while the land suitability class P5 (not suitable permanent) are scattered in the District of Bruno and Kaligesing which is the upper slopes of the hills with shrubs land cover, forest or primary forest production. The evaluation plan RTRW Purworejo particular suitability of spatial patterns of settlement produce 83.27% while the remaining amount is 0.91% and 15.81% less fit into the category of deviant.
Kata Kunci : Kesesuaian lahan permukiman, Landsat ETM+, RTRW, Evaluasi