Laporkan Masalah

PELATIHAN PEMAAFAN UNTUK MENINGKATKAN KESEJAHTERAAN SUBJEKTIF PASUTRI KRISTEN PROTESTAN DI TAHAP AWAL PERNIKAHAN

Dian Lestari Anakaka, Dr. Subandi, MA

2012 | Tesis | S2 Magister Profesi Psikologi

Tahap awal pernikahan adalah masa penyesuaian diri bagi pasangan suami istri (pasutri) karena melepaskan diri dari campur tangan orangtua dan mengakomodasi peran baru sebagai pasangan suami istri. Kondisi transisi peran ini dapat memicu konflik yang membuat pasangan mengalami transgresi (pengalaman disakiti) melalui agresi psikologis (verbal maupun nonverbal). Pasangan dapat mengalami penurunan kepuasan pernikahan, penurunan emosi positif, peningkatan emosi negatif yang akan berdampak pada penurunan kesejahteraan subjektif. Pemaafan adalah salah satu keterampilan yang bertujuan untuk membantu pasangan memulihkan ikatan pernikahan setelah mengalami transgressi. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk melihat pengaruh Pelatihan Pemaafan dalam meningkatkan kesejahteraan subjektif pasutri Kristen Protestan di tahap awal pernikahan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah eksperimen kuasi dengan desain The untreated control group design with pretest and posttest. Penelitian melibatkan 3 pasangan sebagai kelompok eksperimen dan 3 pasangan sebagai kelompok kontrol. Alat ukur yang digunakan adalah Enrich Marital Satisfaction Scale (EMSS), dan The Positive and Negative Affect Schedule (PANAS). Data yang diperoleh dianalisis dengan uji Mann- Whitney dan analisis data kualitatif berbentuk deskriptif. Hasil menunjukkan bahwa skor kesejahteraan subjektif kelompok eksperimen lebih tinggi daripada skor kelompok kontrol (Z = -2,242; p=0,025; p<0,05). Pelatihan Pemaafan ini terbukti meningkatkan kesejahteraan subjektif pasutri Kristen Protestan di tahap awal pernikahan.

Tahap awal pernikahan adalah masa penyesuaian diri bagi pasangan suami istri (pasutri) karena melepaskan diri dari campur tangan orangtua dan mengakomodasi peran baru sebagai pasangan suami istri. Kondisi transisi peran ini dapat memicu konflik yang membuat pasangan mengalami transgresi (pengalaman disakiti) melalui agresi psikologis (verbal maupun nonverbal). Pasangan dapat mengalami penurunan kepuasan pernikahan, penurunan emosi positif, peningkatan emosi negatif yang akan berdampak pada penurunan kesejahteraan subjektif. Pemaafan adalah salah satu keterampilan yang bertujuan untuk membantu pasangan memulihkan ikatan pernikahan setelah mengalami transgressi. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk melihat pengaruh Pelatihan Pemaafan dalam meningkatkan kesejahteraan subjektif pasutri Kristen Protestan di tahap awal pernikahan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah eksperimen kuasi dengan desain The untreated control group design with pretest and posttest. Penelitian melibatkan 3 pasangan sebagai kelompok eksperimen dan 3 pasangan sebagai kelompok kontrol. Alat ukur yang digunakan adalah Enrich Marital Satisfaction Scale (EMSS), dan The Positive and Negative Affect Schedule (PANAS). Data yang diperoleh dianalisis dengan uji Mann- Whitney dan analisis data kualitatif berbentuk deskriptif. Hasil menunjukkan bahwa skor kesejahteraan subjektif kelompok eksperimen lebih tinggi daripada skor kelompok kontrol (Z = -2,242; p=0,025; p<0,05). Pelatihan Pemaafan ini terbukti meningkatkan kesejahteraan subjektif pasutri Kristen Protestan di tahap awal pernikahan.

Kata Kunci : Pemaafan, Kesejahteraan subjektif, Pasangan suami istri, Tahap awal pernikahan


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.