IMPACTS OF PRIVATIZATION OF ATOURIST DESTINATION ON HOUSEHOLDS' SOCIO-ECONOMIC CONDITIONS CASE: PRIVATIZATION OF TELENG RIA BEACH, PACITAN REGENCY, INDONESIA
Tulus Widaryanto, Dr. Jasper Eshuis
2012 | Tesis | S2 Magist.Prnc.Kota & DaerahPelayanan barang dan jasa dapat disalurkan oleh pemerintah, swasta, atau pengaturan diantara keduanya. Salah satu jasa yang dikembangkan secara intensif adalah wisata. Terdapat beberapa literatur dan pengetahuan yang membahas mengenai dampak keterlibatan sektor swasta dalam menyalurkan barang dan jasa. Meskipun demikian, terdapat kesenjangan terkait dengan dampak privatisasi objek wisata terhadap aset keluarga. Terinspirasi dari kekurangjelasan perubahan manajemen yang mengelola Pantai Teleng Ria (TRB) dari pemerintah kepada swasta, tesis ini dilaksanakan untuk mengetahui dampak privatisasi ini terhadap kondisi sosial ekonomi masyarakat. Tesis ini memiliki tujuan untuk mendeskripsikan dampak privatisasi TRB di Kabupaten Pacitan Indonesia terhadap kondisi sosial ekonomi rumah tangga yang hidup di sekitar TRB terutama pada aset mata pencaharian mereka. Hal ini melibatkan persepsi rumah tangga, perusahaan pengelola TRB, pemuka masyarakat, dan kebijakan Pemerintah Kabupaten Pacitan. Metode yang dipergunakan dalam tesis ini adalah kuantitatif dan kualitatif. Uji t untuk sampling berpasangan dengan memanfaatkan SPSS yang dikombinasikan dengan hasil wawancara dari responden yang berbeda-beda dan data sekunder dituangkan dalam tesis ini untuk menganalisa data. Dari hasil analisa diketahui bahwa perubahan yang terjadi ditinjau dari aspek manajemen sumberdaya manusia dan manajemen sumber daya alam menunjukkan bahwa masyarakat di sekitar TRB mendapatkan keuntungan dari privatisasi dengan adanya kesempatan kerja yang lebih luas di sektor informal dan menjadi staf EJTEW. Lebih jauh, EJTEW meningkatkan performa kerja dengan memberikan insentif/bonus kepada stafnya. Kondisi ini mendorong stafnya untuk mengelola TRB sebagai sumber daya alam dengan lebih ketat daripada yang dilakukan oleh Pemerintah Kabupaten Pacitan. Sebagai konsekuensinya, hal ini menurunkan tingkat aksesibilitas ke TRB. Disamping itu, tingkat keterlibatan masyarakat dalam menjaga lingkungan lebih rendah daripada ketika TRB masih dikelola oleh Pemerintah Kabupaten Pacitan. Dari hasil analisa juga diketahui bahwa dampak privatisasi terhadap aset rumah tangga menunjukkan bahwa TRB sebagai aset sumber daya alam menjadi kurang dapat diakses oleh masyarakat di sekitar TRB. Meskipun demikian, akses ini menjadi lebih mudah setelah privatisasi dilaksanakan beberapa tahun meskipun tetap lebih ketat daripada ketika masih dikelola Pemerintah Kabupaten Pacitan. Hal ini karena dampak privatisasi tersebut diperlemah oleh budaya dan norma sosial sebagai bagian dari aset sosial. Ditinjau dari aset finansial, kenaikan jumlah wisatawan yang tinggi yang didorong oleh keelokan pantai dan pertunjukan yang sering diorganisir oleh EJTEW telah meningkatkan pendapatan masyarakat. Di sisi lain, hampir tidak ada dampak yang siknifikan dalam hal aset sumberdaya manusia dan aset fisik kecuali beberapa hal seperti alih keahlian dari EJTEW, tetap memperoleh penghasilan meskipun dalam kondisi sakit, dan kemampuan untuk membangun tempat tinggal. Disamping itu, juga tidak terdapat perubahan yang siknifikan dalam hal pengetahuan, alat-alat produksi, dan infrastruktur. Sebagai kesimpulan, privatisasi TRB yang ditandai dengan perubahan dalam manajemen sumber daya manusia dan sumber daya alam berdampak pada kondisi sosial ekonomi masyarakat sekitar TRB. Privatisasi terebut memberikan keuntungan finansial dengan meningkatkan pendapatan masyarakat baik dari tumbuhnya sektor informal maupun sebagai sektor formal. Meskipun akses terhadap pantai lebih diperketat, hal ini tidak menyebabkan penurunan pendapatan masyarakat sekitar TRB. Sebagai catatan penting, dampak dari privatisasi ini melekat dalam masyarakat dan budaya sosial. Aturan ketat yang diterapkan oleh EJTEW diperlemah oleh budaya dan norma sosial setempat, khususnya dalam hal penerapan indikator performa kerja dalam manajemen sumber daya manusia dari EJTEW dan aturan yang membatasi kebebasan akses menuju TRB.
Goods and services can be delivered by public, private, or arrangement between both of them. One of the services that has been intensively developed is tourism. Some theoretical literature and knowledge discussing the impacts of private sector involvement to deliver goods and services are there. However, there is a knowledge gap regarding impacts of privatization of tourist destination on households’ assets. According to this lack of clarity on change of Teleng Ria Beach (TRB)’s management from government to private sector, I would like to study the impacts of this privatization on socio economic conditions. This research is conducted to describe the impacts of privatization of TRB in Pacitan Regency Indonesia on socio-economic conditions of households surrounding the beach particularly on their livelihood assets. It involves households perceptions, firm perceptions, community leader perceptions and local government policies. To deal with the objective, quantitative and qualitative approached are utilized to perform the thesis. Paired samples t-test using SPSS software combined with interview from different respondents and secondary data are constructed in order to analyse the data. Main finding of the changes occurred from public to private sector in terms of human and natural resource management in order to manage TRB illuminate that people surrounding TRB get advantages from privatization by broader opportunities to do business in informal sector and to become EJTEW staffs. Moreover, EJTEW elevates working performance by giving incentive/bonus for staffs. This circumstance stimulates EJTEW staffs to manage TRB as a natural resource in more strict rules than local government did. Consequently, it causes a declined level of accessibility to the beach. Moreover, people’s involvement nowadays in order to take care of the environment is lower than when TRB was still managed by local government. Main findings of impacts on households’ livelihood assets highlight that TRB as the natural capital less accessible for people living nearby than previously. However, access becomes easier after some years of privatization but remained stricter than previously. It is because the impacts are mitigated by culture and social norm(s) as part of social capital. In terms of financial capital, a significant increasing number of visitors stimulated by magnetism of the beach and performance frequently organized by EJTEW had escalated people’s income. On the other hand, almost no impacts are considerably found in human and physical capital except particular conditions such as transferring skill from firm, getting salary when sick and ability to construct house. Neither remarkable improvement nor shrink can be found in terms of knowledge, production equipments and infrastructures. To sum up, privatization of TRB, characterized by changes in human and resource management, affects socio-economic conditions of households surrounding the beach. It gives financial benefits by creating more income generating possibilities for people from both the informal sector and formal one. Although the access to the beach has been made more restricted, this has not lead to decreased income generation for local inhabitants. Importantly, the impact of privatization of TRB is embedded in society and in local culture. Rigid rules of the private entity are mitigated by culture and local social norms, in particular when it comes to the application of performance indicators in human resource management of the EJTEW, and when it comes to rules for limiting free access to the beach.
Kata Kunci : privatization, tourism, socio-economic, livelihood, assets