EXPLORING INNOVATION OF HANDICRAFTS, THE CASE OF SILVER CRAFT IN KOTAGEDE, YOGYAKARTA - INDONESIA
Farida Ariyani Kusumaningrum, Jan Fransen, MA,
2012 | Tesis | S2 Magist.Prnc.Kota & DaerahInovasi sangat penting sebagai salah satu pemicu pertumbuhan dan solusi terhadap berbagai macam masalah dan tantangan. Pada industri yang menggunakan teknologi tingkat tinggi, tolok ukur inovasi dapat dengan mudah diukur melalui kegiatan riset dan pengembangan dan paten. Namun hal ini tidak dapat diterapkan pada industri berteknologi sederhana, misalnya industri kerajinan. Sejalan dengan era inovasi yang terbuka, kajian terhadap inovasi tidak cukup semata-mata dilakukan dalam lingkup perusahaan namun perlu menelaah sistem inovasi pada wilayah lokal. Hal tersebut menjadi fokus utama dalam penelitian ini. Pertanyaan utama dari penelitian ini adalah: seberapa jauh dan dalam kondisi apa kapasitas daya serap perusahaan dan sistem inovasi lokal memungkinkan perusahaan untuk berinovasi? Penelitian ini menggunakan teknik studi kasus eksplanatori. Pengumpulan data dilakukan dengan metode wawancara semi terstruktur, pengamatan lapangan dan dilengkapi dengan data sekunder. Wawancara dilakukan terhadap dua puluh responden yang terdiri atas lima belas perusahaan di Kotagede dan lima aktor lokal di Yogyakarta. Data yang diperoleh dianalisa dengan metode kualitatif. Sebagian besar inovasi pada produk perlengkapan perak dijumpai pada produk dan pemasaran, sedangkan inovasi pada aspek proses dan organisasi sangat jarang dilakukan. Tingkat inovasi antar responden bervariasi. Untuk mengukur tingkat inovasi, digunakan indikator kewirausahaan, struktur, koordinasi dan nilai. Umumnya perusahaanperusahaan skala besar dan menengah cenderung lebih inovatif dibandingkan perusahaan skala kecil dan mikro. Untuk lebih memahami mengapa tingkat inovasi berbeda-beda, penelitian ini mengkaji kapasitas daya serap perusahaan yang memiliki empat dimensi yaitu: akuisisi, asimilasi, transformasi dan eksploitasi. Rata-rata responden dari kelompok perusahaan skala besar dan menengah mampu memanfaatkan pengetahuan untuk berinovasi. Namun demikian, mereka terkadang masih menemui kendala sehubungan dengan manajemen kapasitas untuk tumbuh dan berkembang. Responden dari kelompok perusahaan skala kecil dan mikro memiliki lebih banyak kendala karena selain hal di atas mereka juga terhalang oleh rendahnya tingkat pendidikan dan kemampuan keuangan. Dinamika kapasitas daya serap tidak terjadi dalam ruang lingkup yang terisolasi. Sistem inovasi lokal diyakini berpengaruh terhadap inovasi perusahaan. Dalam penelitian ini, klien dianggap sebagai aktor yang paling berpengaruh dalam inovasi. Pemerintah sebenarnya juga telah mengeluarkan sejumlah kebijakan terkait, namun interaksi yang terjalin masih terbilang rendah. Cenderung lemahnya tata kelola sistem inovasi lokal, khususnya pada isu sistem kepantasan dan minimnya dukungan bagi perusahaan yang inovatif menyebabkan berkurangnya tingkat kepercayaan antar aktor untuk berbagi pengetahuan. Kesimpulan dari penelitian ini adalah bahwa inovasi pada sektor kerajinan berlangsung secara inkremental. Pada kondisi dimana kapasitas daya serap tinggi, perusahaan dapat mencapai tingkat inovasi yang tinggi. Selanjutnya perusahaan akan mampu mendayagunakan eksternalitas yang ditawarkan oleh sistem inovasi lokal untuk meningkatkan kemampuan berinovasi. Sehubungan dengan hal tersebut, dukungan terhadap peningkatan kapasitas daya saing dan penguatan tata kelola sistem inovasi lokal sangat direkomendasikan.
Innovation is important as a driver of growth and a solution to deal with problems and challenges. While innovation of high technology industry can be clearly measured through R&D and patents, it is not the case for low technology industry like handicraft. Due to the era of open innovation, studying innovation should not merely happen inside the firm but should also analyse the local innovation system where the firm located. This is the main focus of this research. The main research question is: to what extent and under what conditions do firms’ absorptive capacity and local innovation system enable firms to innovate? The research employed an explanatory-case study technique to answer the question. Data was collected through semi-structure interviews, field observation and secondary data collection. Twenty interviews were conducted which consists of fifteen interviews with firms in Kotagede and five interviews with actors in Yogyakarta locality. All data is analyzed qualitatively. Innovation in silverware is an incremental process, mostly in product and marketing. On the other hand, processes and the organisation are hardly innovated. The level of innovation among respondents varies. For the measurement, the indicators of entrepreneurship, structure, coordination and value of innovation are utilized. Generally, medium and large firms are more innovative than micro and small ones. To further understand why some innovative firms are able to meet those indicators while some others are less innovative, this study investigates absorptive capacity of firms. There are four dimensions of absorptive capacity: acquisition, assimilation, transformation and exploitation. In average, respondents from medium and large firms group are able to transform knowledge into innovation. However sometimes they still find management capacity to transform and grow hamper their innovation. Respondents from micro and small firm group face more constraints. Besides capacity of management to transform and grow, they lack of education and financial that obstruct innovation. The dynamic of absorptive capacity does not happen in isolation. Local innovation system is believed to influence firm’s innovation. Respondents in this research posit client as the actor with whom they interact most to acquire knowledge. The government also has a range of policies in place to promote clusters and SMEs. Nevertheless interactions with them are less frequent and intensive. Governance of the local innovation system is weak, with in particular a weak system of appropriability and lack of support of innovative large firms. This reduces trust among actors to share knowledge. The research finally concluded that innovation of the handicraft sector is incremental. Under the condition of high absorptive capacity, firms can achieve a high level of innovation. Hereinafter firms can exploit externalities offered by local innovation system to enhance innovation. To put in a nut shell, absorptive capacity is the basic need of firms to innovate; by which firms can absorp more knowledge offered by local innovation system to enhance its level of innovativeness. I therefore recommend support in building up absorptive capacity and in strengthening governance of the local innovation system.
Kata Kunci : handicraft; innovation; entrepreneurship; absorptive capacity; local innovation system