MIGRATION AND SOCIAL NETWORKS ON LIVELIHOOD A Study of Angkringan Seller in Yogyakarta City
Heyti Novindriarti, Maria Zwanenburg
2012 | Tesis | S2 Magist.Prnc.Kota & DaerahMigration and Social Networks on Livelihood: A Study of Angkringan Seller in Yogyakarta City ii ABSTRAKSI Angkringan adalah salah satu jenis pedagang pinggir jalan. Angkringan merupakan gerobak yang terbuat dari kayu dan digunakan untuk berjualan. Bekerja sebagai pedagang Angkringan banyak dipilih oleh sebagian masyarakat sebagai pekerjaan untuk mencari nafkah,karena pekerjaan ini tidak memerlukan kualifikasi pendidikan tertentu ataupun keahlian untuk menjalankannya, orang dengan tingkat pendidikan rendah bahkan orang tanpa kemampuan ekonomi yang lemah tetap dapat menjalankan pekerjaan ini, karena yang dibutuhkan untuk menjalankan pekerjaan ini adalah ketekunan dan kemauan untuk bekerja. Penelitian ini bertujuan untuk memahami peranan modal sosial dalam proses migrasi dari desa ke kota berkenaan dengan keputusan untuk pindah dan kontribusinya terhadap kehidupan pedagang Angkringan dan juga konsekuensinya terhadap perbaikan hidup pedagang Angkringan yang berasal dari Klaten. Interview menggunakan metode semi struktur dan pengumpulan data kualitatif dilakukan terhadap sejumlah responden. Responden yang dipilih terbagi dalam 3 group yaitu Juragan, pedagang mandiri dan pedagang semi mandiri. Pemilihan responden ini dilakukan untuk melihat perbedaan modal sosial yang dimiliki oleh masing – masing group dan bagaimana mereka menggunakan stok dari modal sosial yang mereka punyai dalam proses migrasi dan mendapatkan pekerjaan di perkotaan dan juga bagaimana modal sosial ini berpengaruh dalam memperbaiki kehidupan mereka. Hasil dari studi menunjukkan bahwa pada umumnya responden memutuskan untuk migrasi karena kesulitan dalam kehidupan mereka, bencana alam seperti gempa bumi, perubahan dalam komposisi keluarga yang bisa disebabkan oleh kelahiran, kematian, pengangguran dan juga kondisi seasonal. Stok dari modal sosial menyediakan informasi tentang pekerjaan yang mendorong untuk migrasi. Informasi tentang pekerjaan pertama diperoleh dari saudara, keluarga, teman atau kerabat yang sudah melakukan migrasi terlebih dahulu membuat informasi pekerjaaan yang di terima relatif sama dan membuat mereka bekerja pada jenis pekerjaan yang sama seperti penarik becak, pedagang bakso maupun buruh bangunan. Studi menyimpulkan bahwa perbedaan tingkatan modal sosial mempunyai dampak pada mobilitas. Responden semi mandiri cenderung memiliki kesempatan yang lebih kecil untuk melakukan mobilitas bila di bandingkan dengan responden mandiri dan juragan, hal ini disebabkan karena rendahnya modal sosial yang mereka miliki. Selain itu kualitas dari modal sosial berhubungan dengan relasi/networks yang dimiliki oleh responden, semakin luas relasi yang di miliki cenderung untuk meningkatkan level dari modal sosial seseorang. Faktor – faktor lain yang juga berpengaruh untuk peningkatan modal sosial antara lain jangka waktu migrasi dan kerja dan juga keadaan keluarga dalam hal ini berhubungandengan anggota keluarga yang lain yang juga mencari nafkah dan kemampuan untuk menabung yang pada akhirnya akan mendorong untuk melakukan mobilitas. Lebih jauh studi ini juga menyimpulkan bahwa modal sosial ini tidak hanya mendorong mobilitas akan tetapi juga menghalangi mobilitas, hal ini berhubungan dengan ketidak mampuan individu untuk maju dan juga karena masalah modal/finansial.
Migration and Social Networks on Livelihood: A Study of Angkringan Seller in Yogyakarta City iv Summary Angkringan sellers are one kind of street vendors. Angkringan is a cart made of wood and trading using Angkringan is an easy way to earn a livelihood. Working as an Angkringan seller does not require any special educational qualifications or any particular skills - people with lower levels of education and or people without skills can engage in this type of business; even people with limited financial capital because the major general requirements to do this job is the willingness and the desire to work awkward hours. This research aims to understand the role of social network in the rural-urban migration regarding to find out the reason behind the decision to migration and its contribution to the process of employment creation and consequent promotion of mobility of Angkringan sellers who are originally from Klaten. Using semi structured interviews and qualitative study, data from respondents were collected. Three groups of respondents were selected - Juragan, owner operator and operator- with a view to assess the different kinds of social capital being possessed by each group and how they use their stock of social capital to supporting migration as well as accessing employment in urban areas and also promoting mobility. The results of the study with respect to migration shows that respondents generally decided to migrate because of changes in their household conditions, with the main cause of the changes in their household conditions being related to natural disasters (earth quake); changes in family composition as well as seasonality leading to decision to migration. The stock of social capital provides the possibility to migration and accessing jobs in the city. Most of respondents receive information about jobs and livelihoods from their kinships, relatives and co-villagers in their first period of migration which leads to work in the same job opportunity either in Angkringan business or in other informal sector business such as becak driver, meat ball seller or construction labour. In the second job majority are engaging in Angkringan business with the different use of social network depends on the level of respondent’s social capital. These networks also limited the possibility of Angkringan seller to access better job opportunities in the cities, most of respondents prefer to engage in this business because they only have access to this job. The study concluded that the different levels of social capital dictate the promotion of mobility. Operator respondents who mainly had low level of social capital tended to have limited access for mobility compared to owner operator and Juragan respondents who had high levels of social capital. Furthermore, the quality of the social capital related to the networks that respondents had – the extent of access to broader community such as the urban community tended to relate to the increased levels of one’s social capital. Other factors that impacts on social capital include duration of migration and duration of working. Moreover the status of family member in terms of generating income and savings equally leads to the possibility to mobility. This study further concluded that while social capital does support mobility, other factors which include personal disability and lack of financial support also restrict mobility.
Kata Kunci : Angkringan, migration, social capital, mobility, juragan