Asesmen Diri Pada Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) Batik Semarangan
Dina Christina Yuliarti, Bayu Sutikno, SE., MSM., Ph.D.
2013 | Tesis | S2 Magister ManajemenBatik semarangan, yang produksinya pernah dihentikan selama beberapa dekade setelah Perang Kemerdekaan 1945, kini diproduksi lagi oleh sejumlah UMKM di Kota Semarang, Provinsi Jawa Tengah. Kegiatan bisnis ini didukung oleh Pemerintah Kota Semarang yang telah memberikan bantuan pada setiap penyelenggaraan pelatihan membatik dan pameran. Pemkot Semarang juga telah memproyeksikan Kampung Batik Gedong sebagai sentra batik semarangan. Akan tetapi upaya tersebut tampaknya belum berhasil karena UMKM batik semarangan belum menunjukkan kinerja bisnis yang maksimal. Tujuan utama penelitian ini adalah untuk menganalisis aspek-aspek manajerial yang perlu diprioritaskan dalam rencana perbaikan kinerja bisnis UMKM batik semarangan melalui metode asesmen diri. Asesmen diri merupakan salah satu metode evaluasi yang digunakan untuk melakukan perbaikan berkelanjutan dalam konsep Total Quality Management (TQM). Dengan melakukan asesmen diri, suatu organisasi dapat mengidentifikasi kekuatannya dan aspek-aspek yang perlu diperbaiki. Asesmen diri biasanya diterapkan oleh perusahaan besar, namun jarang dijumpai pada perusahaan berskala mikro kecil dan menengah. Tools asesmen diri yang digunakan dalam penelitian merupakan gabungan dari European Foundation for Quality Management (EFQM) Excellence Model dan Trafford Park Small Business Evaluation and Support Service (TPSBESS) Model. Variabel yang diamati terdiri dari 9 variabel, yaitu kepemimpinan, strategi, sumber daya manusia, kemitraan dan sumberdaya, proses, produk, dan layanan, pelanggan dan pasar, masyarakat, hasil kinerja kunci, dan regulasi. Data diambil melalui metode survei dengan menyebarkan kuesioner kepada 6 responden. Responden penelitian adalah pemilik atau manajer UMKM batik semarangan. Analisis data dilakukan dengan tiga cara, yaitu analisis masing-masing variabel, analisis masing-masing perusahaan, dan analisis tabulasi silang. Analisis masingmasing variabel dilakukan melalui pendekatan deskriptif, berdasarkan nilai ratarata. Analisis masing-masing perusahaan dilakukan dengan membandingkan hasil asesmen diri dengan observasi yang dilakukan oleh peneliti. Adapun analisis tabulasi silang dilakukan melalui pendekatan deskriptif, berdasarkan distribusi frekuensi masing-masing variabel Hasil asesmen diri menunjukkan bahwa variabel masyarakat, regulasi, kepemimpinan, serta kemitraan dan sumber daya menempati urutan pertama, kedua, dan ketiga dalam prioritas perbaikan. Penulis mengamati bahwa sebagian besar responden belum memperhatikan aspek eksternal, terutama lingkungan, masyarakat, dan regulasi, karena berfokus terhadap kegiatan bisnis sehari-hari.
Batik semarangan, whose production had stopped for several decades after the War of Independence, 1945, are now produced again by several SMEs in Semarang, Central Java Province. The business activity is supported by Semarang City Government who have provided assistance in each batik training event and exhibition. The government has projected Kampung Batik Gedong as a center of batik semarangan. However, these efforts seem to succeeded yet because batik semarangan SMEs has not shown the maximum business performance. The main objective of this study was to analyze the managerial aspects that need to be prioritized in business performance improvement plan of batik semarangan SMEs through self-assessment method. Self-assessment is an evaluation method used to make continuous improvements in the concept of Total Quality Management (TQM). Through self-assessment, an organization can identify their strengths and aspects for improvement. Self-assessment is usually employed by large companies, but rarely found in small micro and medium enterprises. Self-assessment tools used in this research is an adaption and combination of the European Foundation for Quality Management (EFQM) Excellence Model and Trafford Park Small Business Evaluation and Support Service (TPSBESS) Model. Observed variables consist of 9 items, i.e. (1) leadership, (2) strategy, (3) human resources, (4) partnerships and resources, (5) processes, products, and services, (6) customers and market, (7) society, (8) key performance results, and (9) regulation. Data is obtained through survey by distributing questionnaires to six respondents. Respondents of this research are the owners or managers of SMEs. Data analysis is done in three ways: analysis of each variable, analysis of each company, and cross tabulation analysis. Analysis of each variable is done through descriptive approach, based on the average value. Analysis of each company is done by comparing self-assessment results to observation made by researcher. The cross tabulation analysis is done through descriptive approach, based on frequency distributions of each variable. Self-assessment results showed that regulation, leadership, and partnerships and resources rank first, second, and third in priority of improvements. The researcher observed that most respondents do not pay attention to external aspects, particularly environmental issues, image of responsible organization, and legal implications of day-to-day business operations.
Kata Kunci : asesmen diri, total quality management, EFQM Excellence Model