Laporkan Masalah

POLITIK REPRESENTASI PENARI GANDRUNG SEBAGAI MASKOT KAB. BANYUWANGI

RHIZA EKA PURWANTO, Dr. G.R. Lono Lastoro Simatupang, M.A

2013 | Tesis | S2 Kajian Budaya dan Media

Gandrung adalah pertunjukan tari pergaulan di kabupaten Banyuwangi. Pada masa awal kemunculan, gandrung berperan sebagai media perjuangan rakyat Blambangan melawan pihak kekuasan yang ingin menindas. Pentas gandrung menjadi kedok bagi para pejuang Blambangan untuk menyebarkan pesan dari Bupati Blambangan, menyebarkan semangat perlawanan, dan menghimpun bahan-bahan logistik. Perkembangan selanjutnya, ketika formasi sosial mulai berubah seiring dengan pembukaan lahan perkebunan di beberapa daerah di wilayah Banyuwangi, gandrung turut beradaptasi dalam dinamika tersebut. Komposisi masyarakat yang lebih heterogen dan majemuk, memacu gandrung mengubah pakem pertunjukan dari tari tontonan beralih menjadi tari pergaulan. Selain itu, gending-lagu dari Jawa dan Bali, mulai dipergunakan dalam pertunjukan gandrung. Pada kondisi demikian, gandrung lebih berperan sebagai media hiburan daripada perjuangan. Suku Using adalah suku yang dipercaya sebagai suku pribumi masyarakat Banyuwangi sekaligus keturunan dari masyarakat Blambangan. Keberadaan suku Using dalam rekam sejarah sampai sekarang lekat dengan label negatif sebagai bangsa pemberontak, suka melawan, sampai stigma dukun santet. Ditambah lagi, anggapan kebudayaan Jawa bahwa kebudayaan Using merupakan subbudaya dari budaya Jawa. Menanggapi anggapan tersebut, kolektif Using membantah dengan keras dengan menyatakan bahwa kebudayaan Using adalah kebudayaan tersendiri berbeda dengan kebudayaan Jawa. Hal-hal ini kemudian menjadikan kolektif Using merasa menjadi kaum marginal yang terusmenerus harus memperjuangkan keberadaan dan meneguhkan identitasnya. Pada 2000-2005, kolektif Using mendapatkan momentum kebangkitan dengan terpilihnya Samsul Hadi sebagai bupati Kabupaten Banyuwangi. Samsul Hadi adalah orang asli Using. Kebangkitan masyarakat Using semakin terlihat ketika Samsul Hadi mengeluarkan kebijakan Jenggirat Tangi yang bernuansa Using-sentris. Banyak pihak menilai program Jenggirat Tangi adalah politik identitas yang dijalankan oleh Samsul Hadi. Sebuah kebijakan politik dapat berpengaruh dalam perkembangan ekonomi. Begitu pula dengan Jenggirat Tangi pada akhirnya mempengaruhi sektor pariwisata. Salah satu rumusan dari program Jenggirat Tangi ialah menetapkan gandrung sebagai maskot pariwisata. Rumusan program ini berimplikasi pada pembentukan Akademi Gandrung dan pemancangan patung-patung gandrung. Dinamika sosial masyarakat terkait dengan pemberlakuan program Jenggirat Tangi dan penetapan gandrung sebagai maskot pariwisata, pada akhirnya akan berpengaruh pada posisi penari gandrung sendiri sebagai subjek. Di sini, gandrung sebagai subjek melakukan upaya adaptasi dan/atau berstrategi untuk tetap meneguhkan eksistensi mereka. Proses ini merupakan upaya politik representasi mereka. Dalam situasi demikian, gandrung dibedakan menjadi dua, yakni gandrung terob dan gandrung festival.

Gandrung is a social intercourse dance in Banyuwangi regency. At the beginning, gandrung as Blambangan citizenry’s struggle media to fight the authority which want to crush them.Gandrung performance/platform always be a mak of Blambangan warrior to propagate the regent’s message, struggle spirit, and gathering for the logistic materials. On the further development, while the social formation was starting over new along with opening the plantation area at some districts in Banyuwangi, gandrung is adapting to that dynamics. The society compotition which lean more heterogeneous and complex, make gandrung changes their show determinate from entertainment dance to the social intercourse dance. Moreover, Javanese and Balinese songs also use in gandrung’s performance. In this condition, gandrung have more role as an entertaintment media than the struggle. Using ethnic is ethnic which trusted as Banyuwangi indigene ethnic, generation of blambangan also. Existence of this ethnic in historical record is negative label identicaly as wriggle nation, fighter for everything, indeed the black magic shaman stigma, till now. Moreover for Javanese culture opinion says that Using is the javanese subculture. Perceive the judgment, Using collective say their disagreement loudly, and declare that Using culture is independent culture, and different with Javanese culture. Those things make Using collective feel be a marginal ethnic who have to struggle their existence and strengthen their identity more and more. On 2000-2005, Using ethnic had gotten their resurrection momentum when Samsul Hadi choosed as Banyuwangi’s regent. He is a native Using ethnic. Using’s resurrection be more visible when Samsul Hadi gave JenggiratTangi wisdom that Using-sentris nuance. So many directions judge the programme as a political identity run by Samsul Hadi. A political wisdom can be influence in economic development, we have the effect. Likewise JenggiratTangi can be influence the tourism sector also. One of Jenggirat Tangi plans programe is making Gandrung as a tourism mascot. This plan implicate to the gandrung academical foundation, and gandrung statues building. Finally, the social life dynamics interrelated to legalize of Jenggirat Tangi program and gandrung as a tourism mascot policy, will be influence to the gandrung dancer as a subject. Here, gandrung as a subject do their politics of representation effort. In this situation, gandrung distinguish by two kinds of its. They are: gandrung terob and gandrung festival.

Kata Kunci : gandrung, Jenggirat Tangi, politik representasi


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.