Laporkan Masalah

PENDEKATAN GEOEKOSISTEM UNTUK KAJIAN DAYA DUKUNG WILAYAH KEPESISIRAN DI KECAMATAN JAILOLO KABUPATEN HALMAHERA BARAT

Adrisal Hena, S.Pi., Dr. Langgeng Santosa, M.Si.

2013 | Tesis | S2 Magister Pengelolaan Lingkungan

Penelitian ini dilakukan di wilayah kepesisiran Kecamatan Jailolo Kabupaten Halmahera Barat Provinsi Maluku Utara. Tujuan dari penelitian ini adalah identifikasi potensi dan masalah, mengkaji daya dukung berdasarkan kesesuaian lahan, dan merumuskan strategi pengelolaan lingkungan di wilayah kepesisiran Kecamatan Jailolo. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan geoekosistem, yaitu pendekatan yang dapat menyatukan faktor-faktor lingkungan yang berpengaruh di wilayah kepesisiran. Metode dipakai adalah metode survei, teknik sampling menggunakan stratified random sampling, cara analisis menggunakan analisis kuantitatif, dan permodelan spasial menggunakan program aplikasi ArcGis versi 9,3 dan merumuskan strategi pengelolaan lingkungan dengan matriks dan zonasi spasial. Hasil penelitian didapati 15 satuan geoekosistem yang merupakan dasar dalam kajian penelitian ini. Dengan berpedoman pada indikator kunci dari survei cepat terintegrasi berhasil di identifikasi potensi yang terdiri, dari; potensi pertanian, mangrove, perikanan, tipe pantai, terumbu karang, dan pulau-pulau kecil, dan permasalahan yang teridentifikasi adalah erosi dan abrasi, longsor, penambang pasir marin, air minum, ekpsloitasi sumberdaya dan infrastruktur. Kajian daya dukung lingkungan (DDL) yang di ukur meliputi: DDL pertanian tanaman jeruk, cabai, jagung dan ubi jalar dengan kelas S1 dan S2; DDL wisata Pantai Marimbati dengan kelas S2, Pantai Idamdehe dengan kelas S1, Pantai Tuada dengan kelas S2; DDL rehabilitasi mangrove dengan kelas S1; DDL perikanan budidaya tambak dengan kelas S1, budidaya rumput laut dengan kelas S2 dan N; DDL budidaya terumbu karang dengan kelas S1, S2, dan S3; dan DDL budidaya keramba jaring apung dengan kelas S1, S2, dan N. Berdasarkan potensi, permasalahan dan daya dukung lingkungan (DDL) dari masing-masing satuan geoeskosistem, maka dapat dirumuskan strategi pengelolaan lingkungan, sebagai berikut. Satuan geoekosistem pesisir dan benting gisik dengan kebun campur dikembangkan budidaya jeruk dan jagung serta agrowisata. Satuan geoekosistem pesisir dan benting gisik dengan permukiman dikembangkan budidaya jeruk sebagai tanaman pekarangan. Satuan geoekosistem pesisir dengan rawa sagu dan mangrove untuk konservasi lahan dan ekowisata. Satuan geoekosistem pesisir dengan tambak dikembangkan budidaya tambak dan agrowisata. Satuan geoekosistem pantai dengan wisata pantai selain Pantai Idamdehe, Marimbati, dan Tuada dapat juga dikembangkan pada sumber mata air panas, dan pada beberapa areal harus ditetapkan sempadan pantai. Serta satuan geoekosistem zona pecah gelombang dengan tubuh air, terumbu karang, dan pulau-pulau kecil dapat ditetapkan kawasan konservasi dan dikembangkan ekowisata, budidaya perikanan terumbu karang, dan keramba jaring apung.

The current research was conducted in the coastal areas of Jailolo Subdistrict of West Halmahera regency, North Maluku province. It is aimed to identify the potential and problems, to assess the carrying capacity based on land suitability, and to formulate the environmental management strategies in coastal areas of Jailolo Subdistrict. This study employs a geoecosystem approach, an approach that unifies the environmental factors that affect the coastal areas. It uses the method of survey, stratified random sampling techniques, quantitative analysis, and spatial modeling using ArcGIS version 9.3 application software, and it formulated a strategy of environmental management using matrices and spatial zoning. The results found 15 units of geoecosystem which are the basis for this research study. Based on the key indicators of an integrated rapid survey, the following potentials have been identified; agricultural, mangrove, fishing, types of beaches, coral reefs and small islands. While the problems identified were erosion and abrasion, landslide, marine sand mining, water, resources and infrastructure exploitation. Environmental carrying capacity (ECC) examined includes: ECC of citrus crops, peppers, corn and sweet potatoes with S1 and S2 classes; ECC of Marimbati Coast with S2 class, Idamdehe Coast with S1 class, Tuada coast with S2 class; ECC of mangrove rehabilitation with S1 class; ECC of aquaculture ponds with S1 class, seaweed cultivation with S2 class and N; ECC of coral cultivation with S1, S2, and S3 classes, and ECC of floating net cages cultivation with S1, S2 classes, and N. Based on the potential, problems and environmental carrying capacity (EEC) of each geoescosystem unit, the environmental management strategies are formulated as follows. Coastal geoecosystem and beach ridge units with mixed garden are for citrus and maize cultivations and agro-tourisms. Coastal geoecosystem and beach ridge units with settlements are for citrus cultivation as garden plants. Coastal geoecosystem unit with sago swamps and mangroves is for land conservation and ecotourism. Coastal geoecosystem unit with ponds is for aquaculture and agro-tourism. Coastal geoecosystem unit with beach other than Idamdehe, Marimbati, and Tuada beaches can also be developed in the hot springs, and, in some areas, the borders of beach must be specified. And the geoecosystm unit of wave-breaking zone with the body of water, coral reefs and small islands can be designated as a conservation area and be developed as eco-tourism, as well as for aquaculture coral reefs and floating net cages.

Kata Kunci : geoekosistem, daya dukung, kesesuaian lahan, wilayah kepesisiran


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.