Laporkan Masalah

PENGARUH KEBIASAAN KONSUMSI MAKANAN KHAS DAERAH TERHADAP KEJADIAN HIPERTENSI DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS MINASA UPA MAKASSAR

A. Syamsiah Adha, Dr. dr. Budi Yuli Setianto, Sp.PD(K).Sp.JP(K)

2012 | Tesis | S2 Ilmu Kesehatan Masyarakat

Latar Belakang : Hipertensi merupakan kelainan kardiovaskular yang masih banyak dijumpai dalam masyarakat. Hasil RISKESDAS (Riset Kesehatan Dasar) 2007 menunjukkan proporsi hipertensi di Sulawesi Selatan pada pria 31,3% dan pada wanita 31,9%. Beberapa jenis kuliner setempat memang berbahan utama daging saja. Selain makanan yang berbahan dasar daging merah dan jeroan yang berisiko menyebabkan hipertensi terdapat pula makanan khas tradisional yang berasal dari bahan dasar ikan yang lebih menyehatkan. Tujuan Penelitian : Untuk mengetahui pengaruh antara kebiasaan konsumsi makanan khas daerah dengan kejadian hipertensi di wilayah kerja Puskesmas Minasa Upa Makassar Metode Penelitian : Jenis penelitian adalah observational dengan menggunakan rancangan case control. Penelitian dilakukan di wilayah kerja puskesmas Minasa Upa Makassar dengan jumlah sampel sebanyak 104 orang. Data yang dikumpulkan adalah data Identitas responden yang didapatkan dari formulir pendataan. Dan Data konsumsi makanan khas daerah berbahan dasar daging merah, ikan, natrium, kalium, kalsium dan magnesium yang diperoleh dari kuesioner semi quantitative food frequency questionare (SQFFQ) kemudian di olah dengan Nutrisurvey. Data diolah dan dianalisis menggunakan program software dengan uji regresi logistic berganda. Hasil penelitian : Melalui uji bivariat konsumsi daging merah yang berlebih mempunyai hubungan yang signifikan dengan kejadian hipertensi p 0,001 demikian halnya dengan konsumsi ikan dimana nilai p 0,030. Dengan uji multivariatpun konsumsi daging merah dan konsumsi ikan tetap berpengaruh terhadap kejadian hipertensi. Kesimpulan : Terdapat perbedaan jumlah konsumsi makanan khas daerah berbahan dasar daging merah dan berbahan dasar ikan di Puskesmas Minasa Upa Makassar. Konsumsi daging merah dalam jumlah berlebih dengan konsumsi ikan dalam jumlah yang cukup memiliki risiko yang cukup tinggi terhadap kejadian hipertensi.

Background: Hypertension is cardiovascular disorder commonly encountered in the community. The result of Basic Health Survey 2007 indicated that the proportion of hypertension at Sulawesi Selatan was 31.3% in male and 31.9% in female. Some culinary types of cuisine are mainly made from meat. Apart from red meat and entrails that bring risk to hypertension, there are some local specialty foods mainly made from fish that are good for health. Objective: To identify effect of the habit in consuming local specialty cuisine and to the incidence of hypertension at the working area of Minasa Upa Health Center Makassar. Method: The study was observational with case control design carried out at the working area of Minasa Upa Health Center Makassar involving 104 samples. Collected data comprised identity of respondents and consumption of local traditional cuisine made from red meat, fish, sodium, potassium, calcium and magnesium obtained from semi quantitative food frequency questionnaire (SQFFQ) that were processed using Nutrisurvey and analyzed using double logistic regression test. Result: The result of bivariate analysis showed that excessive consumption of red meat had significant association with the incidence of hypertension (p 0.001). Fish consumption also had significant association whereby p 0.030. The result of multivariate analysis showed that red meat and fish consumption affected the incidence of hypertension. Conclusion: There was difference in the quantity of consumption of local traditional cuisine made from red meat and fish at Minasa Upa Health Center Makassar. Excessive consumption of red meat and adequate consumption of fish had relatively high risk for the incidence of hypertension.

Kata Kunci : konsumsi makanan khas daerah berbahan dasar daging merah, konsumsi makanan khas berbahan dasar ikan, hipertensi


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.