Laporkan Masalah

IMPLEMENTASI PROGRAM PELAYANAN KESEHATAN PEDULI REMAJA (PKPR) DI PUSKESMAS (STUDI KASUS DI KABUPATEN SUMBAWA BARAT)

Lisari Cutia RS, Ibu Dra. Retna Siwi Padmawati, MA

2012 | Tesis | S2 Ilmu Kesehatan Masyarakat

Latar belakang: Pelayanan Kesehatan Peduli Remaja (PKPR) merupakan program pelayanan kesehatan yang ditujukan untuk remaja di puskesmas, dimana diharapkan mampu memberikan pelayanan paripurna kepada remaja untuk dapat mewujudkan \"remaja sehat\". Dengan remaja sehat secara paripurna, diharapkan terjadi penurunan AKI dan AKB. Meskipun dukungan pimpinan, rencana kerja dan standar pelayanan sudah disiapkan, dan jumlah puskesmas yang menyelenggarakan PKPR mengalami kenaikan namun implementasi program PKPR belum seperti yang diharapkan. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif dengan rancangan studi kasus yang mencoba menunjukkan implementasi program dari PKPR di Puskesmas Maluk tahun 2011. Subyek berjumlah 6 orang terdiri dari kepala Puskesmas Maluk, staf pemegang program PKPR, remaja, masyarakat yang memiliki anak remaja dan Kepala Bidang Pelayanan Kesehatan di Dinas Kesehatan Kabupaten Sumbawa Barat. Data diambil dengan cara observasi, dan wawancara mendalam dan observasi fasilitas pelayanan. Hasil: Kegiatan PKPR masih terbatas pada penyuluhan di sekolah dengan materi Kesehatan Reproduksi Remaja. Remaja yang datang ke Puskesmas belum mendapatkan pelayanan seperti alur model pelayanan PKPR Depkes. Akses remaja ke puskesmas terbentur dengan jam sekolah. Puskesmas belum melakukan pelatihan konselor sebaya. Belum ada alokasi dana yang cukup untuk kegiatan PKPR. Bahan-bahan penyuluhan masih kurang, belum ada form pelayanan, panduan konseling dan pedoman pelaksanaan, alat bantu pembelajaran edukatif dan transportasi serta ruangan pelayanan. Pemahaman petugas tentang program masih kurang. Tidak semua petugas bersikap youth friendly dan memiliki sikap yang positif terhadap pencapaian tujuan. Beban kerja petugas tinggi. Pengawasan hanya berupa pemeriksaan laporan. Kualitas laporan masih rendah. Forum kerjasama lintas sektoral belum digunakan untuk menggalang dukungan bagi terselenggaranya PKPR. Standar Operasional Prosedur dan Standar Pelayanan Minimal belum tersedia. Kesimpulan: Pelaksanaan program PKPR di Puskesmas belum memenuhi kriteria pelayanan remaja seperti yang ditetapkan Depkes RI karena belum adekuatnya dukungan dana, sarana prasarana, ketenagaan dan lemahnya kegiatan koordinasi dan struktur birokrasi. Oleh karena itu direkomendasikan untuk melanjutkan kebijakan PKPR modifikasi yang dapat diterima remaja baik dari sisi materi, waktu dan alur layanan yang dapat diterima.

Background: Adolescent health care service (PKPR health service) is a program devoted to teenagers in primary health center. It is expected to provide comprehensive services to teenagers to realize “healthy adolescent”, with healthy adolescent in plenary is expected to lower maternal mortality and infant mortality. Despite support the chief, the work plan and the standard of service have been prepared, and the number of primary health center who organizes PKPR increased but what programmed in the government yet fully could be applied to implementer unit. It showed that the implementation of the program PKPR not as expected. Methode: This study is a descriptive study by using case study design. The subjects are the head of ‘Maluk’ primary health center, young health care service implementer in primary health center, head of sublocal maternal and child health, the adolescent in secondary high scool, the drop out of student in primary health center area and community who have teenager in primary health center area. The location of this study is ‘Maluk’ primary health center area in West Sumbawa District. Results: PKPR activities is limited on counseling at school with matter adolescent reproductive health. Those teenagers that are coming to primary health center has not received service such as grooves model PKPR dept. of health service. Access adolescent to primary health center collide with school hours. Primary health center has not been able to provide a counselor grew up. There has been no allocation sufficient funds for the activities of PKPR. Materials counseling are still not enough there was not any form of service, a guide counseling, and on the guidelines of an auxiliary apparatus of learning to be instructive and transportation, as well as the room service. Understanding the officer about program is still lacking. Not all the officers be youth friendly and have a positive attitude towards the achievement of the goal. The burden of working officers high. Supervision only in the form of an examination of the report. The quality of the report is still low. Cooperation forum inter-sector not yet used to rally support for the organizing of pkpr. Standard operating procedures and minimum service standards are not available. Conclusion: Conclusion: Program execution pkpr in primary health center not fulfill the criteria service adolescent as established indonesian dept. of health. Contributors factor is inadequate yet funds support, infrastructure, energy activities and the lack of coordination and structure of the bureaucracy. Based on this research and recommended to continue the policy pkpr but be modified to be able to accomplish a purpose maximally.

Kata Kunci : Program PKPR, Remaja, Pelayanan Kesehatan, Puskesmas.


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.