PENOLAKAN KOALISI ORGANISASI NON-PEMERINTAH UNTUK KEAMANAN HAYATI DAN PANGAN TERHADAP PROGRAM PENANAMAN BENIH TRANSGENIK MONSANTO DI SULAWESI SELATAN
ASWIN BAHARUDDIN, Bapak Prof. Dr. Mohtar Mas’oed
2012 | Tesis | S2 Ilmu Politik/Hubungan InternasionalPenelitian ini berlatar polemik yang mengemuka saat pertama kali benih hasil rekayasa genetika (benih transgenik) dikomersialisasikan di Indonesia pada tahun 2001. Pilihan Pemerintah Indonesia (Kementerian Pertanian) untuk meningkatkan produktifitas pertanian nasional melalui kerjasama dengan Monsanto tersebut menuai gelombang protes dari kalangan Organisasi Non-Pemerintah (Ornop) yang hirau pada isu pelestarian lingkungan hidup yang kemudian mewadah dalam Koalisi Ornop untuk Keamanan Hayati dan Pangan. Koalisi Ornop ini menolak visi sekaligus metode pembangunan pemerintah yang dianggap mengesampingkan kepentingan petani dan pelestarian lingkungan hidup. Program penanaman benih transgenik tersebut kemudian menemui kegagalan dan dihentikan oleh pemerintah pada tahun 2003. Dengan menggunakan metode kualitatif yang dilakukan dengan telaah dokumen dan wawancara, penelitian ini berupaya menjelaskan aktifitas Koalisi Ornop dalam menolak program ini dan faktor-faktor yang menjadi penentu keberhasilan advokasi Koalisi Ornop ini. Untuk menjelaskan hal-hal di atas, penelitian ini menggunakan teori Antonio Gramsci tentang hegemony dan counter hegemony untuk menganalisa upaya kedua belah pihak, baik pendukung maupun penentang, dalam mencapai tujuannya melalui penggunaan gagasan atau aspek ideasional. Selain itu, penelitian ini juga menggunakan teori collective identity yang ditawarkan oleh Alberto Melucci untuk menganalisa bagaimana solidaritas Koalisi Ornop dapat terbentuk dan terjaga selama proses advokasi berlangsung. Penelitian ini kemudian menyimpulkan dan menemukan bahwa keberhasilan advokasi Koalisi Ornop dalam mengadvokasi permasalahan ini disebabkan oleh, pertama, keberhasilannya membentuk dan menyebarkan wacana kritis tentang program ini yang berbahaya bagi eksistensi manusia dan lingkungan serta wacana tentang ketidakadilan bagi petani dan publik dalam program ini. Wacana kritis tersebut disebarkan oleh Koalisi Ornop melalui media dan kalangan pers, seminar dan diskusi publik, gugatan hukum, pendidikan dan pendampingan petani serta melalui mobilisasi massa. Kedua, keberhasilannya memobilisasi dukungan dari berbagai pihak seperti Ornop, Kementerian Lingkungan Hidup, Ilmuwan dan jejaring internasional. Yang ketiga adalah temuan tentang peran identitas kolektif sebagai pihak yang mengartikulasikan kepentingan petani dan lingkungan dalam membentuk dan menjaga solidaritas aktor-aktor yang terlibat atau bekerjasama dalam Koalisi ini. Ketiga poin tersebutlah yang menjadi faktor yang menentukan keberhasilan Koalisi Ornop dalam melakukan counter hegemony terhadap pemerintah dan Monsanto sehingga mampu meyakinkan publik khususnya petani untuk menolak program penanaman benih transgenik ini.
This study set in a polemic that surfaced for the first time when genetically modified seeds (GMO seeds) commercialized in Indonesia in 2001. Government of Indonesia’s (Ministry of Agriculture) choice to improve national agricultural productivity through collaboration with Monsanto is reaping a massive protest from the Non-Government Organization (NGO) which concern with environmental conservations issues. This NGOs coalition called NGO Coalition for Biological Diversity and Food Safety. NGO Coalition rejects the government's development vision as well as methods that are considered override the interests of farmers and environmental preservation. This planting GM seeds Program is fail and stopped by the government in 2003. Using qualitative methods were performed with document review and interviews; the study seeks to explain the activities of the Coalition of NGOs in rejecting this program and factors that determines the success of this NGO coalition advocacy. To explain the above, this study uses the theory of Antonio Gramsci on hegemony and counter hegemony to analyze the efforts of both parties, both supporters and opponents, to achieve its goals through the use of ideas or ideational aspects. In addition, this study also uses the theory of collective identity which offered by Alberto Melucci to analyze how solidarity of NGO coalition can be formed and maintained throughout the advocacy process takes place. This study concluded and found the successful of NGO Coalition in advocating this issue is caused by three important factors. First, success to form and spread a critical discourse about the program is harmful to humans and the environment as well as the existence of discourse about injustice to farmers and the public in this program. Critical discourse propagated by the media and the NGO Coalition through the press, seminars and public discussions, lawsuits, education and advisory services to farmers as well as through mass mobilization. The second factor is NGO coalition success in mobilizing support and resource from various stakeholders such as NGOs, Ministry of Environment, Scientists and international networks. The third is the discovery of the role of collective identity as the party that articulates the interests of farmers and the environment in shaping and maintaining solidarity actors involved or collaborated in this Coalition. The three points is exactly a factor that determines the success of the Coalition of NGOs in conducting counter hegemony against the government and Monsanto so as to reassure the public especially farmers to reject GM seed this planting program.
Kata Kunci : Koalisi Ornop untuk Keamanan Hayati dan Pangan, Hegemoni, Identitas Kolektif, Benih Transgenik, Monsanto.