KASUS-KASUS LEPTOSPIROSIS DI PERBATASAN KABUPATEN BANTUL, SLEMAN, DAN KULON PROGO: ANALISIS SPASIAL
Maftuhah Nurbeti, Prof. dr. Hari Kusnanto, S.U., Dr. PH
2012 | Tesis | S2 Kesehatan Masyarakat/MMPKLatar Belakang: Leptospirosis merupakan masalah penting di Propinsi DIY karena status Kejadian Luar Biasa (KLB) telah ditetapkan di Kabupaten Sleman, Bantul, dan Kulon Progo. Daerah perbatasan antara ketiga kabupaten berperan penting dan memiliki kasus terbanyak. Penelitian ini bertujuan menganalisis penyebaran kejadian Leptospirosis di wilayah perbatasan tersebut dengan mengetahui distribusi penyakit, mengetahui adanya pengelompokan berdasarkan buffer jarak rumah kasus dengan sawah, sungai, dan jalan, mengetahui ada tidaknya cluster, serta mengamati pola difusi dan frekuensi penyakit dari waktu ke waktu. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian observasional dengan pendekatan epidemiologi spasial. Ke-327 subyek diperoleh secara consecutive sampling dari seluruh kasus yang dilaporkan di Dinas Kesehatan tahun 2009-2011 dan bertempat tinggal di Kecamatan Sedayu, Minggir, Moyudan, Godean, Sentolo, Nanggulan, dan Kali Bawang. Setelah penentuan titik koordinat, dilakukan analisis spasial deskriptif untuk menggambarkan wilayah sebaran penyakit Leptospirosis; analisis buffer jarak rumah dengan sawah, sungai dan jalan; menguji ada tidaknya pengelompokan; serta mengamati pola difusi dan frekuensi penyakit dari waktu ke waktu. Hasil: 1) Sebagian besar kasus tersebar berada pada wilayah distribusi lahan sawah, wilayah distribusi aliran sungai, dan curah hujan sedang (2000-2500 mm/tahun). Tidak terdapat pola penyebaran khusus pada overlay peta kasus dengan peta kepadatan penduduk, kepadatan KK miskin, ketinggian tempat, dan kepadatan ternak. 2) Analisis buffer menunjukkan adanya pengelompokan berdasarkan jarak rumah kasus dengan sawah, sungai, dan jalan. 3) Kasus di 7 kecamatan merupakan satu cluster. Daerah ini paling banyak dialiri oleh sungai besar dan kecil. Nilai pengelompokan tinggi terdapat di daerah dengan skor deprivasi tertinggi dan paling banyak dialiri aliran sungai. Ditemukan pula beberapa cluster penyakit Leptospirosis di tiap Kecamatan yang bersifat lintas kecamatan, lintas kabupaten, dan melintasi sungai. 4) Difusi kasus berjenis difusi ekspansi tipe menular. Terjadi pola musiman sesuai musim tanam dan awal musim hujan dan tren peningkatan kasus dari tahun ke tahun. Kesimpulan: Penyakit Leptospirosis di perbatasan Kabupaten Bantul, Sleman, dan Kulon Progo tidak menyebar melalui aliran sungai dari satu daerah ke daerah yang lain, tetapi sangat berhubungan dengan adanya daerah aliran sungai. Daerah penelitian yang merupakan cluster adalah daerah yang banyak dialiri oleh sungai sehingga lembab, kondusif sebagai lahan pertanian serta mendukung perkembangan tikus sawah dan pertumbuhan Leptospira. Perlu dilakukan langkah pencegahan, penanggulangan dan surveilans yang bersifat lintas sector dan terintegrasi antara wilayah-wilayah tersebut.
Background: Leptospirosis is an important issue in Yogyakarta Province. Outbreak status had set in Sleman, Bantul, and Kulonprogo District. The border areas between these three districts play an important role and have the most cases. This study aims to analyze the spread of Leptospirosis incidence in the border region by finding out the distribution of the disease; knowing cluster based on the buffer of distance from case’s home to rice fields, rivers, and roads; determining whether there is a cluster; as well as observing patterns of disease diffusion and frequency over time. Methods: This study was an observational study with spatial epidemiological approaches. Totaling 327 subjects obtained in consecutive sampling of all cases of Leptospirosis who were reported in District Health Office from 2009-2011 and living in the border areas of three sub-districts, namely Sedayu, Minggir, Moyudan, Godean, Sentolo, Nanggulan, and Kalibawang. After determining coordinate of the points, we performed a descriptive analysis to describe the spatial distribution of leptospirosis infection; a buffer analysis of distance between home and rice fields, rivers and roads; cluster analysis; and disease diffussion analysis and drawing curve of disease frequency over time. Results: 1) Most of the cases were distributed in the agricultural area, area drained by many river streams, and area with moderate rainfall (2000-2500 mm/year). There was no specific distribution pattern in overlay of cases map with maps of population density, density of poor households, altitude, and density of livestock. 2) Buffer analysis showed a cluster based on the distance between cases home with rice fields, rivers, and roads. 3) All cases in the seventh sub-district was one unit cluster. The area is the most widely drained by large and small rivers. Cluster score are higher in areas with the highest deprivation scores and has the most widely watershed. We found some Leptospirosis clusters which were across-district, across sub districts, and across the river. 4) Disease diffusion of Leptospirosis cases was an infectious type of expansion diffusion. There was a seasonal pattern according to the planting season and the beginning of the rainy season. There was a trend of increase in Leptospirosis cases from year to year. Conclusion: Leptospirosis disease in the border of Bantul, Sleman, and Kulonprogo District were not spread through the river from one region to another, but very much related to the watershed. Research area which is a cluster is an area drained by many rivers, so it become moist soils and conducive for farming and supports the development and growth of Leptospira and harvest mouse. Cross-sectoral and integrated surveillance, prevention measures, and control must be carried out.
Kata Kunci : Leptospirosis, Weil Disease, analisis spasial, distribusi spasial, cluster analysis, pengelompokan penyakit, faktor geografi.