PENGGUNAAN MINYAK JELANTAH SEBAGAI FAKTOR RISIKO HIPERTENSI DI KABUPATEN BANYUMAS
HENRIETTA IMELDA TONDONG, dr. Dewa Putu PramantaraS., Sp.PD., K-Ger.,
2012 | Tesis | S2 Ilmu Kesehatan MasyarakatLatar Belakang: Hipertensi merupakan penyakit tidak menular dengan jumlah kasus tertinggi di Kabupaten Banyumas. Prevalensi hipertensi di Kabupaten Banyumas sebesar 39,2%, lebih tinggi dari prevalensi hipertensi Provinsi Jawa Tengah. Penggunaan minyak jelantah telah membudaya di masyarakat Indonesia, terkait dengan kebiasaan mengkonsumsi makanan gorengan. Masyarakat Kabupaten Banyumas mempunyai kebiasaan mengkonsumsi makanan gorengan. Tujuan Penelitian: Membuktikan bahwa risiko kejadian hipertensi di Kabupaten Banyumas meningkat pada orang yang menggunakan minyak jelantah, serta mengukur besarnya risiko dari penggunaan minyak jelantah tersebut. Metode Penelitian: Jenis penelitian ini adalah analitik observasional dengan rancangan kasus kontrol, dan melakukan matching terhadap umur dan jenis kelamin. Jumlah sampel sebesar 308 orang, dengan perbandingan 154 kasus dan 154 kontrol. Kasus adalah pasien yang datang ke puskesmas, yang didiagnosis hipertensi (kasus baru), dan kontrol adalah pasien yang datang ke puskesmas, yang didiagnosis tidak hipertensi. Hasil: Analisis bivariabel menunjukkan penggunaan minyak jelantah merupakan faktor risiko dengan nilai OR=4,800 (CI 95%=2,958-7,789), dan p=0,000, asupan natrium OR=3,635 (CI 95%=2,271-5,819), dan p=0,000, obesitas OR=2,127 (CI 95%=1,342-3,373), dan p=0,001, dan aktifitas fisik OR=3,430 (CI 95%=2,148- 5,478), dan p=0,000. Analisa multivariabel menunjukkan penggunaan minyak jelantah merupakan faktor risiko yang paling dominan terhadap terjadinya hipertensi di Kabupaten Banyumas dengan nilai OR=4,003 (CI 95%=2,100- 9,102), dan sig=0,001. Kesimpulan: Penggunaan minyak jelantah akan meningkatkan risiko terhadap kejadian hipertensi, dan merupakan faktor risiko yang paling dominan terhadap kejadian hipertensi pada laki-laki dan perempuan berusia 18-60 tahun di Kabupaten Banyumas.
Background: Hypertension is a non communicable disease with the highest number of cases at District of Banyumas. The prevalence of hypertension at District of Kebumen is 39.2%, highest at the Province of Jawa Tengah. Reuse of cooking oil has become cultural part of the Indonesian community in relation to the habit of consuming fried foods. Banyumas district community has the habit of consuming fried foods. Objective: To find out risk factor of hypertension in people that reused cooking oil and assess the risk of reuse of cooking oil at District of Banyumas. Method: The study was analytic observational with case control design through matching of age and gender. Samples consisted of 308 people, 154 as cases (those visiting health center and diagnosed hypertensive) and 154 as control.(those visiting health center and not hypertensive). Results: The result of bivariate analysis showed that re-use of cooking oil was risk factor with score of OR=4.800 (CI 95%=2.958-7.789), and p=0.000, intake of sodium OR=3.635 (CI 95%=2.271-5.819), and p=0.000, obesity OR=2.127 (CI 95%=1.342-3.373), and p=0.001, and physical activity OR=3.430 (CI 95%=2.148-5.478), and p=0.000. The result of multivariate analysis showed reuse of cooking oil was the most dominant factor for the prevalence of hypertension at District of Banyumas with score of OR=4.003 (CI 95%=2.100-9.102), and sig=0.001. Conclusion: Reuse of cooking oil will increase the risk of incident hypertension, and is the most dominant risk factor for the incident of hypertension at District of Banyumas.
Kata Kunci : Minyak jelantah, faktor risiko, hipertensi, Kabupaten Banyumas.