Laporkan Masalah

ANALISIS PERTUMBUHAN DAN HASIL BEBERAPA KULTIVAR KEDELAI PADA KONDISI CEKAMAN KEKERINGAN

WIDASARI BUNGA, Prof. Dr. Ir. Didik Indradewa

2012 | Tesis | S2 Agronomi

Kedelai merupakan tanaman legum yang penting karena banyak digunakan sebagai bahan pangan dan industri. Permintaan kedelai semakin meningkat seiiring dengan bertambahnya jumlah penduduk. Keterbatasan areal tanam merupakan salah satu kendala dalam pengembangan kedelai. Peningkatan produksi kedelai dapat dilakukan melalui pengembangan di lahan marginal, diantaranya lahan kering. Identifikasi karakter morfofisiologis melalui pengamatan analisis pertumbuhan dan hasil dapat digunakan untuk menentukan kultivar kedelai toleran cekaman kekeringan. Penelitian bertujuan untuk mengidentifikasi kultivar kedelai yang tahan terhadap cekaman kekeringan berdasarkan analisis pertumbuhan dan hasil biji, serta menganalisis bagaimana hubungan antara analisis pertumbuhan dengan hasil biji pada kultivar kedelai yang memiliki tingkat ketahanan kekeringan berbeda. Penelitian telah dijalankan di Kebun Tridharma, Fakultas Pertanian, Universitas Gadjah Mada, Banguntapan, Bantul Yogyakarta, pada Januari sampai April 2012. Percobaan disusun dalam Rancangan Acak Kelompok Lengkap (RAKL) faktorial dengan 3 blok sebagai ulangan. Faktor pertama adalah kultivar kedelai yang terdiri atas 5 kultivar yaitu Wilis (toleran kekeringan), Tidar (toleran kekeringan), Gema (toleran kekeringan), Grobogan (peka) dan Argomulyo (peka). Faktor kedua adalah interval penyiraman terdiri dari 4 taraf yaitu interval penyiraman 1, 2, 4 dan 8 hari sekali. Hasil penelitian memberikan informasi bahwa kultivar Wilis, Tidar dan Gema merupakan kultivar yang lebih toleran terhadap kekeringan dibandingkan kultivar Grobogan dan Argomulyo berdasarkan karakter fisiologis dan pertumbuhan berupa status air tanah dan tanaman, jumlah daun, luas daun, bobot kering tajuk dan tanaman serta karakter hasil berupa bobot kering biji. Cekaman kekeringan juga menurunkan komponen pertumbuhan berupa tinggi tanaman, diameter batang, bobot kering daun, batang dan akar tanaman, lamanya luas daun, laju asimilasi bersih, laju pertumbuhan nisbi daun, batang dan tanaman, jumlah polong total dan polong isi per tanaman dan jumlah biji per tanaman. Pada kondisi tercekam kekeringan, nisbah akar tajuk tanaman akan lebih tinggi karena keterbatasan air menekan pertumbuhan tajuk, sedangkan pertumbuhan akar tidak terlalu terpengaruh. Tanaman juga meningkatkan bobot daun khas untuk menjaga status air tanaman serta mempercepat siklus hidupnya dengan cara mempercepat umur panen sebagai bentuk mekanisme ketahanan kekeringan.

Soybean is an important legume crop due to widely use as food and industrial ingredients. Soybean demand is increasing along with the increase of population. Limitation of the planting area is one of the obstacles in the development of soybean. Increased soybean production can be done through the development of soybean in the marginal land, such as dry land. Identification of morphophysiological characters through the observation of growth analysis and yield can be used to determine drought tolerant soybean cultivars. The research aims were to identify soybean cultivars that are resistant to drought stress based on the growth analysis and grain yield, and to analyze how the relationship between growth analysis and grain yield in soybean cultivars with different levels of drought resistance. The research was conducted at Tridharma Garden, Faculty of Agriculture, Gadjah Mada University, Banguntapan, Bantul, Yogyakarta in January - March 2012. The research was arranged in randomized complete block design factorial with three blocks as replication. The first factors were cultivars of soybean, namely: Willis (drought tolerant), Tidar (drought tolerant), Gema (drought tolerant), Grobogan (drought sensitive) and Argomulyo (drought sensitive). The second factors were watering interval, namely: 1, 2, 4 and 8 days. Drought stress treatment started at 24 days after planting. The results showed that Wilis, Tidar and Gema were the soybean cultivars that were more tolerant to drought stress than Grobogan and Argomulyo cultivars based on physiological characteristics and growth in the form of soil and plant water status, number of leaves, leaf area and dry weight of shoot, crop and grain. Drought stress also decreases the growth components such as plant height, stem diameter, dry weight of leaves, stems and roots, leaf area duration, net assimilation rate, relative growth rate of leaf, stem and crop, total number of pods per plant and number of seeds per plant. In the drought stress conditions, the root and shoot ratio will be higher when compared to under optimal conditions. Under drought stress conditions, the limited water suppresses the growth of the shoot, whereas root growth was less affected. Plants also increase the specific leaf weight due to maintain plants water status and accelerate the life cycle by accelerating harvest as a form of drought resistance mechanisms.

Kata Kunci : kedelai, cekaman kekeringan, kultivar, interval penyiraman, pertumbuhan, hasil


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.